Edisi Juni No. 27 Tahun 2006    


KORPS BARET MERAH
Di Usia Ke- 54


Sejarah Lahirnya Kopassus

Gagasan pembentukan Pasukan Komando merupakan jawaban dari tugas berat yang harus dihadapi berdasarkan pengalaman tugas berat dalam operasi tempur yang pernah dilakukan TNI AD terutama pada saat menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan tahun1949. Pada tanggal 25 April 1950 di Ambon telah diproklamasikan berdirinya Republik Maluku Selatan (RMS) dan menyatakan diri lepas dari Republik Indonesia Serikat. Tokohnya ialah MR.Dr. Soumokil, mantan Menteri Kehakiman Negara Indonesia Timur. Dengan mendapat dukungan dari mantan tentara KNIL yang pro Belanda, mereka mengadakan pemberontakan bersenjata terhadap pemerintah RIS yang sah.

Pemerintah telah berkali-kali berusaha untuk menyelesaikan pemberontakan itu melalui jalan damai, tetapi selalu menemui jalan buntu. Akhirnya pemerintah mengambil tindakan tegas untuk menumpas habis pemberontak itu. Tindakan pertama yang diambil adalah melakukan blokade atas kepulauan Maluku, yang kemudian disusul dengan gerakan-gerakan operasi militer. Pimpinan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) mengirimkan Batalyon Infanteri dengan dibantu oleh kesatuan-kesatuan Kavaleri, Artileri dan tidak ketinggalan pula dari Angkatan Laut RI (ALRI) dan Angkatan Udara RI (AURI).

Kekuatan RMS diperkirakan 3 Batalyon dengan persenjataan lengkap diantaranya Kompi mantan pasukan istimewa Belanda terkenal dengan sebutan Baret hijau dan Baret Merah merupakan pasukan inti RMS yang mereka andalkan. Sebagai pimpinan umum dalam operasi penumpasan ini ditunjuk Kolonel A.E.Kawilarang, Panglima Tentara & Teritorium Indonesia Timur, sedangkan sebagai Panglima Operasinya telah ditunjuk Letkol Ignatius Slamet Riyadi. Untuk pelaksanaan operasi, pasukan dibagi menjadi 3 grup. Grup1 dibawah pimpinan Mayor Achmad Wiranata Kusumah, Grup 2 dibawah pimpinan Letkol Ignatius Slamet Riyadi dan Grup 3 dibawah pimpinan Mayor Suryo Subandrio.

Tanggal 28 September 1950, di-lakukan pendaratan dibagian utara Pulau Ambon yang dipimpin langsung oleh Pimpinan Operasi Kolonel A.E.Kawilarang 5000 orang dan ini merupakan pengalaman pertama bagi APRI dalam melakukan tugas operasi gabungan. Pasukan RMS memberikan perlawanan yang sengit, terutama di daerah Waitatiri dan Poso. Dalam berbagai pertempuran, satuan-satuan kecil RMS sering berhasil mematahkan atau menggagalkan bahkan mengacaukan serangan APRI yang kekuatannya jauh lebih besar. Selain itu pasukan tersebut sering menimbulkan korban yang tidak sedikit di pihak APRI. Hal ini sangat menarik perhatian pimpinan umum operasi dan para komandan lainnya. Mereka menyaksikan sendiri keuletan serta keunggulan taktik dan tehnik dari pasukan inti RMS yang kecil tapi efektif.

Pasukan istimewa RMS tersebut telah berpengalaman dalam satuan Koprs Speciale Troopens (KST) atau terkenal dengan Koprs Baret Hijau Tentara Belanda, yang sebelum menyerahkan kedaulatan, basisnya berlokasi di Batujajar. Mereka bergabung dengan RMS selain mendapat hasutan dari Mr. Dr. Soumokil juga memang sejak penyerahan kedaulatan Kemerdekaan Republik Indonesia sudah tidak mau bergabung dengan TNI. Atas dasar pengalaman tugas operasi penumpasan RMS Letkol Ignatius Slamet Riyadi mempunyai keinginan untuk membentuk pasukan istimewa di dalam tubuh APRI. Keinginan itu disampaikannya kepada Pimpinan Umum Operasi Kolonel A.E. Kawilarang di atas sebuah bukit pertahanan dekat Kali Waitatiri antara Suli dan Poso dekat benteng Victoria dalam rangka observasi untuk melakukan operasi selanjutnya.

Akan tetapi niatnya tersebut tidak bisa dilaksa-nakan empat hari setelah kota Ambon diduduki Letkol Ignatius Slamet Riyadi tertembak dan gugur sebagai Kusuma Bangsa. Namun cita-citanya itu tidak turut gugur dan tidak berhenti di tengah jalan karena Kolonel A.E. Kawilarang telah meneruskan cita-citanya membentuk Pasukan Komando. Pada pertengahan bulan April diterbitkanlah Surat Instruksi Panglima Tentara Teritorium III/Siliwangi Nomor : 55/instr/PDS/1952 tanggal 16 April 1952 berhasil dibentuk satuan baru bernama : Kesatuan Komando TT.III/Siliwangi disingkat Kesko TT.III/Siliwangi. Sedangkan untuk komandannya telah diangkat Mayor Moch Idjon Djanbi dibantu oleh stafnya Lettu A.Marzuki Sulaeman, Lettu Hang Haryono, Plt.Arifin,Serma Trisno Yuwono, Koptu Suwarman dan Prada Rapi. Oleh karena Kesko TT.III/Siliwangi merupakan "Embrio"dari satuan Komando Pasukan Khusus Angkatan Darat, maka tanggal 16 April 1952 tersebut dijadikan sebagai hari jadinya Korps Baret Merah Kopassus TNI AD.

