Edisi Oktober 2003    


BERJUANG RAIH YANG TERBAIK
DALAM SETIAP PELAKSANAAN TUGAS

Kapten Inf Muhammad Isdar, S.Sos.
(Lulusan terbaik siswa Suspapen TNI AD Tahun 2002)

Obsesi ini senantiasa tumbuh dalam jiwanya manakala mendapatkan tugas dari setiap pimpinan di mana pun ditugaskan tak terkecuali saat ia menjalankan tugas sebagai Ajudan Pangdam VII/Wrb (kala itu dijabat Mayjen TNI Agum Gumelar), hingga terbawa terus ke Gubernur Lemhanas dan sekarang menjadi Menteri Perhubungan pun ia tetap dipercaya menjadi ajudannya.

Mantan lulusan terbaik Secapa tahun 1995 ini, sebelumnya pernah menjadi bintara pelatih muda di Pussenif, atas prestasi dan bersama enam orang rekannya diberi kesempatan untuk mengikuti pendidikan pelatihan di Combath Instructur Course (CIC) Australia. Menurut suami dari Ir. Hasinah yang telah dikaruniai empat orang anak ini, menjadi ajudan Panglima waktu itu bukanlah merupakan impian semenjak di tempatkan di Kodam Wirabuana namun karena pimpinan berkehendak lain, maka sebagai seorang prajurit perintah itu harus dilaksanakan.

Setelah tidak lagi menjadi ajudan Pangdam VII/Wrb waktu itu dijabat Mayjen TNI Sulatin, maka tidak pernah terlintas dibenakku akan menjadi ajudan Pangdam baru yang ketika itu dijabat Mayjen TNI Agum Gumelar dan berlangsung hingga sekarang. Mendapat kesempatan mengikuti kursus Pa Penerangan merupakan kado yang paling berharga dan berkesan bagi kehidupan saya selaku prajurit TNI AD, pimpinan telah memikirkan apa yang terbaik bagi kelanjutan karier saya. Dan bagi saya dan keluarga ini tentu saja sangat mengharukan.
Ditemui di Pusdik Intel TNI AD Bogor ketika sedang mengikuti kursus Pa Penerangan, pria kelahiran Bone 17 Januari 1965 ini punya hobby olah raga sepak bola dan renang serta tidak lupa makanan kesukaannya soto Makassar. Kepada Sihombing dari Tabloid Palagan menguraikan banyak hal tentang kehidupannya sebelum menjadi ajudan maupun selama melaksanakan tugas sebagai ajudan yang dilakukan hingga sekarang. Untuk mengetahui tentang apa yang telah dicapai dalam menggapai suatu keberhasilannya, akan kita ketahui dari penuturannya berikut ini.

Bisa diceritakan tentang kehidupan anda sehingga seperti sekarang ini.
Saya itu sejak sekolah tinggal sama orang tua di mana beliau sendiri bekerja sebagai pegawai negeri di Departemen Pendidikan & Kebudayaan, pada saat di SMA, saya melihat tentara masuk desa dan dari pengalaman itulah saya tersentuh ingin menjadi tentara. Sehingga setelah lulus dari SMA saya langsung mendaftarkan diri masuk Taruna Akademi Militer ketika itu, pernah dipanggil hingga ke Magelang dan ternyata tidak lulus. Akan tetapi setiap peserta yang dinyatakan gugur dalam test Akmil diberi kesempatan untuk masuk Secaba tanpa mengikuti test. Maka ketika sudah menjadi tentara orang tua saya sangat senang dan responnya sangat tinggi. Selama pangkat Sersan oleh kesatuan saya di batalyon 700 Linud Makassar Kodam VII/Wirabuana waktu itu memberi kesempatan untuk mengikuti test masuk Akmil dan itu berlangsung hingga dua kali dan dinyatakan tidak lulus. Setelah melihat keadaan tersebut maka Komandan Batalyon memberikan arahan kepada saya dengan menyatakan kalau kamu ingin menjadi perwira tidak bisa melalui Akmil maka cobalah berpacu karena banyak jalan untuk menjadi seorang perwira. Kenyataan itu akhirnya bisa diterima dan saya tempuh jalan yang diberikan oleh komandan yaitu melalui test Secapa dan dinyatakan lulus, maka jadilah saya seperti sekarang seorang perwira yang tentu saja menjadi impian saya sejak dulu. Prinsip saya kalau ada kesempatan yahh… harus dimanfaatkan betul tentu saja harus dibarengi dengan optimalisasi kemampuan diri.
Terbayangkah anda bahwa akan menjadi prajurit/perwira seperti sekarang ini.

