|
KIPRAH
TNI AD DALAM PENANGANAN BENCANA GEMPA
DI YOGYA DAN JATENG
 Masih
segar dalam ingatan kita, ketika gempa bumi dan gelombang
tsunami memporak-poranda rumah, sekolah dan fasilitas
umum lainnya serta menelan korban hampir 200.000 jiwa
melanda Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, kini gempa
bumi tektonik kembali melanda Provinsi DI.Yogyakarta
dan Jateng tepatnya pada Sabtu pagi 27 Mei 2006. Di
saat warga masih tidur nyenyak dan mimpi indah, warga
Yogya dan sekitanya tersentak dengan goncangan gempa
bumi tektonik berkekuatan 5,9 skala richter yang menelan
korban lebih dari 5800 jiwa meninggal termasuk 3 prajurit,
2 Ibu Persit, 6 anak dari prajurit TNI AD serta menghancurkan
rumah lebih dari 560.000, luka-luka lebih dari 28.000,
sekolah 24 buah, tempat ibadah 40 buah, bahkan keraton,
candi Prambanan yang merupakan bangunan bersejarah tidak
luput dari amukan gempa.
Kepanikan,
kekalutan menghinggapi setiap warga menyaksikan rumah
idamannya hancur berkeping-keping ditambah dengan adanya
isu terjadinya gelombang tsunami menambah ketakutan
warga jangan-jangan isu itu benar, walaupun akhirnya
gelombang tsunami itu tidak terbukti. Gempa yang berlangsung
sekitar hampir 3 menit ini tidak pandang bulu mencari
korban baik muda dan tua mengingatkan kita mengapa musibah
belum mau beranjak dari Negara kita ? Indonesia menangis
lagi. Pemerintah, swasta, masyarakat dan TNI/Polri tanpa
dikomando langsung bereaksi untuk membantu saudara kita
yang terkena musibah. Bahkan Presiden SBY langsung terjun
ke tempat lokasi melihat bagaimana sesungguhnya akibat
dari amukan gempa tersebut. Tidak ketinggalan Negara
sahabat seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia,
Singapura dan masih banyak Negara lain langsung bersimpati
mengirimkan bantuan dan relawan untuk meringankan beban
saudara kita di Yogyakarta, Bantul dan sekitarnya.
TNI
sendiri tidak berdiam diri dengan kejadian tersebut,
bahkan Panglima TNI Djoko Suyanto langsung memerintahkan
jajarannya untuk mengerahkan bantuan dengan diturunkannya
5000 personel prajurit TNI ditambah dengan satu batalyon
Akmil Magelang tingkat akhir yang seharusnya menjalankan
latihan terintegrasi Taruna tingkat akhir di Makassar.
Pola operasi yang dilakukan TNI menurut Panglima penang-anannya
sama dengan yang dilakukan pada saat bencana gempa bumi
dan gelombang tsunami yang melanda Provinsi NAD. Tahap
pertama menurut Panglima TNI adalah tahap tanggap darurat
untuk menangani korban, kemudian mengevakuasi korban
jiwa agar bisa dimakamkan, menolong korban-korban yang
selamat dengan mendirikan rumah sakit darurat dan dapur
umum serta membangun pengungsian yang layak huni.
Kasad
Jenderal TNI Djoko Santoso juga langsung berangkat ke
Yogyakarta untuk melihat secara langsung akibat yang
ditimbulkan dari gempa bumi tersebut. Kasad langsung
memerintah prajurit TNI AD supaya segera mengevakuasi
korban dan mendirikan tenda-tenda pengungsian untuk
menampung para korban yang rumahnya hancur. Prajurit
TNI AD yang diterjunkan adalah tim Zeni, Peralatan,
Kesehatan, Kopassus, Bekang, Armed, Kavaleri, Kodim,
Batalyon dan Taruna Akmil Magelang yang disebar di Kab.Bantul,
Sleman, Gunung Kidul dan Kulon Progo.
Sementara
itu Wakil Kepala Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan
Bencana Gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah, Mayjen TNI
Sunarso yang juga merupakan Pangdam IV/Dip menyatakan
ratusan Taruna Akademi TNI dikerahkan untuk membantu
mengatasi kondisi pasca gempa. Para Taruna itu berasal
dari Akademi Angkatan Laut, Akademi Angkatan Udara dan
Akademi Militer, yang dikerahkan untuk membantu menanggulangi
bencana gempa yang terjadi di Yogyakarta. Mayjen TNI
Sunarso menyatakan konsentrasi dan prioritas utama mereka
adalah untuk membantu evakuasi jenazah yang masih terdapat
di antara reruntuhan dan penyaluran bahan bantuan yang
sejak Minggu (28/5) mulai terus berdatangan. Untuk meringankan
beban korban gempa bumi sebanyak lima ton makanan instan
dari Tentara Nasional Indonesia dan 300 kilogram obat-obatan
dari WHO dikirimkan ke Yogyakarta. Bantuan tersebut
diberangkatkan dari Base Operation Pangkalan Udara Halim
Perdana Kusuma, Jakarta Timur dengan menggunakan dua
buah Hercules dari Skuadron 31. "Terdapat juga
mobil ambulan dari Palang Merah Indonesia untuk membantu
proses evakuasi.
Untuk
mengantisipasi jumlah bantuan yang kian banyak mengalir,
TNI menyiagakan 6 buah pesawat terdiri dari 4 hercules,
1 pesawat CN235 dan 1 pesawar Fokker 27 untuk mengangkut
bantuan sosial dan relawan. Hingga saat ini bantuan
dari Negara tetangga yang sudah masuk ke Yogyakarta
terdata 2 sorties Hercules dari Malaysia, 5 sorties
dari Singapura yang terdiri dari 4 sorties Hercules
dan 1 sortier Fokker 50. As, Qatar, Arab Saudi dan Pakistan
juga mengirim 1 sorties Hercules. Bantuan itu jumlahnya
mencapai 95 ton yang terdiri dari makanan, obat-obatan,
makanan instant, biscuit, tenda, sarung, kantong mayat
dan alat-alat kesehatan.
Dengan mengalirnya bantuan ke Yogyakarta, Bantul, Klaten,
Magelang, Boyolali, Sleman dan sekitarnya sedikit banyak
dapat meringankan bebas saudara kita yang terkena musibah.
Kita satu bangsa, satu hati dan perasaan. Derita mereka
adalah derita kita. Semoga badai cepat berlalu dan kita
bergandeng tangan untuk menanti masa depan yang lebih
cerah.
|