DEMI NEGARA, TAK ADA KATA BERHENTI BERJUANG
(Catatan menyambut Hari Juang Kartika, 15 Desember 2005)
Oleh : G.T. Situmorang


"Tangan dan kaki rela kau serahkan, darah-keringat rela kau cucurkan. Bukan hanya untuk ukir namamu, ikhlas demi langit-bumi. Bersumpah mempertahankan setiap jengkal tanah. Merah merdeka, putih merdeka - warna merdeka", Ebiet G. Ade dalam lagu Seraut Wajah.Perjalanan sejarah memperlihatkan negara ini selalu saja berjerih payah menghadapi gejolak separatis. Sejak 1945 berdiri sebagai negara berdaulat, Indonesia telah berkali-kali melakukan operasi penumpasan aksi separatisme, nama lain dari pemberontakan kepada pemerintah RI.Contohnya cukup panjang untuk disebut. Ada pemberontakan DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo di Jawa Barat (1948), Andi Abdul Azis di Sulawesi Selatan (1950), DI/TII Daud Beureueh di Aceh (1953). Berikutnya ada pemberontakan Perlawanan Rakyat Semesta (Permesta) di Sulawesi, Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan (1957-1960) dan Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS)-Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) di Kalimantan Barat (1962).

Sampai saat ini ide dan aksi separatisme Papua masih berlangsung dan menjadi tantangan berat. Syukurlah, aksi-aksi separatis Aceh yang cukup melelahkan baru saja usai dengan kesepakatan kesetiaan kepada Negara Kesatuan. Ketika bumi nusantara berada dalam penjajahan dan pendahulu kita bergelut dengan politik devide et impera, kita bukanlah sebuah bilangan dalam tata pergaulan dunia. Kini, setelah enam dekade merdeka, sebagai hasil perjuangan berabad-abad, akankah bumi pertiwi kembali menangisi nasib anak-anak kandungnya? Kondisi bangsa begitu pelik di tengah ujian berat bagi Republik Indonesia yang berdiri sebagai Negara Kesatuan ini.Sesuai bunyi Undang-Undang, yang tampil di garis depan menumpas pemberontak dan perongrong kedaulatan bangsa adalah TNI. Bagaimanapun keadaannya, apapun resikonya, TNI harus sigap dan tangkas mempertahankan kedaulatan bangsa dan setiap jengkal tanah perjuangannya. Seperti lirik lagu Seraut Wajah yang dinyanyikan Ebiet G. Ade, apapun akan diberikan dengan sukarela. Semuanya - keringat, darah, tangan dan kaki - diberikan dengan sukarela demi tetap utuhnya negara.Mungkin, data prajurit yang harus kehilangan tangan, kaki bahkan nyawa karena tugas tempur tidak diketahui secara luas. Pada lain pihak, istri, anak dan keluarga dekat prajurit yang harus berjuang keras untuk hidup karena kehilangan sang penopang, mungkin juga luput dari perhatian publik.

Pada tahap awal masuk dalam dinas keprajuritan, keadaan ini tidak menjadi masalah karena diterima sebagai konsekuensi hidup serdadu. Bahkan, pada saat negara dalam keadaan damai, prajurit yang harus berangkat ke tempat tugas dari rumah (baca: kamar) kontrakan pun, tidak menjadi soal.
Saat ini konsentrasi prajurit tertuju pada peningkatan semangat juang dan profesionalisme. Darmabakti kepada nusa, bangsa dan negara tidak dapat ditawar atau luntur karena minimnya perhatian atau penghargaan. Mewujudkan darmabaktinya, TNI Angkatan Darat, yang hari ini, 15 Desember memperingati Hari Infanteri dan Hari Juang Kartika ke-60, telah menyatakan visi sebagai TNI Angkatan Darat yang solid, profesional, tangguh dan berwawasan kebangsaan serta dicintai rakyat.Seraya mengingat semangat kejuangan ketika melaksanakan operasi penumpasan pemberontakan di tanah air, pada saat yang berbahagia ini, para serdadu berseragam hijau kiranya perlu melihat bagaimana dirinya dalam visi Angkatan Darat.

Menilik kata kunci dalam visi itu, ada lima hal yang perlu dipikirkan bersama.
Pertama, setiap prajurit Infanteri perlu menelaah pengetahuan dan kemampuan keinfanteriannya. Demikian pula dengan prajurit multikorps lainnya, harus merasa perlu melihat tuntutan korps dibandingkan dengan kemampuan masing-masing. Tanggung jawab profesional, baik secara person maupun Satuan dapat diukur dari kemampuan menyeimbangkan tuntutan dengan kemampuan yang ada.
Kedua, setiap prajurit harus memastikan dirinya berada dalam hubungan yang solid dengan prajurit lain, terutama dalam konteks tanggung jawab internal. Ini juga penting jika keadaan menuntut hubungan kerja dengan Satuan lainnya. Solid berarti berada dalam kondisi yang sistemik dengan subsistem yang berkaitan.

