| |
|
KONSPIRASI DI BALIK UNJUK RASA
ANTI MILITERISME
Oleh : Drs. FX Suarif Arifin, M.Psi.
Staf Pengajar Unika Atma Jaya
|
Tulisan ini diawali dengan keprihatinan mendalam atas aksi kekerasan
yang dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap mahasiswa yang melakukan
unjuk rasa di kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makasar
pada 1 Mei 2004. Syukurlah, KAPOLRI telah bersikap dan bertindak
cepat dengan tanggap mencopot beberapa perwiranya yang dipandang
melakukan penyimpangan prosedur. Sementara menanti lebih lanjut
langkah-langkah selanjutnya kita berharap bahwa hal itu terakhir
yang terjadi di ibu pertiwi ini.
Sebenarnya tatkala melihat liputan televisi, sejenak terbesit dalam
benak kita apakah unjuk rasa anti militerisme yang marak belakangan
ini merupakan konspirasi untuk "menyingkirkan" calon-calon
presiden yang purnawirawan TNI, tegasnya Jenderal TNI (Purn) Wiranto
dan Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono. Pembakaran atribut
pakaian militer oleh beberapa mahasiswa sungguh sangat disesalkan
karena bukan menghina korps militer tetapi juga institusi negara
yang dilindungi oleh Undang-Undang.
Bagi mereka yang pernah melihat unjuk rasa dan melihat bagaimana
perlakuan aparat terhadap wartawan dan juru kamera tatkala mereka
mengabadikan perlakuan sadis aparat terhadap peserta unjuk rasa,
rasanya aneh melihat liputan televisi swasta yang dapat menyiarkan
secara lengkap dan utuh peristiwa berdarah tersebut. Apakah polisi
yang sedang menggebuk mahasiswa UMI dengan pentungan tidak mengetahui
bahwa mereka sedang diliput televisi ataukah mereka termasuk polisi
dan mahasiswa sedang bermain sinetron yang menginjak-nginjak kemanusiaan.
Oleh karena itu, wajarlah tuntutan banyak pihak agar peristiwa itu
dituntaskan dalam penegakkan hukum sehingga dapat dicari aktor intelektualis
dibalik unjuk rasa berdarah.
Berbeda pendapat dalam alam demokrasi dan reformasi adalah wajar,
sehat dan harus dihormati. Namun bila perbedaan pendapat tersebut
diikuti dengan tindakan anarkis dan melawan hukum, apakah harus
dibiarkan atas nama pendidikan politik dan demokrasi, sama halnya
dengan pertanyaan dari kelompok yang sinis terhadap militerisme,
apakah unjuk rasa tersebut harus selalu dihadapi dengan kekerasan.
Kedua pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi wacana bagi kalangan
akademia agar dapat menunjukkan kedewasaan intelektual tanpa mengumbar
penistaan, permusuhan dan hasutan sehingga dapat dihindarkan benturan-benturan
yang tidak perlu terjadi.
Walaupun Jend. (Purn) TNI Wiranto dan Jend. (Purn) Susilo Bambang
Yudhoyono berasal dari kalangan militer, mereka kini bukan militer
tetapi hanya sebagai purnawirawanTNI. Bila kedua beliau ini mewakili
militer tentu pada instansi pertama KASAD dan Panglima TNI akan
segera berbicara perihal keduanya. Padahal sudah sejak awal, kedua
petinggi TNI tersebut telah menghimbau agar tidak ada partai politik
yang menyeret-nyeret militer dalam kancah politik. Netralitas TNI
harus dihormati, bahkan Panglima TNI berani menolak lirikan kalangan
pihak-pihak tertentu untuk mematut-matutkan dirinya untuk berkiprah
dalam kancah politik. TNI tidak berpolitik praktis dan hanya menjalankan
politik negara sesuai Pancasila dan UUD 1945.
Kelemahan politik nasional kita adalah kita tidak pernah mau belajar
dari sejarah. Keretakan Dwi Tunggal Soekarno-Hatta hanya menjerumuskan
Bung Karno menjadi diktator dengan Demokrasi Terpimpin melalui Dekrit
Presiden 5 Juli 1959 tanpa ada satu pihakpun yang mampu mencegahnya.
Waktu itu, kita memaklumi
Soekarno karena kita berada dalam suasana progresif revolusioner
untuk merebut Irian Barat. Keberhasilan politik Soekarno menjadi
magnit untuk membenarkan sikap dan perilakunya yang kelak bermuara
dengan pemberontakan Komunis Gerakan 30 September 1965 yang didalangi
oleh PKI.
Begitu juga pada awal reformasi, keretakan Dwi Tunggal Gus Dur dan
Megawati yang berakhir dengan pelengseran Presiden Gus Dur melalui
Sidang Istimewa MPR merupakan pelajaran mahal bagi bangsa Indonesia
untuk memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. Sekarang ini tatkala
demokrasi beranjak maju ke arah sistem pemilihan umum Presiden dan
Wakil Presiden secara langsung, kita disuguhkan gambaran yang jauh
dari wacana demokrasi itu sendiri. Padahal rakyat Indonesia dalam
setiap pemilihan umum selalu dikatakan sudah dewasa, namun gambaran
yang disajikan tidak lebih hanyalah pembodohan.
