|
KORPS BARET MERAH
Di Usia Ke- 54
Sejarah
Lahirnya Kopassus
Gagasan pembentukan Pasukan Komando merupakan jawaban
dari tugas berat yang harus dihadapi berdasarkan pengalaman
tugas berat dalam operasi tempur yang pernah dilakukan
TNI AD terutama pada saat menumpas pemberontakan Republik
Maluku Selatan tahun1949. Pada tanggal 25 April 1950
di Ambon telah diproklamasikan berdirinya Republik Maluku
Selatan (RMS) dan menyatakan diri lepas dari Republik
Indonesia Serikat. Tokohnya ialah MR.Dr. Soumokil, mantan
Menteri Kehakiman Negara Indonesia Timur. Dengan mendapat
dukungan dari mantan tentara KNIL yang pro Belanda,
mereka mengadakan pemberontakan bersenjata terhadap
pemerintah RIS yang sah.
Pemerintah
telah berkali-kali berusaha untuk menyelesaikan pemberontakan
itu melalui jalan damai, tetapi selalu menemui jalan
buntu. Akhirnya pemerintah mengambil tindakan tegas
untuk menumpas habis pemberontak itu. Tindakan pertama
yang diambil adalah melakukan blokade atas kepulauan
Maluku, yang kemudian disusul dengan gerakan-gerakan
operasi militer. Pimpinan Angkatan Perang Republik Indonesia
(APRI) mengirimkan Batalyon Infanteri dengan dibantu
oleh kesatuan-kesatuan Kavaleri, Artileri dan tidak
ketinggalan pula dari Angkatan Laut RI (ALRI) dan Angkatan
Udara RI (AURI).
Kekuatan
RMS diperkirakan 3 Batalyon dengan persenjataan lengkap
diantaranya Kompi mantan pasukan istimewa Belanda terkenal
dengan sebutan Baret hijau dan Baret Merah merupakan
pasukan inti RMS yang mereka andalkan. Sebagai pimpinan
umum dalam operasi penumpasan ini ditunjuk Kolonel A.E.Kawilarang,
Panglima Tentara & Teritorium Indonesia Timur, sedangkan
sebagai Panglima Operasinya telah ditunjuk Letkol Ignatius
Slamet Riyadi. Untuk pelaksanaan operasi, pasukan dibagi
menjadi 3 grup. Grup1 dibawah pimpinan Mayor Achmad
Wiranata Kusumah, Grup 2 dibawah pimpinan Letkol Ignatius
Slamet Riyadi dan Grup 3 dibawah pimpinan Mayor Suryo
Subandrio.
Tanggal 28 September 1950, di-lakukan pendaratan dibagian
utara Pulau Ambon yang dipimpin langsung oleh Pimpinan
Operasi Kolonel A.E.Kawilarang 5000 orang dan ini merupakan
pengalaman pertama bagi APRI dalam melakukan tugas operasi
gabungan. Pasukan RMS memberikan perlawanan yang sengit,
terutama di daerah Waitatiri dan Poso. Dalam berbagai
pertempuran, satuan-satuan kecil RMS sering berhasil
mematahkan atau menggagalkan bahkan mengacaukan serangan
APRI yang kekuatannya jauh lebih besar. Selain itu pasukan
tersebut sering menimbulkan korban yang tidak sedikit
di pihak APRI. Hal ini sangat menarik perhatian pimpinan
umum operasi dan para komandan lainnya. Mereka menyaksikan
sendiri keuletan serta keunggulan taktik dan tehnik
dari pasukan inti RMS yang kecil tapi efektif.
Pasukan
istimewa RMS tersebut telah berpengalaman dalam satuan
Koprs Speciale Troopens (KST) atau terkenal dengan Koprs
Baret Hijau Tentara Belanda, yang sebelum menyerahkan
kedaulatan, basisnya berlokasi di Batujajar. Mereka
bergabung dengan RMS selain mendapat hasutan dari Mr.
Dr. Soumokil juga memang sejak penyerahan kedaulatan
Kemerdekaan Republik Indonesia sudah tidak mau bergabung
dengan TNI. Atas dasar pengalaman tugas operasi penumpasan
RMS Letkol Ignatius Slamet Riyadi mempunyai keinginan
untuk membentuk pasukan istimewa di dalam tubuh APRI.
Keinginan itu disampaikannya kepada Pimpinan Umum Operasi
Kolonel A.E. Kawilarang di atas sebuah bukit pertahanan
dekat Kali Waitatiri antara Suli dan Poso dekat benteng
Victoria dalam rangka observasi untuk melakukan operasi
selanjutnya.
Akan tetapi niatnya tersebut tidak bisa dilaksa-nakan
empat hari setelah kota Ambon diduduki Letkol Ignatius
Slamet Riyadi tertembak dan gugur sebagai Kusuma Bangsa.
Namun cita-citanya itu tidak turut gugur dan tidak berhenti
di tengah jalan karena Kolonel A.E. Kawilarang telah
meneruskan cita-citanya membentuk Pasukan Komando. Pada
pertengahan bulan April diterbitkanlah Surat Instruksi
Panglima Tentara Teritorium III/Siliwangi Nomor : 55/instr/PDS/1952
tanggal 16 April 1952 berhasil dibentuk satuan baru
bernama : Kesatuan Komando TT.III/Siliwangi disingkat
Kesko TT.III/Siliwangi. Sedangkan untuk komandannya
telah diangkat Mayor Moch Idjon Djanbi dibantu oleh
stafnya Lettu A.Marzuki Sulaeman, Lettu Hang Haryono,
Plt.Arifin,Serma Trisno Yuwono, Koptu Suwarman dan Prada
Rapi. Oleh karena Kesko TT.III/Siliwangi merupakan "Embrio"dari
satuan Komando Pasukan Khusus Angkatan Darat, maka tanggal
16 April 1952 tersebut dijadikan sebagai hari jadinya
Korps Baret Merah Kopassus TNI AD.
