|
Jenderal
TNI Ryamizard Ryacudu :
RAKYAT MINTA KOMANDO KEWILAYAHAN DIPERTAHANKAN
Mereka
( Rakyat, Gubernur dan DPRD) tanpa diminta datang sendiri
ke Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) supaya di daerah
mereka, Komando Kewilayahan dipertahankan dan bila perlu
jumlahnya diperbanyak dalam memonitor dan menjaga keamanan
wilayahnya. Mereka secara sukarela menyediakan tempat
dan sanggup menanggung biaya yang dibutuhkan demi terealisirnya
pembentukan Kodam, Korem, Kodim dan Koramil.
Hal
ini ditegaskan Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu
dalam acara silaturahmi Kasad dengan Purnawirawan TNI
Angkatan Darat se Jabotabek di Aula Jenderal Besar A.H
Nasution.
Melihat antusias rakyat, TNI AD akan memikirkan dan
sedapat mungkin memenuhi permintaan dari daerah yang
dianggap masih perlu penambahan Kowil tersebut. Tapi
secara keseluruhan sulit dipenuhi, karena dalam pembentukan
Kodam, Korem, Kodim dan Koramil memerlukam pemikiran
yang matang, daerah mana saja yang membutuhkan pengawasan
lebih terhadap situasi dan keamanan daerah yang rawan
konflik.
Jika melihat situasi nasional dimana terjadi kekacauan
yang pada akhirnya menyengsarakan rakyat pasti akan
berimbas kepada roda perekonomian yang tidak stabil.
Tapi yang paling merisaukan adalah disintegrasi bangsa
mulai terancam. Untuk menyikapi keadaan seperti ini
TNI Angkatan Darat akan melakukan pembenahan terhadap
personelnya tentang misi, persepsi dan interpretasi
yang sama di dalam menjaga keutuhan negara.
Kemampuan Intelijen harus ditingkatkan
Pembenahan
kembali TNI Angkatan Darat menurut pucuk Pimpinan TNI
AD ini meliputi, bidang pengamanan, yang mencakup intelijen
yang sesungguhnya sudah memprihatinkan, ibarat mata
dan telinga. Mata sudah rada-rada kabur dan telinga
belum dikatakan tuli tapi pendengarannya sudah kurang
dibandingkan dengan yang dulu. Sebetulnya intelijen
itu tidak pernah tua dan tidak pernah buta dan tuli.
Dulu intelijen kita sangat diakui luar negeri kehandalannya.
Itulah yang harus diciptakan kembali kehadirannya. Intelijen
harus tahu segala perkembangan di seluruh wilayah Indonesia,
termasuk Poso dan bagaimana mengatasi konflik tersebut,
sehingga tidak merebak ke daerah lain. Untuk meningkatkan
kemampuan intelijen, diadakan penataran terhadap personel
intelijen, sehingga jelas arah dan tujuan yang akan
dilaksanakan. Jaring-jaring intelijen yang selama ini
sudah putus atau hilang diperbaiki sehingga jelas kemana
arah dan tujuan agar dapat berfungsi dengan baik. Untuk
perbaikan intelijen ini memerlukan waktu dan kerja keras
untuk menghadirkan kembali intelijen yang solid dan
tangguh, tegas Kasad lagi.
Dalam Bidang Operasi Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu
menjelaskan, TNI AD menggelar kekuatannya secara tersebar
di Papua, Maluku, Maluku Utara, diperbatasan NTT, Poso
dan Aceh. Untuk di Papua menurut Kasad ada Satgas Rajawali,
Batalyon Infanteri (3 Batalyon), kemudian Satgas Cenderawasih,
Penerbad dan juga Satgas Intelijen. Dulu kita selalu
terbuka baik di Timor Timur maupun dimana saja nyata
betul ada satuan tugas intelijen.
Sekarang
tidak perlu menampilkan pola satuan tugas, tapi masuk
ke sana dan bekerja. Jadi nanti tidak ada lagi S00atgas
Rajawali di Papua. Kemudian di Maluku ada 3 Batalyon
Alteleri, karena memang untuk penanganan di Maluku dan
di Aceh itu lain. Di Aceh tugas pasukan itu mencari
gerombolan, sedangkan untuk di Ambon 0mengamankan saja,
jadi cukup dengan batalyon-batalyon Alteleri, sedangkan
Zipur untuk membangun kembali bangunan, Sandha dan Parako
ditugaskan sebagai pengukur, jelas Kasad.