Bukan bagaimana memaparkan program dan pakar yang kelak menangani
permasalahan bangsa dan negara yang semakin terbebani hutang, angkatan
kerja dan kelesuan ekonomi serta korupsi malah yang terlihat adegan
pinang-meminang wakil presiden dan sampai-sampai ada yang berkata
tergantung siapa yang paling banyak memberikan mas kawinnya. Walaupun
kiasan, khalayak sadar dan tahu apa yang dimaksud. Padahal yang
diperlukan adalah kerjasama yang baik dan bukan sekedar formalitas
antara Presiden dengan Wakil Presiden. Jadi sangat layak jika ada
harapan agar yang dipilih rakyat adalah pasangan Calon Presiden
dan Wakil Presiden yang sebelumnya pernah bekerjasama dalam tim
yang kompak dalam menangani masalah-masalah bangsa dan negara, bukan
memilih kucing dalam karung yang sudah atau belum kita ketahui reputasinya.
Biarlah rakyat yang memilih dan menentukan !.
Bagi mereka
yang kini sudah menyadari bahwa sesungguhnya purnawirawan adalah
SIPIL janganlah mereka diberi stigma negatif seakan-akan militer
itu berkonotasi jahat, buruk atau sadis. Pengertian keliru ini harus
diluruskan, apalagi bila yang mengemukakannya adalah pribadi-pribadi
yang memperjuangkan HAM (Hak Asasi Manusia). Menjadi militer itu
baik karena itu berarti bela negara, namun harus diakui bahwa membela
negara tidak harus selalu menjadi militer dan jangan pula militer
selalu disudutkan. Kepala Staf TNI Jenderal TNI Urip Sumohardjo
semasa Panglima Besar Jenderal TNI Sudirman pernah berujar, mana
ada negara tanpa tentara. Singapura yang sedikit penduduknya memiliki
militer dengan persenjataan yang lebih caggih dari Indonesia. Sebagai
sesama bangsa, kapan kita akan berhenti untuk saling mendiskreditkan
satu sama lain. Seharusnya kita memberikan kontribusi yang lebih
besar untuk memelihara dan membangun bangsa ini dan bukan menghancurkannya.
Seusai kunjungan silaturahmi kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X
dalam rangka mendapatkan masukan dari tokoh-tokoh nasional yang
berwawasan luas, calon presiden dan purnawirawan TNI Susilo Bambang
Yudhoyono mengatakan pada hari Rabu 5 Mei 2004 bahwa beliau dapat
memahami sikap sebagian mahasiswa yang anti pati terhadap calon
presiden yang dulunya berasal dari kalangan tentara dan beliaupun
dapat memahami bila mereka tidak memilih calon presiden tersebut
karena berbeda pendapat adalah wajar dalam demokrasi dan kita pun
menghormati pandangan mereka. Namun pada kesempatan yang sama, beliau
menghimbau agar mahasiswa tersebut juga mau menghormati pandangan
rekan-rekan mahasiswa lainnya yang bersimpati dan memilih calon
presiden tersebut. Pandangan yang dikemukakan Susilo Bambang Yudhoyono
yang jernih ini, menurut hemat penulis telah ikut menjaga dan memelihara
tradisi TNI AD yang berusaha menciptakan suasana yang kondusif bagi
pembangunan bangsa dan negara.
Menjadi lebih jelas lagi penegasan Panglima TNI Jenderal TNI Endriartono
Sutarto pada hari yang sama bahwa sampai saat itu 5 Mei 2004 belum
ada calon presiden yang mantan anggota TNI sowan (minta restu) ke
Markas Besar TNI terkait masalah pencalonan mereka itu. Lagi pula,
sebagai mantan anggota TNI mereka tidak terkait lagi dengan istitusi
itu sehingga sowan seperti itu tidak perlu. Bahkan dikatakan, mereka
tidak memiliki hak untuk meminta restu atau dukungan kepada institusi
TNI sebab mereka sudah bukan anggota TNI lagi, komitmen TNI untuk
bersikap netral, tidak berpihak dalam Pemilihan Umum merupakan sikap
dan keputusan yang sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi. Terbukti
sikap dan pilihan tepat ini menempatkan TNI sebagai institusi yang
tegar dan terhormat, serta dihormati banyak pihak !
Kita menghargai jerih payah PanglimaTNI dan Kasad yang berusaha
membawa TNI dalam perahu besar Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bila segala ikhtiar dan usaha sejalan dengan aman ma'ruf nahi mungkar(menjalankan
perintahMu ya Allah dan menjauhi laranganNya) maka memang benar
TNI-AD itu adalah Terima Nasib ini Apa Adanya, semua kita kembalikan
kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Insya Allah. ***
|