|
BERJUANG RAIH YANG TERBAIK
DALAM SETIAP PELAKSANAAN TUGAS
Kapten Inf Muhammad Isdar, S.Sos.
(Lulusan terbaik siswa Suspapen TNI AD Tahun 2002)
Obsesi
ini senantiasa tumbuh dalam jiwanya manakala mendapatkan
tugas dari setiap pimpinan di mana pun ditugaskan tak
terkecuali saat ia menjalankan tugas sebagai Ajudan
Pangdam VII/Wrb (kala itu dijabat Mayjen TNI Agum Gumelar),
hingga terbawa terus ke Gubernur Lemhanas dan sekarang
menjadi Menteri Perhubungan pun ia tetap dipercaya menjadi
ajudannya.
Mantan
lulusan terbaik Secapa tahun 1995 ini, sebelumnya pernah
menjadi bintara pelatih muda di Pussenif, atas prestasi
dan bersama enam orang rekannya diberi kesempatan untuk
mengikuti pendidikan pelatihan di Combath Instructur
Course (CIC) Australia. Menurut suami dari Ir. Hasinah
yang telah dikaruniai empat orang anak ini, menjadi
ajudan Panglima waktu itu bukanlah merupakan impian
semenjak di tempatkan di Kodam Wirabuana namun karena
pimpinan berkehendak lain, maka sebagai seorang prajurit
perintah itu harus dilaksanakan.
Setelah
tidak lagi menjadi ajudan Pangdam VII/Wrb waktu itu
dijabat Mayjen TNI Sulatin, maka tidak pernah terlintas
dibenakku akan menjadi ajudan Pangdam baru yang ketika
itu dijabat Mayjen TNI Agum Gumelar dan berlangsung
hingga sekarang. Mendapat kesempatan mengikuti kursus
Pa Penerangan merupakan kado yang paling berharga dan
berkesan bagi kehidupan saya selaku prajurit TNI AD,
pimpinan telah memikirkan apa yang terbaik bagi kelanjutan
karier saya. Dan bagi saya dan keluarga ini tentu saja
sangat mengharukan.
Ditemui di Pusdik Intel TNI AD Bogor ketika sedang mengikuti
kursus Pa Penerangan, pria kelahiran Bone 17 Januari
1965 ini punya hobby olah raga sepak bola dan renang
serta tidak lupa makanan kesukaannya soto Makassar.
Kepada Sihombing dari Tabloid Palagan menguraikan banyak
hal tentang kehidupannya sebelum menjadi ajudan maupun
selama melaksanakan tugas sebagai ajudan yang dilakukan
hingga sekarang. Untuk mengetahui tentang apa yang telah
dicapai dalam menggapai suatu keberhasilannya, akan
kita ketahui dari penuturannya berikut ini.
Bisa
diceritakan tentang kehidupan anda sehingga seperti
sekarang ini.
Saya itu sejak sekolah tinggal sama orang tua di mana
beliau sendiri bekerja sebagai pegawai negeri di Departemen
Pendidikan & Kebudayaan, pada saat di SMA, saya
melihat tentara masuk desa dan dari pengalaman itulah
saya tersentuh ingin menjadi tentara. Sehingga setelah
lulus dari SMA saya langsung mendaftarkan diri masuk
Taruna Akademi Militer ketika itu, pernah dipanggil
hingga ke Magelang dan ternyata tidak lulus. Akan tetapi
setiap peserta yang dinyatakan gugur dalam test Akmil
diberi kesempatan untuk masuk Secaba tanpa mengikuti
test. Maka ketika sudah menjadi tentara orang tua saya
sangat senang dan responnya sangat tinggi. Selama pangkat
Sersan oleh kesatuan saya di batalyon 700 Linud Makassar
Kodam VII/Wirabuana waktu itu memberi kesempatan untuk
mengikuti test masuk Akmil dan itu berlangsung hingga
dua kali dan dinyatakan tidak lulus. Setelah melihat
keadaan tersebut maka Komandan Batalyon memberikan arahan
kepada saya dengan menyatakan kalau kamu ingin menjadi
perwira tidak bisa melalui Akmil maka cobalah berpacu
karena banyak jalan untuk menjadi seorang perwira. Kenyataan
itu akhirnya bisa diterima dan saya tempuh jalan yang
diberikan oleh komandan yaitu melalui test Secapa dan
dinyatakan lulus, maka jadilah saya seperti sekarang
seorang perwira yang tentu saja menjadi impian saya
sejak dulu. Prinsip saya kalau ada kesempatan yahh
harus dimanfaatkan betul tentu saja harus dibarengi
dengan optimalisasi kemampuan diri.
