Edisi Khusus Desember No. 18 Tahun 2003    


Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu :

PERKOKOH RASA KECINTAAN DAN KEBERSAMAAN
ANTAR SESAMA PRAJURIT

Acara buka puasa bersama dan sholat tarawih merupakan tradisi yang sangat baik dan sangat perlu ditumbuhkembangkan di jajaran TNI Angkatan Darat, karena akan memperkokoh kecintaan dan kebersamaan antar sesama prajurit, juga dapat dijadikan wahana silaturahmi yang dilandasi semangat dan nilai nilai luhur keagamaan.

Hal tersebut dikatakan Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu pada acara buka puasa dan sholat tarawih bersama Prajurit dan PNS TNI Angkatan Darat di lingkungan Mabesad yang bertempat di Aula Jenderal Besar AH. Nasution.
Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu mengatakan, bahwa nuansa kebersamaan dalam mengamalkan ajaran agama harus senantiasa dipelihara, karena akan memberikan kontribusi yang positif bagi peningkatan kualitas pelaksanaan tugas dan pengabdian TNI, khususnya TNI Angkatan Darat kepada bangsa dan negara.

Menurut pucuk Pimpinan TNI AD tersebut, pada setiap tahun umat Islam selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan berkesempatan untuk meningkatkan amal kebajikan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT secara khusyu dan ikhlas seraya memohon ampun atas segala perbuatan dan kekurangannya. Oleh karena itu ibadah puasa selama satu bulan ini wajib dilakukan umat Islam di seluruh dunia sebagai wujud pelaksanaan penghayatan dan pengamalan dari rukun Islam yang ke-empat. Hendaknya puasa yang dilakukan senantiasa didasari keimanan dan ketaqwaan bukan sekedar ikut-ikutan semata melainkan suatu wujud amal yang benar-benar mencerminkan ketaatan kepada Allah SWT secara tulus dan ikhlas.

Jika dicermati secara lebih mendalam ibadah pada bulan puasa ini merupakan salah satu bagian dari ajaran agama yaitu perintah Allah SWT agar kita melatih kemampuan untuk mengendalikan diri. Kemampuan mengendalikan diri itu merupakan perilaku dan sifat-sifat manusia yang baik yang sangat berguna bagi kehidupan pribadi, setiap individu dan juga berguna bagi orang lain. Karena pengendalian diri itu merupakan suatu kemampuan maka perlu dilatih secara terus menerus dengan penuh kesungguhan.

Dengan demikian jika ibadah puasa dilaksanakan secara bersunguh-sungguh pada bulan suci ini akan membuahkan tingkat kualitas kehidupan pribadi dan juga kehidupan umat yang lebih baik yang lebih toleran yang lebih berorientasi pada persatuan dan kesatuan. Hal itu kita yakini sebagaimana janji Allah SWT kepada kita bahwa pada bulan Ramadhan yang suci dan penuh berkah ini serta memiliki keutamaan dan keagungan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. "Allah SWT menjanjikan ampunan dosa bagi umatnya yang melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya, maka dari itu sepatutnyalah kita sebagai umatnya berlomba-lomba untuk berbuat kebajikan atau fastabiqul khoirot guna mengagungkan bulan Ramadhan serta mengharap keridhaan Allah SWT," kata Kasad.

Menurut Menantu Mantan Wapres Try Sutrisno tersebut, Junjungan kita adalah Nabi Muhammad SAW orang yang paling kita hormati, orang yang paling kita panuti, orang yang tidak ada celanya dan contoh sebaik-baiknya manusia. Nah kalau kita menyadari itu, kita akan bangga sebagai tentara, karena junjungan kita adalah tentara dan ada orang-orang yang tidak suka dengan tentara bahkan menjelek-jelekan tentara itu salah, dimana-mana tentara itu sangat diperlukan.

Tuhan saja menyelesaikan masalah atau mengahancurkan suatu kejahatan di dalam Al-Qur'an juga disampaikan Dia turunkan tentara, didalam agama Kristen juga diturunkan tentara dari langit. "Jadi tentara itu untuk menyelesaikan masalah bukan untuk dijelek-jelekan dilemah-lemahkan Jadi dengan demikian hal-hal ini patut kita tanamkan pada diri kita masing-masing patut kita tanamkan pada keluarga kita istri dan anak-anak agar mereka bangga, tentunya tentara yang benar, tentara yang berakhlak dan tentara yang bermoral tentara yang beragama," kata Kasad mengakhiri pengarahannya.

Tidak etis jika menyudutkan TNI

Sementara itu Drs KH. Anur Alam Bachtiar penceramah pengantar berbuka puasa mengatakan, bahwa dalam Surat An-Nisa yang pertama yaitu "wahai manusia hendaklah kalian bertaqwa terhadap Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian seorang diri asalnya yaitu Adam, kemudian diciptakan pasangannya Siti Hawa dan dari keduanya inilah dikembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak sampai kurang lebih penduduk bumi ini 6 miliyar.

Karena itu hai manusia hendaklah kalian bertaqwa kepada Allah yang telah menciptakan kalian satu sama lain saling ketergantungan saling membutuhkan saling berkelindak karena itu kalian butuh silaturahim, butuh komunikasi butuh menciptakan keharmonisan antar sesama antar profesi antar berbeda watak, kultur,etnis, keyakinan agama dsb.

Lebih lanjut KH. Anur Alam Bachtiar menegaskan pula , kalau kita memahami ayat diatas bahwa kesejahteraan pribadi, keluarga, masyarakat termasuk tatanan bernegara harus menciptakan keharmonisan di dalam berkomunikasi. Tidak prosedural dan tidak etis kalau kita menyudutkan TNI, karena TNI sangat dibutuhkan oleh sipil dan negara. Sebagaimana tidak etis kalau kita menyudutkan orang miskin karena orang kaya pun sangat membutuhkan kehadiran orang miskin. Yang perlu dijalin adalah komunikasi dan memperkecil kemiskinan itu.

Sebagaimana tidak etis kalau kita menyudutkan orang bodoh karena orang pandaipun membutuhkan kehadiran orang bodoh Dosen, Kyai dan guru pun sangat membutuhkan kehadiran orang bodoh, belum lagi orang yang sehat tidak patut menyudutkan orang yang sakit karena sebagaian orang yang sehat terpaksa bergantung rizkinya kepada orang yang sakit, paling tidak yang berprofesi dokter.
Jadi kalau kita sebagai Tentara yang tugasnya menjaga keutuhan Negara, mengamankan negara dan membuat rakyat damai, harmonis dalam berdagang, harmonis di kantor, harmonis dalam bermasyarakat berarti Tentara telah baik-baik dengan rakyat. Kalau sebagai anggota TNI sholatnya rajin, disiplin profesinya berarti 50 % surga sudah ada di tangan, selanjutnya sebagai suami, sebagai orang tua dalam rumah tangga punya tanggung jawab maksimal terhadap pembinaan keluarga berarti 75 % surga sudah ada di tangan belum lagi peduli terhadap lingkungan Subhanallah, kata Pak Kyai mengakhiri ceramahnya.


 

 

Copyright ©2003 Dispenad, Jakarta-Indonesia. All rights reserved.
Webmaster: Dispenad.

Jalan Veteran Nomor 5 Jakarta Pusat