Edisi Oktober 2003    

Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu :
RAKYAT MINTA KOMANDO KEWILAYAHAN DIPERTAHANKAN

Mereka ( Rakyat, Gubernur dan DPRD) tanpa diminta datang sendiri ke Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) supaya di daerah mereka, Komando Kewilayahan dipertahankan dan bila perlu jumlahnya diperbanyak dalam memonitor dan menjaga keamanan wilayahnya. Mereka secara sukarela menyediakan tempat dan sanggup menanggung biaya yang dibutuhkan demi terealisirnya pembentukan Kodam, Korem, Kodim dan Koramil.

Hal ini ditegaskan Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu dalam acara silaturahmi Kasad dengan Purnawirawan TNI Angkatan Darat se Jabotabek di Aula Jenderal Besar A.H Nasution.
Melihat antusias rakyat, TNI AD akan memikirkan dan sedapat mungkin memenuhi permintaan dari daerah yang dianggap masih perlu penambahan Kowil tersebut. Tapi secara keseluruhan sulit dipenuhi, karena dalam pembentukan Kodam, Korem, Kodim dan Koramil memerlukam pemikiran yang matang, daerah mana saja yang membutuhkan pengawasan lebih terhadap situasi dan keamanan daerah yang rawan konflik.
Jika melihat situasi nasional dimana terjadi kekacauan yang pada akhirnya menyengsarakan rakyat pasti akan berimbas kepada roda perekonomian yang tidak stabil. Tapi yang paling merisaukan adalah disintegrasi bangsa mulai terancam. Untuk menyikapi keadaan seperti ini TNI Angkatan Darat akan melakukan pembenahan terhadap personelnya tentang misi, persepsi dan interpretasi yang sama di dalam menjaga keutuhan negara.
Kemampuan Intelijen harus ditingkatkan

Pembenahan kembali TNI Angkatan Darat menurut pucuk Pimpinan TNI AD ini meliputi, bidang pengamanan, yang mencakup intelijen yang sesungguhnya sudah memprihatinkan, ibarat mata dan telinga. Mata sudah rada-rada kabur dan telinga belum dikatakan tuli tapi pendengarannya sudah kurang dibandingkan dengan yang dulu. Sebetulnya intelijen itu tidak pernah tua dan tidak pernah buta dan tuli. Dulu intelijen kita sangat diakui luar negeri kehandalannya. Itulah yang harus diciptakan kembali kehadirannya. Intelijen harus tahu segala perkembangan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Poso dan bagaimana mengatasi konflik tersebut, sehingga tidak merebak ke daerah lain. Untuk meningkatkan kemampuan intelijen, diadakan penataran terhadap personel intelijen, sehingga jelas arah dan tujuan yang akan dilaksanakan. Jaring-jaring intelijen yang selama ini sudah putus atau hilang diperbaiki sehingga jelas kemana arah dan tujuan agar dapat berfungsi dengan baik. Untuk perbaikan intelijen ini memerlukan waktu dan kerja keras untuk menghadirkan kembali intelijen yang solid dan tangguh, tegas Kasad lagi.
Dalam Bidang Operasi Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu menjelaskan, TNI AD menggelar kekuatannya secara tersebar di Papua, Maluku, Maluku Utara, diperbatasan NTT, Poso dan Aceh. Untuk di Papua menurut Kasad ada Satgas Rajawali, Batalyon Infanteri (3 Batalyon), kemudian Satgas Cenderawasih, Penerbad dan juga Satgas Intelijen. Dulu kita selalu terbuka baik di Timor Timur maupun dimana saja nyata betul ada satuan tugas intelijen.

Sekarang tidak perlu menampilkan pola satuan tugas, tapi masuk ke sana dan bekerja. Jadi nanti tidak ada lagi S00atgas Rajawali di Papua. Kemudian di Maluku ada 3 Batalyon Alteleri, karena memang untuk penanganan di Maluku dan di Aceh itu lain. Di Aceh tugas pasukan itu mencari gerombolan, sedangkan untuk di Ambon 0mengamankan saja, jadi cukup dengan batalyon-batalyon Alteleri, sedangkan Zipur untuk membangun kembali bangunan, Sandha dan Parako ditugaskan sebagai pengukur, jelas Kasad.

