|
Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu :
TINGGALKAN
MODEL KEPEMIMPINAN YANG FEODALISTIK
Sebagai
komandan satuan, redam dan hilangkan pelanggaran-pelanggaran
di lingkungan prajurit. Oleh karena itu, tinggalkan
model kepemimpinan yang feodalistik, membaur dan bersatulah
dengan anggotamu. Fenomena kepemimpinan yang feodal
inilah yang menyebabkan kepatuhan terhadap perintah
menjadi rendah, dan ini harus segera diperbaiki.
Hal ini diungkapkan Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu
pada Pembukaan Apel Danrem-Dandim Terpusat tahun 2003
bertempat di Secapa TNI AD, Bandung beberapa waktu lalu.
Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu mengatakan, Apel
Danrem-Dandim Terpusat tahun ini dilaksanakan dengan
tujuan untuk mengembangkan wawasan serta menyamakan
visi, persepsi dan interpretasi terhadap kebijaksanaan
pimpinan TNI Angkatan Darat dan permasalahan aktual
yang terkait dalam bidang pembinaan teritorial, sehingga
diperoleh kesamaan sikap dan tindakan di lapangan dalam
rangka menghadapi tuntutan tugas yang semakin berat
di masa datang.
Dalam konteks pembinaan teritorial, membangun komunikasi
dua arah dan membangun komunikasi sosial itu sangat
penting. Hanya kadangkala pernyataan seperti itu tinggal
sebagai slogan belaka, tanpa mengerti dan dapat melakukannya
secara kongkrit. "Ini sangat memprihatinkan, karena
di satu sisi kita ingin keberadaan satuan-satuan kewilayahan
TNI Angkatan Darat itu menjadi dekat dan milik rakyat,
di sisi yang lain aparat teritorial kurang responsif
terhadap permasalahan yang muncul dan berkembang di
wilayahnya", kata Kasad.
Lebih
lanjut pucuk Pimpinan TNI Angkatan Darat mengingatkan
bahwa sebagai tentara rakyat, yang berjuang bersama
rakyat dan untuk rakyat, TNI Angkatan Darat harus memainkan
peran yang besar dalam ikut membantu menyelesaikan masalah-masalah
rakyat seperti yang muncul belakangan ini. Itulah pentingnya
setiap aparat teritorial mengenali secara mendalam karakteristik
geografi, demografi dan kondisi sosial yang ada di wilayahnya,
sehingga satuan kewilayahan itu mampu melakukan tindakan
preventif terhadap kemungkinan masalah yang akan muncul.
Jadi membangun komunikasi dua arah dan membangun komunikasi
sosial yang kuat dalam rangka membangun kemanunggalan
TNI-Rakyat maka kenali secara mendalam karakteristik
ketiga aspek pembinaan teritorial itu. Aparat Teritorial
jangan hanya membangun komunikasi dua arah atau komunikasi
sosial hanya kepada individu-individu atau kelompok
tertentu saja di wilayahnya. Ini sangat merugikan pembinaan
teritorial dan berbahaya bagi terciptanya kemanunggalan
TNI-Rakyat ", tegas kasad lagi.
"Institusi
yang kalian pimpin adalah institusi atau satuan militer.
Ini artinya, bahwa setiap prajurit teritorial yang bertugas
di satuan-satuan kewilayahan tidak boleh menghindar
dari pemahaman yang mendalam dan penerapan yang konsisten
terhadap peraturan militer dasar dan pengetahuan dasar
kemiliteran. Jangan pernah berpikir bahwa prajurit-prajurit
yang bertugas di Korem, Kodim, Koramil dan Babinsa itu
tidak perlu memahami, menghayati dan melaksanakan Sapta
Marga, Sumpah Prajurit, Delapan Wajib TNI, Peraturan
Militer Dasar dan Pengetahuan Dasar Kemiliteran yang
menjadi pedoman hidup dan kehidupan prajurit. Ingat,
itu semua mutlak dihayati dan diamalkan oleh setiap
prajurit di mana pun dia bertugas", ungkap Kasad.
Lebih
lanjut menantu mantan Wapres Try Sutrisno tersebut mengatakan,
bahwa tanpa memahami, menghayati dan mengamalkan semua
pedoman itu dengan baik, apa yang kita cita-citakan
seperti tertuang pada visi TNI Angkatan Darat yaitu
solid, profesional, tangguh, berwawasan kebangsaan dan
selalu dicintai rakyat, hanya berupa angan-angan yang
kosong. Rendahnya pemahaman dan inkonsistensi penerapan
peraturan militer dasar dan pengetahuan dasar kemiliteran,
menyebabkan masih tingginya berbagai pelanggaran yang
mengakibatkan korban personel dan materiel secara sia-sia.
"Sebagai komandan satuan redam dan hilangkan pelanggaran-pelanggaran
di lingkungan prajurit di satuan masing-masing",
tegas Kasad.
Menghadapi
Pemilu Tahun 2004
Selanjutnya pada acara penutupan Apel Danrem-Dandim
2003 tersebut, Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu
mengatakan bahwa, keberhasilan pembinaan territorial
sebagai tugas terkandung akan sangat menentukan keberhasilan
TNI Angkatan Darat dalam menyelesaikan tugas-tugasnya
yang lain dengan optimal. Ke depan, tugas yang akan
dihadapi sangat komplek, terutama dalam menghadapi Pemilu
Tahun 2004.
Peristiwa
penting ini merupakan pertaruhan, akan ke mana negara
dan bangsa ini 5 tahun ke depan. Kita sangat berharap,
Pemilu itu menghasilkan kepemimpinan nasional yang mampu
membawa bangsa ini lepas dari jeratan ekonomi yang membuat
rakyat sangat menderita. Oleh karenanya, sebagai aparat
territorial, kalian cermati betul perkembangan lingkungan
yang terjadi agar dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan
yang tidak menguntungkan bagi suksesnya Pemilu itu.
Ke
dalam, pembinaan satuan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya
sehingga dapat mencegah kemungkinan timbulnya gangguan
pelaksanaan Pemilu oleh oknum prajurit, yang dapat berdampak
pada timbulnya masalah politik. TNI sudah komit bahwa
mulai tahun 2004 yang akan datang, akan keluar dari
kegiatan politik praktis di lembaga-lembaga legislatif,
seperti DPR. Sebagai perwira pilihan yang dipercaya
untuk membangun dukungan rakyat kepada TNI, kita harus
bersikap kritis, korektif, interaktif dan komunikatif
terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitar kita ",
tegas Kasad.
Pada
akhir pengarahannya Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu
mengatakan, kenali karakteristik wilayahmu secara utuh
agar kalian tidak terjebak pada pemecahan masalah yang
keliru. Hindari tampilan eksklusif, bangun opini positif
masyarakat terhadap TNI, khususnya TNI Angkatan Darat,
dan tegakkan rambu-rambu hukum dan disiplin dengan tegas
ke dalam. Tekan semaksimal mungkin penyebab terjadinya
benturan fisik antara aparat di daerah dengan melakukan
kegiatan integratif sesama aparat.
Hadir
pada acara penutupan Apel Danrem-Dandim 2003 tersebut
antara lain, Wakasad, Dan Kodiklat, Pangkostrad, Dan
Pusterad, Pangdam III/SLW dan sejumlah perwira tinggi
Angkatan Darat.
|