| |
|
PERWIRA
MILITER
DAN
PIMPINAN NEGARA DEMOKRASI
Oleh : Sayidiman Suryohadiprojo ( Mantan Gubernur Lemhannas
)
|
Masyarakat
masih ramai memperdebatkan apakah mantan perwira militer dapat bersikap
demokratis dan memimpin negara dengan sistem demokrasi. Perdebatan
itu muncul dengan ditetapkannya Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono
(disingkat SBY) oleh Partai Demokrat dicalonkan untuk menjadi Presiden
RI. Menjadi lebih hangat lagi ketika Konvensi Nasional Golkar memilih
Jenderal (Purn) Wiranto (disingkat Wiranto) sebagai calon Presiden
Partai Golkar. Dan ditambah lagi dengan dicalonkannya Jenderal (Purn)
Agum Gumelar menjadi Wapres, berpasangan dengan Hamzah Haz.
Ketika itu langsung
segolongan orang yang umumnya terpelajar hasil pendidikan tinggi
luar negeri dan berumur muda, melancarkan perdebatan bahwa mantan
Jenderal tidak mungkin dapat meninggalkan sikap militernya sekalipun
sudah pensiun. Karena itu tidak mungkin bersikap demokratis, apalagi
memimpin negara dengan sistem demokrasi. Maka kalau dalam pemilihan
Presiden nanti, SBY atau Wiranto terpilih menjadi Presiden RI periode
2004-2009 maka pasti demokrasi yang sedang tumbuh di Indonesia akan
berantakan, bahkan gagal berkembang, demikian kata mereka.
Apalagi ketika ada seorang purnawirawan jenderal menyatakan dan
dimuat dihalaman muka satu harian terkemuka di Jakarta bahwa militer
tidak demokratis. Yang dimaksudnya adalah bahwa militer sebagai
lembaga tidak berfungsi dengan sistem demokrasi. Dengan cepat ucapan
itu "dimanfaatkan" oleh mereka yang tidak suka munculnya
calon presiden dari mantan militer.
Mereka mengatakan, bagaimana mungkin lembaga yang tidak berfungsi
dengan sistem demokrasi dapat melahirkan orang-orang demokratis.
Mereka mengatakan pula, mungkin saja Amerika dalam sejarahnya berkali-kali
dipimpin mantan jenderal. Akan tetapi di negara itu, kata mereka,
tradisi demokrasi sudah amat kuat, sedangkan di Indonesia baru dimulai.
Tak Ada Jaminan
Dalam satu pertemuan, seorang cendekiawan LIPI malahan mengatakan,
sebagaimana diberitakan harian terkemuka Jakarta itu, mana mungkin
seorang Jenderal dapat menyusun konsep ekonomi atau pendidikan.
Sebab itu, sama sekali tidak ada jaminan bahwa mantan jenderal akan
menjadi presiden yang lebih efektif dan berhasil daripada yang sekarang.
Pendeknya, golongan cendekiawan muda iu benar-benar berusaha mempengaruhi
masyarakat agar tidak memilih SBY atau Wiranto nanti dalam pemilihan
presiden.
Namun orang-orang pandai yang amat terpelajar itu, sedang membuat
kesalahan berpikir mungkin dengan sengaja atau mungkin pula tidak
sengaja.
Pertama, mereka mengabaikan kenyataan bahwa manusia pada dasarnya
berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya untuk mencapai hal
terbaik dalam
kehidupannya. Makin cerdas dan energik orang itu makin berhasil
ia melakukannya. Seorang mantan militer yang sudah berstatus sipil,
akan berusaha untuk sebaik-baiknya menyesuaikan diri dengan perubahan
itu. Sebab penyesuaian itu akan menentukan keberhasilan atau kegagalan
dalam sisa hidupnya. Makin cerdas orang itu, serta makin banyak
menempuh pendidikan dan pengalaman, makin mampu ia melakukan penyesuaian
itu.