Terbayangkah anda bahwa akan menjadi prajurit/perwira
seperti sekarang ini.
Waktu
di batalyon saya telah berkali-kali mendaftar untuk
menjadi Taruna Akmil dan ternyata saya tidak lulus.
Bertepatan ada program Kasad (waktu itu dijabat Jenderal
TNI Edi Sudradjad), memilih bintara-bintara terbaik
untuk ikut pelatih Susbatih Muda, di mana bintara ini
dipilih yang bujangan dari seluruh kecabangan dengan
catatan umur tidak lebih dari tiga puluh tahun, karena
usia masa pakainya ke depan diperhitungkan. Waktu itu
dari jumlah 80 orang yang ikut seleksi, saya termasuk
salah satu dari jumlah orang yang terpilih. Pada awalnya
memang disuruh untuk sekolah , akan tetapi dengan situasi
yang berkembang Kasad menyatakan kalau para bintara
pelatih yang sudah diseleksi itu akan diambil menjadi
30 orang dan akan dididik di Pussenif. Akhirnya kader
sebanyak itu terus digembleng, diberi kemampuan pelatihan
dan ditempatkan di seluruh Rindam yang ada di Jawa untuk
diuji kelayakannya sebagai pelatih. Pada waktu itu pula
ada kebijaksanaan bahwa bintara-bintara pelatih akan
diberi tunjangan jabatan. Rupanya pada waktu itu antara
TNI AD dan Australia ada kerjasama bidang kemiliteran,
saya bersama enam orang rekan dikirim untuk mengikuti
pelatihan di Combath Intelijen Course (CIC) Australia.
Sepulang dari Australia kami kembali ke Pussenif dan
selama di Pussenif lah saya berpacu untuk bisa mengikuti
test Secapa dan lulus pada tahun 1995. Ketika itu dari
jumlah siswa sebanyak 994 orang saya diberi penghargaan
menjadi perwira terbaik, Setelah lulus Sarcab ditempatkan
di Kodam VII/Wrb. Ketika saya masuk di Kodam itulah
ada seleksi ajudan Panglima di mana Pangdamnya ketika
itu dijabat Mayjen TNI Sulatin. Saya termasuk salah
seorang yang didaftar untuk ikut seleksi ajudan, setelah
diadakan seleksi dari tiga calon yang diajukan ke Pangdam
maka sayalah yang terpilih menjadi ajudan Panglima.
Tentu saja menjadi seorang ajudan Pangdam waktu itu
bukanlah merupakan impian setelah dilantik menjadi perwira,
akan tetapi pimpinan berkehendak lain dan selaku seorang
prajurit perintah harus dilaksanakan dan jadilah seperti
sekarang.
Adakah
prestasi/penghargaan yang anda terima dari pimpinan
maupun dari yang lain.
Waktu sekolah di Australia saya mendapatkan penghargaan
dari Combath Instruktur Course, waktu mengikuti kursus
Pioner di Zeni, penataran menembak pistol dan senjata.
Semua ini saya dapatkan waktu masih menjadi bintara
pelatih.
Dalam hal karier, apakah ada yang sangat berperan hingga
bisa seperti sekarang.
Menurut saya yang sangat berperan tentu saja beliau-beliau
yang pernah membantu saya termasuk para Panglima, beliau
itu sangat dominan karena selain telah merobah sikap
dan perilaku saya sehari-hari termasuk masalah kepemimpinan
tentu saja itu sangat menonjol dalam diri setiap perwira,
paling tidak perbendaharaan kata itu sangat membantu.
Obsesi
anda selaku prajurit TNI AD.
Walaupun saya sifatnya BP tugas di suatu departemen,
tetapi masalah karier saya selaku prajurit tetap saya
monitor artinya kalau karier saya jangan sampai ketinggalan
itu menjadi prinsip, makanya kalau ada peluang harus
dimanfaatkan betul-betul tentunya harus diimbangi dengan
kemampuan diri. Dan saya selalu mendambakan menjadi
prajurit TNI Angkatan Darat, tentu saja kalau ada kesempatan
saya akan perbuat menjadi yang terbaik.
