Kasad jenderal TNI Ryamizard Ryacudu
:
TNI AD WASPADAI BANGKITNYA KOMUNISME
GAYA BARU
TNI Angkatan
Darat tetap menilai paham komunis belum mati, sehingga jajaran
TNI AD tetap mewaspadai bangkitnya komunisme dengan gaya baru
yang bisa muncul melalui berbagai penetrasi dan infiltrasi
ke dalam organisasi atau gerakan yang telah ada saat ini.
Oleh sebab itu, seluruh komponen bangsa perlu senantiasa waspada
guna menangkal berbagai upaya bangkitnya kembali komunisme
di Indonesia.
Kewaspadaan itu disampaikan Kepala Staf TNI AD (KSAD) Jenderal
Ryamizard Ryacudu, saat memberikan sambutan dalam acara renungan
dan doa mengenang 38 tahun tragedi Nasional Gerakan 30 September
(G 30 S) di Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, Jakarta
.
Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu mengatakan, bahwa acara
Mengenang Tragedi Nasional Kebiadaban PKI 38 Tahun yang lalu
pada malam ini mengandung makna yang sangat penting, karena
selain untuk memperkokoh integrasi spiritual antar komponen
bangsa agar tidak mengalami kesenjangan dalam menghadapi hakikat
ancaman yang bersifat permanen terhadap perjuangan mencapai
cita-cita nasional, juga untuk mengajak semua orang agar lebih
memahami dan menghayati kembali berbagai upaya sistematis
pemutarbalikan fakta sejarah yang pada belakangan ini dilakukan
penganut paham komunis. "Oleh karenanya, pada kesempatan
yang baik ini, marilah kita merapatkan barisan dan bergandengan
tangan, bersatu padu, bergotong royong untuk menutup semua
celah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
bagi kemungkinan bangkitnya komunisme di persada nusantara
yang sangat kita cintai ini, " kata Kasad.
Menurut Pucuk Pimpinan TNI AD, Kewaspadaan itu sangat penting,
apalagi pada era reformasi sekarang ini, yang oleh sementara
orang diklaim sebagai era kebebasan yang membuka peluang setiap
orang bebas melakukan apa saja tanpa mempedulikan orang lain.
Setiap orang bebas memutarbalikkan fakta demi kepentingannya.
Era kebebasan yang kebablasan ini telah dimanfaatkan oleh
orang-orang komunis atau simpatisannya untuk menghidupkan
kembali ajaran komunisme itu. Berdasarkan analisis intelijen,
telah terbukti adanya proses perubahan bentuk PKI melalui
berbagai metamorfosa-nya, termasuk link-up dengan gerakan
atau aksi-aksi teroris yang marak belakangan ini.
Lakukan
Counter Opini terhadap Opini yang Salah
Lebih lanjut Kasad mengatakan, bahwa tidak jarang belakangan
ini orang-orang komunis atau simpatisannya menggunakan media
massa, baik elektronik maupun cetak untuk membentuk opini
masyarakat, khususnya generasi muda, bahwa aksi penumpasan
PKI dan antek-anteknya yang dilakukan rakyat bersama TNI sesuatu
yang salah dan melanggar HAM. Opini yang dibentuk itu harus
dilawan dengan melakukan counter opini dan berbagai kegiatan
yang dapat menangkal upaya membangkitkan komunis itu, seperti
mencermati betul kegiatan-kegiatan mantan tahanan politik
yang sudah bebas di dalam masyarakat.
Data tentang orang yang terlibat baik langsung maupun tidak
langsung dengan PKI itu ada di setiap Kodim, meskipun sekarang
ini mereka mencoba merubah identitasnya. Data itu terus dijaga
dan dipelihara serta diperbaharui sesuai dengan perubahan
identitas yang dilakukan agar dapat memantau setiap gerakan
atau aksi yang dilakukannya. "Jadi, kalau beberapa waktu
yang lalu ada wacana yang menginginkan Koter dibubarkan, boleh
jadi itu merupakan kehendak orang-orang PKI itu, " tegas
Kasad.
Bagi komunis tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi,
yang ada hanya kepentingan abadi. Untuk meraih dan mencapai
kepentingannya itu, komunis melakukan segala cara, dari yang
halus sampai dengan cara-cara yang biadab. Oleh karenanya,
seluruh komponen masyarakat perlu menyadari dan mewaspadai
berbagai perangkap yang dipasang oleh komunis agar bangsa
Indonesia tidak terjerumus ke dalam jurang kehancuran.
Menurut Menantu Try Sutrisno tersebut, berdasarkan analisis
intelijen dirasakan terjadi perubahan atau metamorfosis manuver
PKI dalam bentuk-bentuk aksi terorisme yang belakangan marak
terjadi di tanah air. Acara renungan ini bukan untuk membangkitkan
permusuhan, tetapi untuk mengenang jasa para pahlawan, termasuk
mendoakannya, serta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap
munculnya gerakan komunisme dalam bentuk yang baru.
Contoh
dan Teladan Bagi Generasi Penerus
Lebih lanjut Kasad mengatakan, berkenaan dengan Memperingati
Tragedi Nasional 30 September 2003, merupakan peristiwa yang
membawa duka sangat dalam bagi bangsa Indonesia. Oleh sebab
itu marilah pada kesempatan yang baik ini kita menundukkan
kepala sejenak, memberikan penghormatan serta penghargaan
yang paling tinggi atas segala pengorbanan tanpa pamrih yang
telah diberikan oleh para Pahlawan Revolusi.
Peristiwa ini telah menjadi saksi akan keberanian para Pahlawan
Revolusi dengan kerelaan mengorbankan segala yang dimilikinya,
termasuk miliknya yang paling berharga yaitu jiwa dan raga
demi mempertahankan kehormatan dan keutuhan bangsa dan negara.
Semangat rela berkorban yang demikian luhur dan agung, memang
patut menjadi contoh dan teladan bagi generasi penerus.
Pengorbanan yang dituntut dewasa ini adalah pengabdian total
kepada bangsa dan negara dengan senantiasa menempatkan kepentingan
bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi ataupun golongan.
Untuk itu, dengan dilandasi oleh jiwa, tekad dan semangat
serta nilai-nilai kepahlawanan seperti yang telah ditunjukkan
oleh para Pahlawan Revolusi, marilah kita tunaikan tugas dan
kewajiban kita sesuai dengan bidang tugas masing-masing dengan
sebaik-baiknya.
Lebih jauh Jenderal bintang empat ini mengatakan, di era kebebasan
ini terlihat komunis baik oleh simpatisannya yang setiap saat
dapat memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada untuk memutarbalikkan
fakta. Bagi komunis tidak ada kawan atau lawan yang abadi,
yang ada hanyalah tujuan yang abadi," katanya. Untuk
meraih dan mencapai kepentinganya itu, komunis melakukan segala
cara, dari yang halus sampai dengan cara-cara yang biadab.
Oleh karenanya, kita semua perlu menyadari dan mewaspadai
berbagai perangkap yang dipasang oleh komunis agar kita tidak
terjerumus ke dalam jurang kehancuran.
Hadir pada malam itu seluruh petinggi Angkatan Darat, termasuk
sejumlah mantan Kasad, seperti Jenderal (Purn) Try Sutrisno
dan Jenderal (Purn) Edi Sudrajat, dan anggota keluarga ke
tujuh Pahlawan Revolusi.
|
|
|