Dengan demikian adalah amat memandang rendah kepada kecerdasan SBY
dan Wiranto dengan berbagai pendidikan dan pengalaman yang mereka
tempuh bahwa mereka tidak dapat bersikap demokratis dan bahwa mereka
pasti mengembangkan militerisme dan otoritarianisme. Kalau lembaga
militer tidak berfungsi demokratis, itu tidak berarti bahwa seorang
militer diluar organisasi militer, apalagi kalau ia sudah purnawirawan
dan berkecimpung dalam lingkungan sipil, tidak dapat bersikap demokratis
dan pasti mengembangkan militerisme dan otoritarianisme.
Justru karena sebagai mantan perwira militer ia berorientasi kepada
sukses (there is no substitute for success), maka ia akan bersikap
demokratis dan mengembangkan demokrasi di Indonesia. Kalau tidak,
maka yang diperoleh adalah kegagalan. Dan SBY maupun Wiranto cukup
cerdas untuk manyadari itu. Sebab mereka cerdas dan ingin berhasil,
maka mereka tidak akan mengulangi hal-hal negatif dari kepemimpinan
mantan Presiden Soeharto.
Penilaian bahwa mantan jenderal tidak mungkin mengembangkan konsep
ekonomi dan pendidikan menunjukkan bahwa yang menyatakan itu kurang
paham tentang manajemen organisasi besar. Pimpinan organisasi besar
adalah sekaligus manajer yang baik. Sebagai manajer yang baik ia
tidak akan melakukan segalanya sendiri, melainkan memilih pembantu
yang pakar dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi dan pendidikan.
Sebagai pimpinan dan manajer ia seorang generalis yang pandai melihat
keseluruhannya dengan
mengindahkan bagiannya. Tim Ekonomi membuat konsep ekonomi. Namun
hanya pemimpin yang mengambil keputusan apakah konsep itu dikerjakan
atau tidak, kemudian sebagai pimpinan negara, ia pula yang melaksanakannya.
Tentu pakar yang dipilih adalah pakar yang pandangan ekonominya
tidak bertentangan dengan visi kepemimpinan yang telah ditetapkan.
Kalau visi kepemimpinan menetapkan pengembangan ekonomi rakyat,
tidak akan dipilih pakar ekonomi yang tergolong neo liberalis atau
market-fundamentalist.
Pemimpin
Sipil
Bicara tentang militerisme, justru dalam sejarah, militerisme lebih
banyak dikembangkan oleh pemimpin sipil, seperti Adolf Hitler di
Jerman. Sedangkan mantan militer cukup banyak meninggalkan warisan
yang cemerlang untuk peradaban. Lihat saja Napoleon Bonaparte, George
Washington, Winston Churchill.
Jadi yang harus diperiksa adalah orangnya, yaitu track record, cara
pandangnya, kebiasaan hidupnya. Akan tetapi yang terpenting adalah
nanti setelah menjabat, apakah benar mengembangkan kepemimpinan
yang memajukan negara dan bangsa.
Kita mengalami kekecewaan ketika Presiden Abdurrahman Wahid bersikap
beda sekali dengan apa yang kita lihat sebelum menjabat presiden.
Orang yang dikenal sebagai demokrat, berubah menjadi presiden yang
sering otoriter dan tidak demokratis. Sebab itu, yang amat penting
adalah berjalannya kontrol atas jalannya pekerjaan presiden dan
tanpa ragu-ragu ditegur kalau menjalankan kekurangan dalam kepemimpinannya.
Akan tetapi, untung sekali bahwa bagian terbesar bangsa kita berpikir
lebih masuk akal dan tidak mau terjebak dalam dikotomi sipil-militer.
Buat mereka yang penting adalah calon presiden menimbulkan kepercayaan
dan harapan akan bekerja baik serta menghasilkan kemajuan dan kesejahteraan
lebih banyak bagi rakyat banyak.
Maka sebaiknya orang yang menolak mantan jenderal TNI, merangsang
dan mendorong para capres sipil seperti Megawati Soekarnoputri,
Amien Rais, agar dapat mengungguli SBY dan Wiranto dalam merebut
kepercayaan rakyat. Kalau itu dapat terwujud pasti kita tidak akan
mempunyai presiden baru yang mantan jenderal TNI. ***
Dikutip dari
Suara Pembaruan 7 Juni 2004
|