|
PENGANGKATAN
PANGKOSTRAD
MURNI PROFESIONALISME
Komando
Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) kembali
melakukan pergantian komandan Mayjen TNI Erwin Sudjona
yang sebelumnya Panglima Kodam VI/Tanjungpura dipercaya
pimpinan Angkatan Darat untuk menduduki posisi Panglima
Kostrad yang baru menggantikan Letjen TNI Hadi Waluyo
yang akan memasuki usia pensiun. Upacara serah terima
jabatan berlangsung di Markas Divisi 1 Kostrad Cilodong,
Bogor, Selasa (2/5) yang dipimpin Kasad Jenderal TNI
Djoko Santoso.
Usai
upacara Kasad mengatakan, bahwa penunjukan Mayjen TNI
Erwin Sudjono sebagai pangkostrad murni karena profesionalisme,
bukan nepotisme seperti yang santer terdengar akhir-akhir
ini. Mayjen
TNI Erwin Sudjono merupakan kakak ipar dari presiden
Susilo Bambang Yudhoyono adalah menantu dari almarhum
Letjen (Purn) Sarwo Edhi Wibowo. "Kita memilih
Pangkostrad sesuai proses dan track recordnya Pak Erwin
selama 30 tahun menjadi perwira, 24 tahun kariernya
dihabiskan di Kostrad ditambah dengan penugasan operasional
Mayjen TNI Erwin Sudjono ke luar negeri sebagai komandan
batalyon juga menjadi pertimbangan," kata Kasad.
Menurut
Kasad, tuduhan nepotisme seputar pengangkatan Pangkostrad
tidak berasalan. Pangangkatan pangkostrad adalah persoalan
internal TNI AD sehingga menjadi kewenangan dan tang-gungjawab
Kasad, apalagi jika dikait-kaitkan dengan pemilu 2009
berkaitan dengan kerabat dekat Presiden SBY. Kasad memberi
alasan, Mayjen TNI Erwin Sudjono pada awal 2008 akan
memasuki masa pensiun sehingga tidak relevan jika dikaitkan
pengangkatannya sebagai Pangkostrad untuk mengamankan
Presiden SBY pada pemilu 2009. "Zaman sekarang
berbeda dengan masa lalu dimana saat ini penuh dengan
transparasi. Masyarakat, media dan DPR bisa melakukan
kontrol setiap waktu dengan bebas. Kontrol silakan,
kami tetap bertekad pada matrik inteligensi dan profesionalitas.
Jadi jangan dihubungkan dengan yang lain, dan ini akan
saya pertanggungjawabkan. Jadi tidak ada alasan untuk
berpolemik," kata Kasad.
Kasad
dalam amanat tertulisnya juga mengatakan, rantai komando
harus ditegakkan dan dipegang teguh oleh segenap prajurit
Kostrad, sehingga terwujud loyalitas tegak lurus yang
jelas dan tegas. Dengan kesatuan komando yang kokoh,
tugas-tugas negara yang dipercayakan kepada Kostrad
niscaya akan dapat diselesaikan dengan baik, sebagaimana
dibuktikan secara konkrit selama ini, baik itu pada
kegiatan pembinaan di basis maupun pada pelaksanaan
tugas di daerah penugasan. Hal lain yang tidak kalah
pentingnya untuk diperhatikan adalah meningkatkan dan
memantapkan kemanunggalan TNI-Rakyat, yang merupakan
hal mendasar dan tidak dapat ditawar-tawar lagi. "Untuk
mampu meningkatkan dan memantapkan kemanunggalan TNI-Rakyat
itu, setiap prajurit harus senantiasa memahami aspirasi
yang berkembang dalam masyarakat. Oleh karenanya, diperlukan
kemauan dan kemampuan setiap prajurit untuk memahami
dinamika masyarakat dan perkembangan zaman," kata
Kasad.
Sementara
itu, ketika disinggung tentang rencana penambahan satu
lagi Divisi Kostrad di Papua, Kasad mengatakan rencana
itu tetap ada, tetapi belum dalam waktu dekat. Rencana
penambahan satu devisi itu sudah ada pada tahun 1980.
Kasad bernostalgia ketika beliau masih menjadi ajudan
pangkostrad. "Ketika itu rencana pengembangan Kostrad
disampaikan pada saat serah terima jabatan Pangkostrad
dari Mayjen TNI Ismail kepada Mayjen TNI Wiyogo. tetapi
sampai saya menjadi Kasad itu belum secuil pun ada.
Itu hanya perencanaan ke depan dan tergantung pada keuangan
negara'" tegas Kasad.
Diakui
Kasad, untuk mengembangkan Kostrad menjadi 3 Divisi
jelas dibutuhkan anggaran yang sangat besar. "Dananya
besar sekali. Satu Divisi itu ada 3 brigade Infanteri,
1 Resimen Armed dan 1 batalyon Kavaleri. Ada juga markas
divisi yang didukung oleh batalyon kesehatan, perbekalan
dan sebagainya. Jadi itu mahal sekali, baru perencanaan
internal saja," kata Kasad lagi. Ditanyakan lagi
apakah rencana pengembangan Kostrad itu terkait dengan
situasi Papua yang akhir-akhir ini memanas, kasad membantah
hal itu dan tidak ada kaitannya dengan situasi di Papua,
karena persoalan di Papua dapat ditangani oleh Kodam,
Polda dan aparat yang sudah disana," kata kasad.
|