Selaku
siswa Perwira Penerangan, tanggapan anda tentang peran
penerangan TNI Angkatan Darat ke depan.
Sebagaimana kita tahu bahwa tugas prajurit penerangan
TNI Angkatan Darat, selain menyiapkan informasi, bagaimana
mengcounter berita-berita. Tentu saja selaku insan penerangan
harus ada kepekaan untuk menangkap informasi dan jangan
diam, karena begitu informasi itu sudah kedaluarsa maka
menjadi sia-sialah artinya. Selaku siswa Perwira Penerangan
dikaitkan dengan keadaan sekarang ini maka peranan penerangan
itu sangat diperlukan/dibutuhkan dan seorang insan penerangan
itu harus mempunya nilai lebih khususnya dalam hal melaksanakan
komunikasi karena jangan ada image, bahwa seorang prajurit
tahunya hanya lari, berperang, menembak, akan tetapi
dengan era sekarang ini sudah lain karena perang informasi
yang sekarang sedang menonjol kita membutuhkan prajurit-prajurit
yang bisa menjawab tantangan/situasi dan harus pandai
berbicara.
Apakah
ada kesan khusus selama mengikuti kursus ini.
Kesan saya banyak, ketika saya diterima menjadi siswa
maka yang pertama sekali saya lakukan memberikan penghormatan
pada lambang TNI AD, karena saya bangga menjadi prajurit
TNI AD dan merasa terharu bisa kembali ke lembaga pendidikan
tempat dimana saya dulu dibentuk hingga bisa seperti
sekarang ini dan tentu saja saya sangat terharu ketika
itu.
Menurut
anda apakah faktor like and dislike dalam setiap penugasan
anda.
Saya tidak pernah melihat ke arah itu, karena saya menjadi
ajudan itu kan tidak merupakan keinginan mungkin ada
faktor lain yang mendukung, karena prinsip seorang prajurit
adalah perintah maka itu yang dijalankan dan itu merupakan
wujud loyalitas prajurit kepada pimpinan.
Yang
menjadi falsafah hidup anda.
Kalau sebagai seorang prajurit, bila diberi kesempatan
harus dimanfaatkan dengan baik karena ada istilah yang
mengatakan kalau orang lain bisa kenapa kita tidak bisa
itulah pegangan hidup saya. Kesempatan jangan sampai
disia-siakan, karena tentu saja kesempatan itu tidak
pernah datang dua kali.
Harapan
anda kepada prajurit TNI AD ke depan.
Ingin menyampaikan kepada rekan-rekan agar selalu menjaga
kebersamaan, jaga jiwa korsa jangan sampai kita (prajurit
TNI AD) itu tercabik-cabik, kesatuan dan persatuan kita
harus pegang teguh, maka selaku institusi yang memegang
organisasi solid, ke depan kita itu jangan sampai kena
hasutan-hasutan, maka perintah harian Kasad itu perlu
selalu dipedomani setiap prajurit TNI AD. Itulah yang
menjadi hakiki seorang prajurit untuk menunjukkan kesetiannya
kepada pimpinannya dalam pengabdian kepada bangsa dan
negara. Kita sebagai prajurit yang dibutuhkan adalah
loyalitas, pengabdian yang terbaik dibarengi niat yang
baik. Kita itu jangan berpikir sampai macam-macamlah.
Kalau selaku bawahan kita ini kan mata dan telinga pimpinan,
makanya kalau ada informasi yang perlu disampaikan kepada
pimpinan harus lebih dulu di cross check kebenarannya
sehingga hasilnyapun akan memuaskan.
Masalah
gelar yang disandang.
Gelar itu saya dapatkan dalam tiga tempat, pertama di
Bandung saya kuliah kira-kira dua semester pindah ke
Wirabuana, di Makassar sempat berapa semester dipindah
lagi ke Jakarta (Lemhanas) dan selesainya baru tahun
2001 yang lalu. Tapi itulah indahnya hasil sebuah perjuangan.
Dikemudian kelak ingin bercita-cita untuk mengikuti
program S-2, karena kalau tidak jangan harap di era
globalisasi nanti akan bisa mengikuti perkembangan zaman.
Itulah wujud prajurit profesional, efektif dan modern.
Itu tadi jangan cepat puas dengan keadaan yang kita
miliki, kita harus maju. (Hombing)
|