Kasad
juga menjelaskan diperbatasan NTT atau Timur Barat ada
3 Batalyon Infanteri dan 1 Batalyon Pengamanan Dari
Polisi Militer dan Penerbad. Untuk Poso 1 unit dan 1
Kompi Sandhayudha, sedangkan di Aceh cukup banyak, antara
lain 3 Komando satgas, 2 Korem, 14 unit termasuk 3 unit
Detasemen Pemukul, kemudian Kompi Kavaleri dan Penerbad
dalam Gelar Operasi Daerah.
Sedangkan
masalah organisasi menurut Mantan Pangkostrad iniakan
dikembangkan menjadi organisasi pembentukan satuan tempur
satuan-satuan. Untuk di Papua akan direncanakan membentuk
3 Batalyon, sementara untuk tahun ini pada tahap pertama
1 Batalyon Infanteri dan 1 Detasemen Kavaleri, sementara
di Poso akan dikembangkan Batalyon infanteri. Selanjunya
di NTT perbatasan akan dibentuk 1 Batalyon karena di
sana sudah ada Batalyon 744 yang belum berfungsi dengan
baik. Untuk Aceh disiapkan 1 Batalyon awal dan dikembangkan
menjadi 3 Batalyon sehingga di Aceh ada 6 Batalyon Infanteri
organik Kodam Iskandar Muda. Dengan demikian pembinaan
teritorial dan intelijen bisa terlaksana dengan cepat.
Di Kalimantan tahun ini akan ditambah 1 Batalyon dan
tahap berikutnya 1 Batalyon sehingga akan ada 2 Batalyon
organik khusus menjaga daerah perbatasan.Hal ini disebabkan
karena daerah perbatasan rawan terhadap konflik, juga
orang yang keluar masuk wilayah Indonesia mendapat pengawasan
yang ketat. Mengenai pembentukan Komando Kewilayahan
atau Komando teritorial untuk kodam Iskandar Muda 1
batalyon, Kodam Pattimura juga ditambah 2 Korem karena
permintaan rakyat, Gubernur dan DPRD setempat. Mereka
datang ke Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) untuk meminta
tambahan Korem di sana.
Selanjutnya
pemekaran Kodim dan Koramil diperbatasan perlu, karena
pemekaran di sepanjang perbatasan baik di Irian, di
Timur Barat, di Kalimantan Timur, Kalimantan Barat akan
ditempatkan pos-pos pasukan yang selalu memonitor keadaan
dari gangguan pengacau dan pemberontak, tutur mantu
Mantan Wapres Try Sutrisno ini.
Satuan
Raider dan Mobil Udara
Sementara itu Kasad juga menjelaskan, untuk meningkatkan
kemampuan dan keterampilan, TNI AD akan melakukan latihan
secara terus-menerus guna membekali prajurit yang bertugas
di lapangan. Dalam waktu singkat ini akan dibentuk satuan
Raiders dan Mobil Udara. Jadi 8 Batalyon Pemukul Kodam
yang tadinya Lintas Udara dihapuskan dan diganti dengan
Raiders Kodam, sehingga nantinya tidak ada lagi Linud
100 tetapi 100 Raiders, 200 Raiders sampai 900 Raiders
ditambah 2 Batalyon dari Kostrad yang bukan Linud. Oleh
sebab itu sebelum terjun ke daerah penugasan prajurit
ini akan dilatih selama 3 bulan dengan mobil udara sehingga
Kodam-Kodam mempunyai pasukan pemukul yang bisa digerakkan
secara cepat di seluruh wilayah Kodam dan setelah itu
ke 10 Batalyon tersebut akan diuji coba di Aceh sambil
menumpas pemberontak, lanjut Kasad.
Untuk
latihan Pengintai Tempur akan dilaksanakan dengan cepat
sehingga ada 3 Tim Pengintai tempur di Aceh. Tiga Batalyon
yang selama ini bertugas di Aceh akan ditarik ke Kodam
I Bukit Barisan sebagai penyegaran dan akan dikonsolidasikan
supaya istirahat untuk menghilangkan rasa jenuh selama
bertugas di Aceh. Setelah 1 bulan beristirahat di Kodam
I Bukit Barisan akan dikembalikan ke satuannya masing-masing
di Aceh. Dengan demikian diharapkan mereka mempunyai
semangat baru, di samping menebalkan semangat kebangsaannya
biar tidak terpengaruh oleh lingkungan pergaulan, kata
Kasad menambahkan.
