Edisi Khusus Desember No. 18 Tahun 2003    


Kasad jenderal TNI Ryamizard Ryacudu :


TNI AD WASPADAI BANGKITNYA KOMUNISME
GAYA BARU

TNI Angkatan Darat tetap menilai paham komunis belum mati, sehingga jajaran TNI AD tetap mewaspadai bangkitnya komunisme dengan gaya baru yang bisa muncul melalui berbagai penetrasi dan infiltrasi ke dalam organisasi atau gerakan yang telah ada saat ini. Oleh sebab itu, seluruh komponen bangsa perlu senantiasa waspada guna menangkal berbagai upaya bangkitnya kembali komunisme di Indonesia.

Kewaspadaan itu disampaikan Kepala Staf TNI AD (KSAD) Jenderal Ryamizard Ryacudu, saat memberikan sambutan dalam acara renungan dan doa mengenang 38 tahun tragedi Nasional Gerakan 30 September (G 30 S) di Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, Jakarta
.
Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu mengatakan, bahwa acara Mengenang Tragedi Nasional Kebiadaban PKI 38 Tahun yang lalu pada malam ini mengandung makna yang sangat penting, karena selain untuk memperkokoh integrasi spiritual antar komponen bangsa agar tidak mengalami kesenjangan dalam menghadapi hakikat ancaman yang bersifat permanen terhadap perjuangan mencapai cita-cita nasional, juga untuk mengajak semua orang agar lebih memahami dan menghayati kembali berbagai upaya sistematis pemutarbalikan fakta sejarah yang pada belakangan ini dilakukan penganut paham komunis. "Oleh karenanya, pada kesempatan yang baik ini, marilah kita merapatkan barisan dan bergandengan tangan, bersatu padu, bergotong royong untuk menutup semua celah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi kemungkinan bangkitnya komunisme di persada nusantara yang sangat kita cintai ini, " kata Kasad.

Menurut Pucuk Pimpinan TNI AD, Kewaspadaan itu sangat penting, apalagi pada era reformasi sekarang ini, yang oleh sementara orang diklaim sebagai era kebebasan yang membuka peluang setiap orang bebas melakukan apa saja tanpa mempedulikan orang lain. Setiap orang bebas memutarbalikkan fakta demi kepentingannya. Era kebebasan yang kebablasan ini telah dimanfaatkan oleh orang-orang komunis atau simpatisannya untuk menghidupkan kembali ajaran komunisme itu. Berdasarkan analisis intelijen, telah terbukti adanya proses perubahan bentuk PKI melalui berbagai metamorfosa-nya, termasuk link-up dengan gerakan atau aksi-aksi teroris yang marak belakangan ini.

Lakukan Counter Opini terhadap Opini yang Salah

Lebih lanjut Kasad mengatakan, bahwa tidak jarang belakangan ini orang-orang komunis atau simpatisannya menggunakan media massa, baik elektronik maupun cetak untuk membentuk opini masyarakat, khususnya generasi muda, bahwa aksi penumpasan PKI dan antek-anteknya yang dilakukan rakyat bersama TNI sesuatu yang salah dan melanggar HAM. Opini yang dibentuk itu harus dilawan dengan melakukan counter opini dan berbagai kegiatan yang dapat menangkal upaya membangkitkan komunis itu, seperti mencermati betul kegiatan-kegiatan mantan tahanan politik yang sudah bebas di dalam masyarakat.

Data tentang orang yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dengan PKI itu ada di setiap Kodim, meskipun sekarang ini mereka mencoba merubah identitasnya. Data itu terus dijaga dan dipelihara serta diperbaharui sesuai dengan perubahan identitas yang dilakukan agar dapat memantau setiap gerakan atau aksi yang dilakukannya. "Jadi, kalau beberapa waktu yang lalu ada wacana yang menginginkan Koter dibubarkan, boleh jadi itu merupakan kehendak orang-orang PKI itu, " tegas Kasad.

Bagi komunis tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Untuk meraih dan mencapai kepentingannya itu, komunis melakukan segala cara, dari yang halus sampai dengan cara-cara yang biadab. Oleh karenanya, seluruh komponen masyarakat perlu menyadari dan mewaspadai berbagai perangkap yang dipasang oleh komunis agar bangsa Indonesia tidak terjerumus ke dalam jurang kehancuran.

Menurut Menantu Try Sutrisno tersebut, berdasarkan analisis intelijen dirasakan terjadi perubahan atau metamorfosis manuver PKI dalam bentuk-bentuk aksi terorisme yang belakangan marak terjadi di tanah air. Acara renungan ini bukan untuk membangkitkan permusuhan, tetapi untuk mengenang jasa para pahlawan, termasuk mendoakannya, serta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya gerakan komunisme dalam bentuk yang baru.

Contoh dan Teladan Bagi Generasi Penerus

Lebih lanjut Kasad mengatakan, berkenaan dengan Memperingati Tragedi Nasional 30 September 2003, merupakan peristiwa yang membawa duka sangat dalam bagi bangsa Indonesia. Oleh sebab itu marilah pada kesempatan yang baik ini kita menundukkan kepala sejenak, memberikan penghormatan serta penghargaan yang paling tinggi atas segala pengorbanan tanpa pamrih yang telah diberikan oleh para Pahlawan Revolusi.

Peristiwa ini telah menjadi saksi akan keberanian para Pahlawan Revolusi dengan kerelaan mengorbankan segala yang dimilikinya, termasuk miliknya yang paling berharga yaitu jiwa dan raga demi mempertahankan kehormatan dan keutuhan bangsa dan negara. Semangat rela berkorban yang demikian luhur dan agung, memang patut menjadi contoh dan teladan bagi generasi penerus.

Pengorbanan yang dituntut dewasa ini adalah pengabdian total kepada bangsa dan negara dengan senantiasa menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi ataupun golongan. Untuk itu, dengan dilandasi oleh jiwa, tekad dan semangat serta nilai-nilai kepahlawanan seperti yang telah ditunjukkan oleh para Pahlawan Revolusi, marilah kita tunaikan tugas dan kewajiban kita sesuai dengan bidang tugas masing-masing dengan sebaik-baiknya.

Lebih jauh Jenderal bintang empat ini mengatakan, di era kebebasan ini terlihat komunis baik oleh simpatisannya yang setiap saat dapat memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada untuk memutarbalikkan fakta. Bagi komunis tidak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada hanyalah tujuan yang abadi," katanya. Untuk meraih dan mencapai kepentinganya itu, komunis melakukan segala cara, dari yang halus sampai dengan cara-cara yang biadab. Oleh karenanya, kita semua perlu menyadari dan mewaspadai berbagai perangkap yang dipasang oleh komunis agar kita tidak terjerumus ke dalam jurang kehancuran.

Hadir pada malam itu seluruh petinggi Angkatan Darat, termasuk sejumlah mantan Kasad, seperti Jenderal (Purn) Try Sutrisno dan Jenderal (Purn) Edi Sudrajat, dan anggota keluarga ke tujuh Pahlawan Revolusi.


 

 

Copyright ©2003 Dispenad, Jakarta-Indonesia. All rights reserved.
Webmaster: Dispenad.

Jalan Veteran Nomor 5 Jakarta Pusat