Patriotisme
Sejati Tidak Kenal Menyerah
Kasad Jenderal TNI Djoko Santoso dalam amanatnya pada
HUT Kopassus ke-54 di Cijantung mengatakan, Kopassus
merupakan salah satu unsur kekuatan terpusat dari gelar
kekuatan Tentara Nasional Indonesia, yang biasa digerakkan
dalam unit-unit kecil tetapi mengemban tugas pada tingkat
strategis, merupakan satuan khusus yang dimiliki republik
ini yang kualitas profesionalnya teruji dan setara dengan
pasukan-pasukan khusus negara-negara maju. Bahkan dalam
beberapa hal, diakui bahwa prajurit-prajurit Kopassus
memiliki kemampuan professional yang lebih baik dari
pasukan-pasukan khusus negara-negara maju itu. Itulah
sebabnya, dalam beberapa waktu belakangan, begitu banyak
pasukan khusus dari negara-negara maju mengajak dan
mengundang Kopassus untuk berlatih bersama, baik di
dalam negeri maupun di luar negeri dan menawarkan kepada
prajurit-prajurit Kopassus untuk mengikuti pendidikan
di negaranya. "Citra, kepercayaan dan pengakuan
terhadap kemampuan dan profesionalitas yang dimiliki
Korps Baret Merah harus dijaga dan dipertanggungjawabkan
secara terus menerus dengan berlatih, berlatih dan terus
berlatih," kata Kasad.
Menyimak
perkembangan lingkungan strategis yang disertai perubahan-perubahan
yang tidak dapat diprediksi, sangat mungkin memunculkan
bentuk ancaman baru yang non konvensional dan non tradisional.
Untuk dapat meng-antisipasi bentuk ancaman baru itu,
maka kesiapan operasional satuan Kopassus dan kesiapsiagaan
setiap prajurit Kopassus merupakan tuntutan mutlak yang
harus dipenuhi. Sepanjang pengabdiannya, Kopassus selalu
bersikap "kapanpun dan di manapun trouble spot
terjadi dan menuntut kehadiran prajurit Baret Merah,
hanya ada satu kata, yaitu SELESAIKAN". Sikap itu
adalah sikap patriotisme sejati yang harus terus ditanam
dan ditumbuhkembangkan dalam jiwa, hati dan pikiran.
Patriotisme sejati itu tidak mengenal menyerah, tidak
ada kata tidak siap dan tidak ada pamrih lain selain
mengabdi kepada persada ibu pertiwi, membela bangsa
dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Hal
ini perlu mengingat tidak sedikit anasir-anasir yang
berasal dari dalam maupun dari luar negeri, baik yang
dikendalikan oleh kekuatan non negara maupun negara
yang mencoba mengusik kedaulatan dan keutuhan wilayah
nusantara yang terbentang dari Sabang hingga Merauke.
Kita tidak akan pernah membiarkan kedaulatan negara
diusik oleh siapapun, dan itu tugas pokok prajurit-prajurit
TNI untuk menghadapinya, baik secara konvensional maupun
dengan melaksanakan konsep perang berlarut yang diakui
keampuhannya dalam menghadapi sistem persenjataan modern
yang dimiliki musuh sebagaimana dijalankan oleh para
pendahulu bangsa.
Nama
besar yang disandang Kopassus dengan catatan-catatan
prestasi yang membanggakan itu, jangan menjadikan diri
sombong, tinggi hati dan berperilaku arogan dan merasa
paling hebat, tetapi tetap bersikap rendah hati, ramah
tamah, setia, jujur dan berdisiplin tinggi karena jatidirimu
adalah tentara rakyat, tentara pejuang dan tentara nasional
yang profesional. Dengan sikap dan perilaku seperti
itu, maka kecintaan dan rasa hormat serta rasa bangga
masyarakat terhadap Kopassus akan tetap terpelihara
dan bahkan akan semakin besar. Legitimasi sebagai satuan
andalan jangan pernah kalian nodai dengan perbuatan-perbuatan
yang tidak terpuji, tetapi tampillah sebagaimana prajurit
pengayom rakyat.
"Tegakkan
disiplin, taati hukum dan jauhi pelanggaran-pelanggaran
tata tertib dan bangun terus profesionalitas keprajuritan
serta ciptakan kekuatan sinergis dengan rakyat melalui
upaya-upaya membangun kemanunggalan TNI-Rakyat. Hadirlah
dengan konsep organisasi pembelajar atau learning organization
yang memungkinkan Kopassus senantiasa melakukan pembaharuan-pembaharuan
untuk mewujudkan kemajuan yang berarti bagi satuan',"
kata Kasad mengakhiri pengarahannya. Tema HUT Kopassus
ke-54, Dengan Berlandaskan Disiplin, Profesionalisme
dan Semangat Juang yang Tinggi, Prajurit Kopassus Siap
Menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan menjiwai makna yang terkandung dalam tema tersebut
prajurit Kopassus siap melindungi rakyat dan tanah air
tercinta sesuai dengan mottonya, lebih baik pulang nama
daripada gagal di medan laga.
|