Ketiga, profesionalisme yang terus meningkat dan dilaksanakan secara solid oleh prajurit dan Satuan, merupakan prakondisi tangguhnya jajaran TNI Angkatan Darat. Tuntutan tugas yang dapat dipenuhi kemampuan profesional, dan disertai kuatnya daya dukung antarperson yang disebut solid itu, cukup menjadi alasan untuk disebut tangguh. Keempat, semua kemampuan profesi, keadaan yang solid dan tangguh, sesungguhnya hanya akan berarti signifikan dengan tugas pokok jika berlandaskan wawasan yang baik dan kecintaan kepada bangsa. Memang bangsa kita begitu majemuk, dan sedang menghadapi sarat permasalahan. Wawasan dan rasa cinta itu akan menghantar prajurit pada sikap dan tindakan yang tepat. Ini penting, karena pada saat krisis multidimensi melilit bangsa, disinyalir banyak yang sudah tidak bangga lagi sebagai Warga Negara Indonesia. Kelima, cinta kepada prajurit berawal dari kemampuan menunjukkan jatidiri yang diharapkan rakyat. Semua pengorbanan rakyat untuk keperluan pertahanan Negara akan terlihat dikelola secara baik, melalui unjuk penampilan yang berkenan bagi rakyat. Tentara yang profesional, solid, berwawasan kebangsaan adalah semua yang diperlukan untuk jaminan kemampuan menjaga seluruh rakyat dan tumpah darah Indonesia. Tentara yang solid, profesional, tangguh dan berwawasan kebangsaan serta dicintai rakyat adalah kekuatan besar dalam pertahanan Negara. Tentara yang dicintai berarti mempunyai hubungan kerjasama yang baik, erat dengan rakyat. Hubungan seperti inilah yang selama ini kita kenal dengan kemanunggalan TNI-rakyat.

Sebelum memberangkatkan Peleton Beranting Yudha Wastu Pramuka Jaya Kodam XVII/Trikora di Distrik Nimbokrang, Jayapura, 9 Desember lalu, Bupati Jayapura Habel M. Suwae, S. Sos, MM mengatakan, kemanunggalan TNI dengan rakyat terbukti sangat ampuh dalam menghadapi tantangan bangsa, khususnya di Papua. Masalah di Papua cukup sarat, termasuk di dalamnya ialah ide dan aksi separatisme yang bersentuhan langsung dengan tugas pokok TNI. Prajurit Infanteri dan prajurit multikorps lainnya di jajaran Kodam XVII/Trikora bersama-sama dengan rakyat dan seluruh komponen bangsa, perlu melihat kekuatan besar dalam kemanunggalan ini. Seperti kata Bupati Habel Suwae, dalam amanat yang dibacakan Wakil Bupati Ir. Tunggul Simbolon, MA pada upacara pemberangkatan itu, kemanunggalan sangat ampuh menghadapi tantangan bangsa di daerah ini. Untuk itu, prajurit dan rakyat perlu sama-sama membangun komunikasi yang baik. Dengan komunikasilah prajurit bisa mewujudkan perlindungannya kepada rakyat. Sebaliknya, komunikasi pula yang mampu menghantar cinta dan dukungan rakyat kepada prajurit.Saat ini keinginan dan perjuangan prajurit hanya satu. Terjaminnya Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap utuh, dari Sabang sampai Merauke. Bukan yang lain.
Seorang prajurit telah merasa bangga jika dalam barisan, ia merasa negara ini aman karena ia ikut mempertahankan kedaulatan bangsa dan keutuhan wilayah tanah air. Ia sudah bahagia melihat tanda jasa yang menempel di pakaian dinas, meskipun itu tidak disertai peningkatan kesejahteraan materi.
Jangankan hanya itu. Tangan dan kaki rela diserahkan, darah dan keringat rela dicucurkan untuk mempertahankan Merah-Putih. Demi Negara, tidak ada kata berhenti berjuang.
Selamat Hari Infanteri TNI Angkatan Darat dan Hari Juang Kartika!
Penulis adalah Kepala Penerangan Kodam XVII/Trikora




Copyright ©2003 Dispenad, Jakarta-Indonesia. All rights reserved.
Webmaster: Dispenad.

Jalan Veteran Nomor 5 Jakarta Pusat