Patriotisme Sejati Tidak Kenal Menyerah
Kasad Jenderal TNI Djoko Santoso dalam amanatnya pada HUT Kopassus ke-54 di Cijantung mengatakan, Kopassus merupakan salah satu unsur kekuatan terpusat dari gelar kekuatan Tentara Nasional Indonesia, yang biasa digerakkan dalam unit-unit kecil tetapi mengemban tugas pada tingkat strategis, merupakan satuan khusus yang dimiliki republik ini yang kualitas profesionalnya teruji dan setara dengan pasukan-pasukan khusus negara-negara maju. Bahkan dalam beberapa hal, diakui bahwa prajurit-prajurit Kopassus memiliki kemampuan professional yang lebih baik dari pasukan-pasukan khusus negara-negara maju itu. Itulah sebabnya, dalam beberapa waktu belakangan, begitu banyak pasukan khusus dari negara-negara maju mengajak dan mengundang Kopassus untuk berlatih bersama, baik di dalam negeri maupun di luar negeri dan menawarkan kepada prajurit-prajurit Kopassus untuk mengikuti pendidikan di negaranya. "Citra, kepercayaan dan pengakuan terhadap kemampuan dan profesionalitas yang dimiliki Korps Baret Merah harus dijaga dan dipertanggungjawabkan secara terus menerus dengan berlatih, berlatih dan terus berlatih," kata Kasad.

Menyimak perkembangan lingkungan strategis yang disertai perubahan-perubahan yang tidak dapat diprediksi, sangat mungkin memunculkan bentuk ancaman baru yang non konvensional dan non tradisional. Untuk dapat meng-antisipasi bentuk ancaman baru itu, maka kesiapan operasional satuan Kopassus dan kesiapsiagaan setiap prajurit Kopassus merupakan tuntutan mutlak yang harus dipenuhi. Sepanjang pengabdiannya, Kopassus selalu bersikap "kapanpun dan di manapun trouble spot terjadi dan menuntut kehadiran prajurit Baret Merah, hanya ada satu kata, yaitu SELESAIKAN". Sikap itu adalah sikap patriotisme sejati yang harus terus ditanam dan ditumbuhkembangkan dalam jiwa, hati dan pikiran. Patriotisme sejati itu tidak mengenal menyerah, tidak ada kata tidak siap dan tidak ada pamrih lain selain mengabdi kepada persada ibu pertiwi, membela bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hal ini perlu mengingat tidak sedikit anasir-anasir yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri, baik yang dikendalikan oleh kekuatan non negara maupun negara yang mencoba mengusik kedaulatan dan keutuhan wilayah nusantara yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Kita tidak akan pernah membiarkan kedaulatan negara diusik oleh siapapun, dan itu tugas pokok prajurit-prajurit TNI untuk menghadapinya, baik secara konvensional maupun dengan melaksanakan konsep perang berlarut yang diakui keampuhannya dalam menghadapi sistem persenjataan modern yang dimiliki musuh sebagaimana dijalankan oleh para pendahulu bangsa.

Nama besar yang disandang Kopassus dengan catatan-catatan prestasi yang membanggakan itu, jangan menjadikan diri sombong, tinggi hati dan berperilaku arogan dan merasa paling hebat, tetapi tetap bersikap rendah hati, ramah tamah, setia, jujur dan berdisiplin tinggi karena jatidirimu adalah tentara rakyat, tentara pejuang dan tentara nasional yang profesional. Dengan sikap dan perilaku seperti itu, maka kecintaan dan rasa hormat serta rasa bangga masyarakat terhadap Kopassus akan tetap terpelihara dan bahkan akan semakin besar. Legitimasi sebagai satuan andalan jangan pernah kalian nodai dengan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, tetapi tampillah sebagaimana prajurit pengayom rakyat.

"Tegakkan disiplin, taati hukum dan jauhi pelanggaran-pelanggaran tata tertib dan bangun terus profesionalitas keprajuritan serta ciptakan kekuatan sinergis dengan rakyat melalui upaya-upaya membangun kemanunggalan TNI-Rakyat. Hadirlah dengan konsep organisasi pembelajar atau learning organization yang memungkinkan Kopassus senantiasa melakukan pembaharuan-pembaharuan untuk mewujudkan kemajuan yang berarti bagi satuan'," kata Kasad mengakhiri pengarahannya. Tema HUT Kopassus ke-54, Dengan Berlandaskan Disiplin, Profesionalisme dan Semangat Juang yang Tinggi, Prajurit Kopassus Siap Menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan menjiwai makna yang terkandung dalam tema tersebut prajurit Kopassus siap melindungi rakyat dan tanah air tercinta sesuai dengan mottonya, lebih baik pulang nama daripada gagal di medan laga.




 

 



 
     
     
     

 

Copyright ©2003 Dispenad, Jakarta-Indonesia. All rights reserved.
Webmaster: Dispenad.

Jalan Veteran Nomor 5 Jakarta Pusat