Waktu di batalyon saya telah berkali-kali mendaftar untuk menjadi Taruna Akmil dan ternyata saya tidak lulus. Bertepatan ada program Kasad (waktu itu dijabat Jenderal TNI Edi Sudradjad), memilih bintara-bintara terbaik untuk ikut pelatih Susbatih Muda, di mana bintara ini dipilih yang bujangan dari seluruh kecabangan dengan catatan umur tidak lebih dari tiga puluh tahun, karena usia masa pakainya ke depan diperhitungkan. Waktu itu dari jumlah 80 orang yang ikut seleksi, saya termasuk salah satu dari jumlah orang yang terpilih. Pada awalnya memang disuruh untuk sekolah , akan tetapi dengan situasi yang berkembang Kasad menyatakan kalau para bintara pelatih yang sudah diseleksi itu akan diambil menjadi 30 orang dan akan dididik di Pussenif. Akhirnya kader sebanyak itu terus digembleng, diberi kemampuan pelatihan dan ditempatkan di seluruh Rindam yang ada di Jawa untuk diuji kelayakannya sebagai pelatih. Pada waktu itu pula ada kebijaksanaan bahwa bintara-bintara pelatih akan diberi tunjangan jabatan. Rupanya pada waktu itu antara TNI AD dan Australia ada kerjasama bidang kemiliteran, saya bersama enam orang rekan dikirim untuk mengikuti pelatihan di Combath Intelijen Course (CIC) Australia. Sepulang dari Australia kami kembali ke Pussenif dan selama di Pussenif lah saya berpacu untuk bisa mengikuti test Secapa dan lulus pada tahun 1995. Ketika itu dari jumlah siswa sebanyak 994 orang saya diberi penghargaan menjadi perwira terbaik, Setelah lulus Sarcab ditempatkan di Kodam VII/Wrb. Ketika saya masuk di Kodam itulah ada seleksi ajudan Panglima di mana Pangdamnya ketika itu dijabat Mayjen TNI Sulatin. Saya termasuk salah seorang yang didaftar untuk ikut seleksi ajudan, setelah diadakan seleksi dari tiga calon yang diajukan ke Pangdam maka sayalah yang terpilih menjadi ajudan Panglima. Tentu saja menjadi seorang ajudan Pangdam waktu itu bukanlah merupakan impian setelah dilantik menjadi perwira, akan tetapi pimpinan berkehendak lain dan selaku seorang prajurit perintah harus dilaksanakan dan jadilah seperti sekarang.

Adakah prestasi/penghargaan yang anda terima dari pimpinan maupun dari yang lain.
Waktu sekolah di Australia saya mendapatkan penghargaan dari Combath Instruktur Course, waktu mengikuti kursus Pioner di Zeni, penataran menembak pistol dan senjata. Semua ini saya dapatkan waktu masih menjadi bintara pelatih.
Dalam hal karier, apakah ada yang sangat berperan hingga bisa seperti sekarang.
Menurut saya yang sangat berperan tentu saja beliau-beliau yang pernah membantu saya termasuk para Panglima, beliau itu sangat dominan karena selain telah merobah sikap dan perilaku saya sehari-hari termasuk masalah kepemimpinan tentu saja itu sangat menonjol dalam diri setiap perwira, paling tidak perbendaharaan kata itu sangat membantu.

Obsesi anda selaku prajurit TNI AD.
Walaupun saya sifatnya BP tugas di suatu departemen, tetapi masalah karier saya selaku prajurit tetap saya monitor artinya kalau karier saya jangan sampai ketinggalan itu menjadi prinsip, makanya kalau ada peluang harus dimanfaatkan betul-betul tentunya harus diimbangi dengan kemampuan diri. Dan saya selalu mendambakan menjadi prajurit TNI Angkatan Darat, tentu saja kalau ada kesempatan saya akan perbuat menjadi yang terbaik.

