|
MEMBANGUN PRAJURIT DI PAPUA SEBAGAI ORANG PAPUA
Oleh
: G.T. Situmorang *
Kepala Penerangan Kodam XVII/Trikora
Kita tentu sering
melihat prajurit TNI di perkotaan dan di tempat-tempat yang terbuka
untuk umum. Penampilannya bisa diamati, baik ketika berjalan kaki,
berlatih ataupun pada saat melintas di jalan raya dengan kendaraan
bermotor. Sosok yang kita lihat itu sudah pasti bukan gambaran penampilan
prajurit secara utuh. Di Papua, khususnya di daerah terpencil dan
tingkat kerawanan di perbatasan RI-PNG, penampilan prajurit kita
sudah pasti tidak sama. Hakekat
ancaman yang sewaktu-waktu dapat membahayakan membuat prajurit di
wilayah ini harus mengakrabi hutan, menjauhkan keluh kesah karena
sulitnya medan. Tanggung jawab yang dipikul membuat mereka harus
rela makan seadanya, istirahat tanpa kasur dan berpantang pulas.
Kebahagiaan akan datang bila di benaknya timbul bayangan wajah kekasih
atau keluarga nan jauh di mata.Dua
sosok yang berbeda dalam satu organisasi. Bagaimana jika kita melihat
perbedaan antaranak bangsa dari berbagai latar belakang? Perbedaan
akan semakin banyak jika kita memang berhasrat mencarinya. Tetapi,
penonjolan perbedaan primordial dan perbedaan lain, umumnya akan
menjadi hambatan psikis dalam berinteraksi. Dalam hidup keseharian,
acapkali kita mendengar bahkan mengatakan putra daerah dan pendatang,
pada konteks dikotomi. Sangat menarik ketika 22 Juni lalu Pangdam
mengatakan, semua prajurit Kodam XVII/Trikora adalah orang Papua.
Pernyataan itu
disampaikan Mayjen TNI George Toisutta, tidak lama setelah menjabat
sebagai Pangdam XVII/Trikora, menggantikan Mayjen TNI Nurdin Zainal,
MM. Pada waktu itu, Pangdam menyebut para prajuritnya hidup dan
bekerja di Papua, dan karena itu harus merasa sebagai orang Papua.
Ia berharap, tidak seorang pun prajuritnya selalu memposisikan diri
sebagai orang Jawa, Makassar atau yang lain. Selanjutnya, sebagai
orang Papua, para prajuritnya diminta menggunakan ukuran-ukuran
Papua untuk kondisi lokal. Jika semua prajurit yang bertugas di
Papua ini, apakah yang memang berasal dari latar belakang etnis
Melanesia, etnis lain tetapi lahir atau besar di Papua, ataupun
yang baru mengenal Papua setelah menjadi prajurit, perlu waktu yang
tidak singkat.
Tetapi, bila
ada kesungguhan, ini akan menjadi modal berharga bagi pembangunan
prajurit TNI di Papua, dan jadi prakondisi yang baik bagi pembangunan
wilayah Papua. Sebagaimana makna kata "membangun", menjadikan
para prajurit yang bertugas di Papua sebagai orang Papua, perlu
perhatian pelbagai pihak, siapa saja yang mencintai kehidupan di
Papua ini. Membangun prajurit sebagai orang Papua tentu tidak akan
berhasil jika hanya datang dari keinginan prajurit. Memang, jika
semua prajurit di Papua telah menjadi orang Papua, itu akan membantu
dirinya melaksanakan tugas-tugas profesionalismenya dengan baik.
Namun, ibarat
hasil panen di ladang, tuaian yang lebih besar dari itu adalah sinergisnya
kekuatan komponen bangsa di daerah ini untuk membangun Papua. Kita
memerlukan niat baik atau goodwill dari semua komponen bangsa yang
ada di wilayah ini. Prinsip sederajat patut kita kembangkan bersama,
jika kita sepakat membangun prajurit TNI di Papua sebagai orang
Papua. Dengan prinsip sederajat, setiap prajurit tidak merasa dirinya
lebih rendah atau lebih tinggi dari sesama warga negara yang bukan
tentara.
Pun demikian
dengan kalangan nonmiliter, tidak memperlakukan dirinya jauh di
atas rekan sebangsanya yang serdadu. Interaksi sesama warga negara,
militer dengan nonmiliter, penduduk ras Melanesia dengan ras bukan
Melamesia, berlangsung dalam suasana kejiwaan yang setara. Membangun
prajurit setempat sebagai orang Papua, hanya akan terwujud bila
dalam kehidupan keseharian, prajurit itu menyatu dengan rakyat atau
masyarakat di lingkungannya. Adalah mustahil prajurit disebut sebagai
orang Papua, jika dia tidak bergerak dalam denyut nadi kehidupan
di Papua. Dia juga tidak mungkin bisa jadi orang Papua jika wawasan,
budaya, dan hidupnya bukan untuk Papua. Jika hanya sebatas wawasan
Papua, tentu tidak cukup. Orang
yang memiliki wawasan luas tentang Papua, tetapi tidak merasa memiliki
budayanya dan hidupnya bukan untuk Papua bukanlah orang Papua, tetapi
dapat disebut sebagai Papuanis. Menjadi seorang Papuanis memang
baik, tetapi kepapuaan prajurit harus lebih dari tingkatan ini.
Keyakinan keberhasilan membangun prajurit TNI menjadi orang Papua,
tentulah bertambah besar bila disertai dengan penumbuhan solidaritas
lintas profesi di Papua. Memaknai solidaritas dalam konteks ini,
agaknya tidak salah jika kita sebut Papua sebagai komunitas dan
kaum profesi sebagai anggota. Doktor W.A. Gerungan, ahli psikologi
dalam Psikologi Sosial (Eresco Bandung, 1987) mengatakan, terdapatnya
solidaritas yang tinggi di dalam kelompok bergantung pula kepada
kepercayaan anggota-anggotanya akan kemampuan kawan-kawannya untuk
melaksanakan tugasnya dengan baik.
Semua tugas
dan panggilan hati nurani dari semua komponen bangsa untuk memajukan
Papua, akan terlaksana dengan baik jika ada solidaritas profesi.
Kehidupan di Papua akan lebih baik, dalam suatu garis linier yang
progresif, andaikan semua kalangan profesi dapat mewujudkan solidaritas
yang tinggi. Dengan solidaritas itu, tidak ada satu profesi yang
senang jika mitranya dari profesi lain tidak berfungsi dengan baik.
Yang ada ialah dukungan. Hal
lain yang signifikan memberi keberhasilan upaya ini ialah peningkatan
peran kalangan humanis dan pelaku jurnalistik. Kalangan humanis
yang menonjol dalam sisi kemanusiaan, diharapkan dapat mengangkat
fenomena untuk kebaikan bersama. Praktisi jurnalistik yang handal
dalam pembentukan opini pun akan memegang peran penting. Karya-karya
jurnalistinya, yang disampaikan melalui media cetak maupun eletronik
akan mewarnai wacana publik, baik di perkampungan maupun di perkotaan.Menjadikan
prajurit TNI di Papua sebagai orang Papua, penting kita pikirkan
bersama, terlebih ketika prajurit Kodam XVII/Trikora berbahagia
dalam perayaan hari ulang tahunnya yang ke-53, pada 1 Agustus ini.
Selamat berulang
tahun, Ksatria Pelindung Rakyat!
|