Kasad juga menjelaskan diperbatasan NTT atau Timur Barat ada 3 Batalyon Infanteri dan 1 Batalyon Pengamanan Dari Polisi Militer dan Penerbad. Untuk Poso 1 unit dan 1 Kompi Sandhayudha, sedangkan di Aceh cukup banyak, antara lain 3 Komando satgas, 2 Korem, 14 unit termasuk 3 unit Detasemen Pemukul, kemudian Kompi Kavaleri dan Penerbad dalam Gelar Operasi Daerah.

Sedangkan masalah organisasi menurut Mantan Pangkostrad iniakan dikembangkan menjadi organisasi pembentukan satuan tempur satuan-satuan. Untuk di Papua akan direncanakan membentuk 3 Batalyon, sementara untuk tahun ini pada tahap pertama 1 Batalyon Infanteri dan 1 Detasemen Kavaleri, sementara di Poso akan dikembangkan Batalyon infanteri. Selanjunya di NTT perbatasan akan dibentuk 1 Batalyon karena di sana sudah ada Batalyon 744 yang belum berfungsi dengan baik. Untuk Aceh disiapkan 1 Batalyon awal dan dikembangkan menjadi 3 Batalyon sehingga di Aceh ada 6 Batalyon Infanteri organik Kodam Iskandar Muda. Dengan demikian pembinaan teritorial dan intelijen bisa terlaksana dengan cepat. Di Kalimantan tahun ini akan ditambah 1 Batalyon dan tahap berikutnya 1 Batalyon sehingga akan ada 2 Batalyon organik khusus menjaga daerah perbatasan.Hal ini disebabkan karena daerah perbatasan rawan terhadap konflik, juga orang yang keluar masuk wilayah Indonesia mendapat pengawasan yang ketat. Mengenai pembentukan Komando Kewilayahan atau Komando teritorial untuk kodam Iskandar Muda 1 batalyon, Kodam Pattimura juga ditambah 2 Korem karena permintaan rakyat, Gubernur dan DPRD setempat. Mereka datang ke Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) untuk meminta tambahan Korem di sana.

Selanjutnya pemekaran Kodim dan Koramil diperbatasan perlu, karena pemekaran di sepanjang perbatasan baik di Irian, di Timur Barat, di Kalimantan Timur, Kalimantan Barat akan ditempatkan pos-pos pasukan yang selalu memonitor keadaan dari gangguan pengacau dan pemberontak, tutur mantu Mantan Wapres Try Sutrisno ini.

Satuan Raider dan Mobil Udara
Sementara itu Kasad juga menjelaskan, untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan, TNI AD akan melakukan latihan secara terus-menerus guna membekali prajurit yang bertugas di lapangan. Dalam waktu singkat ini akan dibentuk satuan Raiders dan Mobil Udara. Jadi 8 Batalyon Pemukul Kodam yang tadinya Lintas Udara dihapuskan dan diganti dengan Raiders Kodam, sehingga nantinya tidak ada lagi Linud 100 tetapi 100 Raiders, 200 Raiders sampai 900 Raiders ditambah 2 Batalyon dari Kostrad yang bukan Linud. Oleh sebab itu sebelum terjun ke daerah penugasan prajurit ini akan dilatih selama 3 bulan dengan mobil udara sehingga Kodam-Kodam mempunyai pasukan pemukul yang bisa digerakkan secara cepat di seluruh wilayah Kodam dan setelah itu ke 10 Batalyon tersebut akan diuji coba di Aceh sambil menumpas pemberontak, lanjut Kasad.

Untuk latihan Pengintai Tempur akan dilaksanakan dengan cepat sehingga ada 3 Tim Pengintai tempur di Aceh. Tiga Batalyon yang selama ini bertugas di Aceh akan ditarik ke Kodam I Bukit Barisan sebagai penyegaran dan akan dikonsolidasikan supaya istirahat untuk menghilangkan rasa jenuh selama bertugas di Aceh. Setelah 1 bulan beristirahat di Kodam I Bukit Barisan akan dikembalikan ke satuannya masing-masing di Aceh. Dengan demikian diharapkan mereka mempunyai semangat baru, di samping menebalkan semangat kebangsaannya biar tidak terpengaruh oleh lingkungan pergaulan, kata Kasad menambahkan.