Selaku siswa Perwira Penerangan, tanggapan anda tentang peran penerangan TNI Angkatan Darat ke depan.
Sebagaimana kita tahu bahwa tugas prajurit penerangan TNI Angkatan Darat, selain menyiapkan informasi, bagaimana mengcounter berita-berita. Tentu saja selaku insan penerangan harus ada kepekaan untuk menangkap informasi dan jangan diam, karena begitu informasi itu sudah kedaluarsa maka menjadi sia-sialah artinya. Selaku siswa Perwira Penerangan dikaitkan dengan keadaan sekarang ini maka peranan penerangan itu sangat diperlukan/dibutuhkan dan seorang insan penerangan itu harus mempunya nilai lebih khususnya dalam hal melaksanakan komunikasi karena jangan ada image, bahwa seorang prajurit tahunya hanya lari, berperang, menembak, akan tetapi dengan era sekarang ini sudah lain karena perang informasi yang sekarang sedang menonjol kita membutuhkan prajurit-prajurit yang bisa menjawab tantangan/situasi dan harus pandai berbicara.

Apakah ada kesan khusus selama mengikuti kursus ini.
Kesan saya banyak, ketika saya diterima menjadi siswa maka yang pertama sekali saya lakukan memberikan penghormatan pada lambang TNI AD, karena saya bangga menjadi prajurit TNI AD dan merasa terharu bisa kembali ke lembaga pendidikan tempat dimana saya dulu dibentuk hingga bisa seperti sekarang ini dan tentu saja saya sangat terharu ketika itu.

Menurut anda apakah faktor like and dislike dalam setiap penugasan anda.
Saya tidak pernah melihat ke arah itu, karena saya menjadi ajudan itu kan tidak merupakan keinginan mungkin ada faktor lain yang mendukung, karena prinsip seorang prajurit adalah perintah maka itu yang dijalankan dan itu merupakan wujud loyalitas prajurit kepada pimpinan.

Yang menjadi falsafah hidup anda.
Kalau sebagai seorang prajurit, bila diberi kesempatan harus dimanfaatkan dengan baik karena ada istilah yang mengatakan kalau orang lain bisa kenapa kita tidak bisa itulah pegangan hidup saya. Kesempatan jangan sampai disia-siakan, karena tentu saja kesempatan itu tidak pernah datang dua kali.

Harapan anda kepada prajurit TNI AD ke depan.
Ingin menyampaikan kepada rekan-rekan agar selalu menjaga kebersamaan, jaga jiwa korsa jangan sampai kita (prajurit TNI AD) itu tercabik-cabik, kesatuan dan persatuan kita harus pegang teguh, maka selaku institusi yang memegang organisasi solid, ke depan kita itu jangan sampai kena hasutan-hasutan, maka perintah harian Kasad itu perlu selalu dipedomani setiap prajurit TNI AD. Itulah yang menjadi hakiki seorang prajurit untuk menunjukkan kesetiannya kepada pimpinannya dalam pengabdian kepada bangsa dan negara. Kita sebagai prajurit yang dibutuhkan adalah loyalitas, pengabdian yang terbaik dibarengi niat yang baik. Kita itu jangan berpikir sampai macam-macamlah. Kalau selaku bawahan kita ini kan mata dan telinga pimpinan, makanya kalau ada informasi yang perlu disampaikan kepada pimpinan harus lebih dulu di cross check kebenarannya sehingga hasilnyapun akan memuaskan.

Masalah gelar yang disandang.
Gelar itu saya dapatkan dalam tiga tempat, pertama di Bandung saya kuliah kira-kira dua semester pindah ke Wirabuana, di Makassar sempat berapa semester dipindah lagi ke Jakarta (Lemhanas) dan selesainya baru tahun 2001 yang lalu. Tapi itulah indahnya hasil sebuah perjuangan. Dikemudian kelak ingin bercita-cita untuk mengikuti program S-2, karena kalau tidak jangan harap di era globalisasi nanti akan bisa mengikuti perkembangan zaman. Itulah wujud prajurit profesional, efektif dan modern. Itu tadi jangan cepat puas dengan keadaan yang kita miliki, kita harus maju. (Hombing)



 
     
     
     

 

Copyright ©2003 Dispenad, Jakarta-Indonesia. All rights reserved.
Webmaster: Dispenad.

Jalan Veteran Nomor 5 Jakarta Pusat