Edisi Juni No. 27 Tahun 2006    


KIPRAH TNI AD DALAM PENANGANAN BENCANA GEMPA
DI YOGYA DAN JATENG

Masih segar dalam ingatan kita, ketika gempa bumi dan gelombang tsunami memporak-poranda rumah, sekolah dan fasilitas umum lainnya serta menelan korban hampir 200.000 jiwa melanda Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, kini gempa bumi tektonik kembali melanda Provinsi DI.Yogyakarta dan Jateng tepatnya pada Sabtu pagi 27 Mei 2006. Di saat warga masih tidur nyenyak dan mimpi indah, warga Yogya dan sekitanya tersentak dengan goncangan gempa bumi tektonik berkekuatan 5,9 skala richter yang menelan korban lebih dari 5800 jiwa meninggal termasuk 3 prajurit, 2 Ibu Persit, 6 anak dari prajurit TNI AD serta menghancurkan rumah lebih dari 560.000, luka-luka lebih dari 28.000, sekolah 24 buah, tempat ibadah 40 buah, bahkan keraton, candi Prambanan yang merupakan bangunan bersejarah tidak luput dari amukan gempa.

Kepanikan, kekalutan menghinggapi setiap warga menyaksikan rumah idamannya hancur berkeping-keping ditambah dengan adanya isu terjadinya gelombang tsunami menambah ketakutan warga jangan-jangan isu itu benar, walaupun akhirnya gelombang tsunami itu tidak terbukti. Gempa yang berlangsung sekitar hampir 3 menit ini tidak pandang bulu mencari korban baik muda dan tua mengingatkan kita mengapa musibah belum mau beranjak dari Negara kita ? Indonesia menangis lagi. Pemerintah, swasta, masyarakat dan TNI/Polri tanpa dikomando langsung bereaksi untuk membantu saudara kita yang terkena musibah. Bahkan Presiden SBY langsung terjun ke tempat lokasi melihat bagaimana sesungguhnya akibat dari amukan gempa tersebut. Tidak ketinggalan Negara sahabat seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, Singapura dan masih banyak Negara lain langsung bersimpati mengirimkan bantuan dan relawan untuk meringankan beban saudara kita di Yogyakarta, Bantul dan sekitarnya.

TNI sendiri tidak berdiam diri dengan kejadian tersebut, bahkan Panglima TNI Djoko Suyanto langsung memerintahkan jajarannya untuk mengerahkan bantuan dengan diturunkannya 5000 personel prajurit TNI ditambah dengan satu batalyon Akmil Magelang tingkat akhir yang seharusnya menjalankan latihan terintegrasi Taruna tingkat akhir di Makassar. Pola operasi yang dilakukan TNI menurut Panglima penang-anannya sama dengan yang dilakukan pada saat bencana gempa bumi dan gelombang tsunami yang melanda Provinsi NAD. Tahap pertama menurut Panglima TNI adalah tahap tanggap darurat untuk menangani korban, kemudian mengevakuasi korban jiwa agar bisa dimakamkan, menolong korban-korban yang selamat dengan mendirikan rumah sakit darurat dan dapur umum serta membangun pengungsian yang layak huni.

Kasad Jenderal TNI Djoko Santoso juga langsung berangkat ke Yogyakarta untuk melihat secara langsung akibat yang ditimbulkan dari gempa bumi tersebut. Kasad langsung memerintah prajurit TNI AD supaya segera mengevakuasi korban dan mendirikan tenda-tenda pengungsian untuk menampung para korban yang rumahnya hancur. Prajurit TNI AD yang diterjunkan adalah tim Zeni, Peralatan, Kesehatan, Kopassus, Bekang, Armed, Kavaleri, Kodim, Batalyon dan Taruna Akmil Magelang yang disebar di Kab.Bantul, Sleman, Gunung Kidul dan Kulon Progo.

Sementara itu Wakil Kepala Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana Gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah, Mayjen TNI Sunarso yang juga merupakan Pangdam IV/Dip menyatakan ratusan Taruna Akademi TNI dikerahkan untuk membantu mengatasi kondisi pasca gempa. Para Taruna itu berasal dari Akademi Angkatan Laut, Akademi Angkatan Udara dan Akademi Militer, yang dikerahkan untuk membantu menanggulangi bencana gempa yang terjadi di Yogyakarta. Mayjen TNI Sunarso menyatakan konsentrasi dan prioritas utama mereka adalah untuk membantu evakuasi jenazah yang masih terdapat di antara reruntuhan dan penyaluran bahan bantuan yang sejak Minggu (28/5) mulai terus berdatangan. Untuk meringankan beban korban gempa bumi sebanyak lima ton makanan instan dari Tentara Nasional Indonesia dan 300 kilogram obat-obatan dari WHO dikirimkan ke Yogyakarta. Bantuan tersebut diberangkatkan dari Base Operation Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur dengan menggunakan dua buah Hercules dari Skuadron 31. "Terdapat juga mobil ambulan dari Palang Merah Indonesia untuk membantu proses evakuasi.

Untuk mengantisipasi jumlah bantuan yang kian banyak mengalir, TNI menyiagakan 6 buah pesawat terdiri dari 4 hercules, 1 pesawat CN235 dan 1 pesawar Fokker 27 untuk mengangkut bantuan sosial dan relawan. Hingga saat ini bantuan dari Negara tetangga yang sudah masuk ke Yogyakarta terdata 2 sorties Hercules dari Malaysia, 5 sorties dari Singapura yang terdiri dari 4 sorties Hercules dan 1 sortier Fokker 50. As, Qatar, Arab Saudi dan Pakistan juga mengirim 1 sorties Hercules. Bantuan itu jumlahnya mencapai 95 ton yang terdiri dari makanan, obat-obatan, makanan instant, biscuit, tenda, sarung, kantong mayat dan alat-alat kesehatan. Dengan mengalirnya bantuan ke Yogyakarta, Bantul, Klaten, Magelang, Boyolali, Sleman dan sekitarnya sedikit banyak dapat meringankan bebas saudara kita yang terkena musibah. Kita satu bangsa, satu hati dan perasaan. Derita mereka adalah derita kita. Semoga badai cepat berlalu dan kita bergandeng tangan untuk menanti masa depan yang lebih cerah.




 

 



 
     
     
     

 

Copyright ©2003 Dispenad, Jakarta-Indonesia. All rights reserved.
Webmaster: Dispenad.

Jalan Veteran Nomor 5 Jakarta Pusat