Penanganan masalah Aceh menurut Kasad, masih menunggu petunjuk dari pemerintah, sebab kalau mengacu pada pelanggaran yang telah dilakukan GAM pasca jejak pendapat sudah sekitar 265 kali pelanggaran. Anggota TNI yang gugur 2 orang, Polisi 2 orang, masyarakat 5, sedangkan yang luka-luka TNI dari sebanyak 11 orang, polisi 3 orang dan masyarakat 6 orang diculik. Jadi GAM belum ada itikad baiknya untuk berdamai dengan RI. Sebagai contoh GAM melaksanakan upacara pembukaan latihan militer GAM tingkat dasar dan tingkat pemantapan. Peserta latihan tersebut diikuti sebanyak 1040 anggota GAM. Jadi untuk menunggu kebijakan selanjutnya dari pemerintah, TNI punharus melakukan latihan di daerah Jati Luhur seluas 1000 Hektar, di Sukabumi dengan luas 8000 Hektar dan di Sangga Buana ada 270 Hektar sebagai imbangan daya tempur, demikian tegas Kasad yang selalu antusias jika tengah bicara masalah latihan bagi prajuritnya.

Dalam Bidang Personel menurut Kasad kekuatan l tetap sama, hanya satuan-satuan operasi diperbanyak, sedangkan unsur-unsur pelayanan tidak terlalu banyak sehingga Tamtama dan Bintara baru akan lebih diarahkan ke satuan-satuan tempur dan Banpur. Jika melihat dari persentase kekuatan TNI AD saat ini, dimana satuan yang bergerak hanya 30 % dan satuan yang tidak bergerak sekitar 70 %. Sebagai peyeimbangan maka Satuan bergerak dan tidak bergerak tersebut diselaraskan dalam penugasan sehingga terjadi pemerataan personel di seluruh wilayah Indonesia, tegasnya.

Berlanjut ke pembinaan karier bahwa pendidikan Lemhanas bukan syarat mutlak untuk mejadi yang tertinggi, demikian juga sebaliknya walaupun tidak Lemhanas kalau memiliki kemampuan dan prestasi kerja yang baik, maka tetap akan mendapat kesempatan untuk lebih tinggi lagi. Pendidikan ke luar negeri terutama ke Amerika dan Australia untuk sementara dihentikan berkaitan dengan hubungan ke kedua negara kurang kondusif.
Kemudian bidang logistik untuk tahun ini TNI AD telah membeli 2 buah heli dari Thailand yang kondisinya lebih baru dari heli TNI AD sekarang. Demikian juga halnya TNI AD juga membeli heli dari Rusia yang diharapkan selesai 7-8 bulan lagi. Sedangkan kendaraan-kendaraan untuk Paban diperbaharui walaupun dibeli bekas, sama halnya dengan pembelian kapal, tegas Kasad.

Untuk bidang teritorial akan disosialisasikan Binter tersebut sampai prajurit tingkat bawah termasuk Babinsa mengenai informasi yang dilaksanakan TNI AD. Dengan demikian akan tercipta TNI AD yang solid, profesional, tangguh dan berwawasan kebangsaan serta dicintai rakyat. TNI yang solid yaitu selalu menjaga kekompakan luar dalam, satu orang sakit semua merasakan sakit. Situasi seperti ini harus dipelihara dan ditumbuhkembangkan dalam sanubari setiap prajurit, tutur Kasad lagi.

Wawasan kebangsaan yang intinya Prajurit harus memahami dan menghayati bahwa dia adalah tentara rakyat, tentara pejuang dan tentara nasional. Tidak ada dalam kamus bahwa ada tentara Aceh, tentara Sumatera, tentara Jawa, tentara Kalimantan, tentara Sulawesi dan tentara Irian. Yang ada hanya Tentara nasional Indonesia.
Penekanan terhadap pentingnya nilai-nilai kebangsaan kepada seluruh prajurit dan keluarganya tetap dipelihara, dengan demikian TNI dapat dijadikan contoh dan teladan sebagai tempat bertumbuhnya rasa kebangsaan, karena dalam mengamankan wilayah Republik tercinta ini, sudah menjadi tugas pokok TNI. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan persenjataan yang dimiliki, TNI tetap mengoptimalkan persenjataan yang ada dalam mempertahankan NKRI dari gangguan pengacau baik dari dalam maupun dari luar negeri, kata Kasad menambahkan. ( Luther )


 
     
     
     

 

Copyright ©2003 Dispenad, Jakarta-Indonesia. All rights reserved.
Webmaster: Dispenad.

Jalan Veteran Nomor 5 Jakarta Pusat