Penanganan
masalah Aceh menurut Kasad, masih menunggu petunjuk
dari pemerintah, sebab kalau mengacu pada pelanggaran
yang telah dilakukan GAM pasca jejak pendapat sudah
sekitar 265 kali pelanggaran. Anggota TNI yang gugur
2 orang, Polisi 2 orang, masyarakat 5, sedangkan yang
luka-luka TNI dari sebanyak 11 orang, polisi 3 orang
dan masyarakat 6 orang diculik. Jadi GAM belum ada itikad
baiknya untuk berdamai dengan RI. Sebagai contoh GAM
melaksanakan upacara pembukaan latihan militer GAM tingkat
dasar dan tingkat pemantapan. Peserta latihan tersebut
diikuti sebanyak 1040 anggota GAM. Jadi untuk menunggu
kebijakan selanjutnya dari pemerintah, TNI punharus
melakukan latihan di daerah Jati Luhur seluas 1000 Hektar,
di Sukabumi dengan luas 8000 Hektar dan di Sangga Buana
ada 270 Hektar sebagai imbangan daya tempur, demikian
tegas Kasad yang selalu antusias jika tengah bicara
masalah latihan bagi prajuritnya.
Dalam
Bidang Personel menurut Kasad kekuatan l tetap sama,
hanya satuan-satuan operasi diperbanyak, sedangkan unsur-unsur
pelayanan tidak terlalu banyak sehingga Tamtama dan
Bintara baru akan lebih diarahkan ke satuan-satuan tempur
dan Banpur. Jika melihat dari persentase kekuatan TNI
AD saat ini, dimana satuan yang bergerak hanya 30 %
dan satuan yang tidak bergerak sekitar 70 %. Sebagai
peyeimbangan maka Satuan bergerak dan tidak bergerak
tersebut diselaraskan dalam penugasan sehingga terjadi
pemerataan personel di seluruh wilayah Indonesia, tegasnya.
Berlanjut
ke pembinaan karier bahwa pendidikan Lemhanas bukan
syarat mutlak untuk mejadi yang tertinggi, demikian
juga sebaliknya walaupun tidak Lemhanas kalau memiliki
kemampuan dan prestasi kerja yang baik, maka tetap akan
mendapat kesempatan untuk lebih tinggi lagi. Pendidikan
ke luar negeri terutama ke Amerika dan Australia untuk
sementara dihentikan berkaitan dengan hubungan ke kedua
negara kurang kondusif.
Kemudian bidang logistik untuk tahun ini TNI AD telah
membeli 2 buah heli dari Thailand yang kondisinya lebih
baru dari heli TNI AD sekarang. Demikian juga halnya
TNI AD juga membeli heli dari Rusia yang diharapkan
selesai 7-8 bulan lagi. Sedangkan kendaraan-kendaraan
untuk Paban diperbaharui walaupun dibeli bekas, sama
halnya dengan pembelian kapal, tegas Kasad.
Untuk
bidang teritorial akan disosialisasikan Binter tersebut
sampai prajurit tingkat bawah termasuk Babinsa mengenai
informasi yang dilaksanakan TNI AD. Dengan demikian
akan tercipta TNI AD yang solid, profesional, tangguh
dan berwawasan kebangsaan serta dicintai rakyat. TNI
yang solid yaitu selalu menjaga kekompakan luar dalam,
satu orang sakit semua merasakan sakit. Situasi seperti
ini harus dipelihara dan ditumbuhkembangkan dalam sanubari
setiap prajurit, tutur Kasad lagi.
Wawasan
kebangsaan yang intinya Prajurit harus memahami dan
menghayati bahwa dia adalah tentara rakyat, tentara
pejuang dan tentara nasional. Tidak ada dalam kamus
bahwa ada tentara Aceh, tentara Sumatera, tentara Jawa,
tentara Kalimantan, tentara Sulawesi dan tentara Irian.
Yang ada hanya Tentara nasional Indonesia.
Penekanan terhadap pentingnya nilai-nilai kebangsaan
kepada seluruh prajurit dan keluarganya tetap dipelihara,
dengan demikian TNI dapat dijadikan contoh dan teladan
sebagai tempat bertumbuhnya rasa kebangsaan, karena
dalam mengamankan wilayah Republik tercinta ini, sudah
menjadi tugas pokok TNI. Dengan segala keterbatasan
dan kekurangan persenjataan yang dimiliki, TNI tetap
mengoptimalkan persenjataan yang ada dalam mempertahankan
NKRI dari gangguan pengacau baik dari dalam maupun dari
luar negeri, kata Kasad menambahkan. ( Luther )
|