26. Implication of Emerging Technologies. Tiga implikasi besar yang dapat diidentifikasi meliputi doctrine and culture, acquisition reform, and system architecting.

a. Doctrine and Culture. The revolution in C31 is dominated by technology push. The implication for doctrine and culture will be extensive - will be less traditions hierarchy and more scope and need for individual initiative. There will be changes in recruitment, training, and personnel management, as well as in the conduct of campaigns, and development of the underpinning doctrine.
b. Acquisition Reform. Akan terjadi perubahan mendasar dalam kegiatan pengadaan barang dan jasa : alat peralatan, senjata dan lain-lain, meninggalkan cara tradisional. Dalam kasus ADF akan diterapkan secara serius a commercial - off the shelf (COTS) philosophy. Akan digunakan battle lab approach. Processes for evolutionary acquisition are being developed.
c. System - Architecting. Akan terjadi perubahan dalam C31 yang kompleks itu, untuk menjadikan "system of system" ini agar bisa secara lebih baik interconnect or interact. Dalam kasus Australia, terjadi perubahan dalam struktur komando ADF.

27. Kesimpulan, Implikasi Mendasar Berkaitan Dengan Penggunaan Teknologi

a. Berpotensi memberikan kemampuan yang lebih besar kepada para komandan dan prajurit di lapangan, namun dengan tantangan agar lebih menguasai potensi yang kompleks ini.
b. Pengumpulan data, pengiriman, dan merubah menjadi informasi serta menyampaikan kepada orang yang tepat dalam waktu yang tepat dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan aman.
c. Kebanyakan dari teknologi ini dikembangkan secara cepat oleh sektor sipil. Pihak militer dan Dephan dapatmengoperasikannya secara bersama dengan sipil (interoperability).
d. Agar dapat menggunakan teknologi baru ini secara maksimum diperlukan perubahan dalam bidang doktrin, budaya, taktik dan struktur.
e. Akan dibuat perubahan dalam proses pengadaan barang dan jasa, dan menerapkan battle lab approach.
f. Medan laga (battlefield/battlespace) akan dapat dilihat dengan baik oleh non-participant. Politik dan opini publik akan menambah tekanan pada pemilihan teknologi seperti precision strike dan non-lethal weapons.

V. INFORMATION AGE WARFARE

Sun Tzu : All warfare is based on deception. Supreme excellence consist of breaking the enemy resistance without fighting.
Mao Tse-tung : The mind of the enemy and of his leaders is a target of far more importance than the bodies of his troops.
28. Information Warfare (IW) - actions to achieve information superiority in support of a national strategy by affecting adversary information and information systemwhile enhancing and protecting friendly information.

Command and Control Warfare (C2W) - the approach to military operations which employs all measures (including but not limited to opperations security, military deception, psychological operations, electronic warfare and targeting), in a deliberate and integrated manner, mutualy supported by intelligence and information system, to distrupt, or inhibit an adversary's ability to sommand and control his forces while protecting and enhancing our own.

Ciri daripada I.W : asymetric threats; information technology competition; the race of decision cycles; network organisation; disinformation operations, and the race in R & D cybernetices.
I.W dilaksanakan dalam bentuk : covert intelligence gathering, deliberate corruption of data : denial of data, and destruction of computer networks.

The dominating factor of warfare in the information age be deception - the manippulation of information to deny knowledge to or to deceive an opponent.
deceive = Persuade of what is false, mislead puposely .....
deception = deceiving or being deceived; thing that deceives, tried, sham .....
perceive = apprehend with the mind, observe, understand, apprehend through one of the senses, especially sight; regard mentally in specified manner.

The deception is even more firmly entrenched at the core warfighting art in this Information Age, because it deals in perceptions which are formed by information. In war, to deceive is to cause an enemy - alert, astute or otherwise, to misperceive a stuation. Berkaitan dengan hal ini Mao Tse-tung mengatakan : to acheive victory we must as far as possible make the enemy blind and deaf by sealing his eyes and ears, and drive his commanders to distracting by creating confusion in their
minds.

29. Dengan terjadinya kemajuan pada semua sarana komunikasi strategik, tindakan pengelabuan militer (military deception) mencapai jangkauan baru dan fokus (sarana) baru yaitu persepsi dari para pimpinan nasional dan pimpinan militer strategik. Dimensi baru pengelabuan ini tidak menggantikan fokus utama di medan tempur atau mandala namun bersifat melengkapinya. Tindakan pengelabuan hendaknya dilakukan melalui perencanaan yang matang mempertimbangkan berbagai aspek terkait, dan didasarkan atas masukan yang signifikan. Karena pilihan, cara dan sarana untuk mengetahui musuh cukup komppleks, maka tindakan pemecahan dan tindakan lanjutan yang menyertainya harus sedapat mungkin terpusat untuk mencapai sasaran kegiatan pengelabuan yang telah ditetapkan. Tindakan pengelabuan yang dilakukan menggunakan sarana elektronik cukup berpotensi berbahaya bagi para komandan satuan pada tingkat taktis. Sebaiknya tindakan ini dilakukan oleh para komandan pada tingkat yang lebih tinggi. Lalu timbul pertanyaan apa yang menjadi tolak ukur untuk menilai bahwa tindakan pengelabuan tersebut berhasil dilakukan?

Pada masa lalu pengerahan pasukan yang salah oleh lawan atau kegagalan lawan mempersepsi dan mengambil keuntungan dari situasi yang terjadi, dapat digunakan sebagai tolok ukur untuk menilai keberhasilan tindakan pengelabuan. Pada tingkat kampanye/theatre level, eksploitasi secara komperehensif (menyeluruh) dari spektrum elektromagnetik menjadi sangat krusial.

30. Untuk suatu pasukan modern hal penting adalah memiliki informasi; dan kemudian memiliki kemampuan-kemampuan mendapat, memproses/mengolah, mengevaluasi, menyebarkan dan mengeksploitasi informasi tersebut. Sistem informasi tersebut dan khususnya software yang berfungsi membentuk, memilih dan mengirim informasi merupakan kekuatan pengganda baru. Kekuatan militer yang telah menggunakan high-tech ini mengarah untuk merekrut dan melatih personilnya dalam jumlah yang cukup untuk bisamengerti dan mampu mengeksploitasi potensi dari new smart system. Perlombaan untuk menjadi "lebih cerdik" ini mempersyaratkan perhatian besar dalam sistem latihan dan institusinya, dengan tetap mempertahankan budaya tradisional, nilai etika dan profesionalisme, dan kemahiranserta dipadukan dengan disiplin baru. Teknologi baru juga mendukung penyebaran simulasi yang memungkinkan 'virtual-battle' pada satuan bawah sampai kepada tingkat individu.

31. Cooperation. Peperangan modern pada umumnya melibatkan kegiatan aliansi dan koalisi dalam ukuran besar. Keadaan ini menghendaki adanya jaringan liaison, latihan bersama, dan pertukaran informasi, sesuai dengan hakekat daripada koalisi adalah partnership. Agar koalisi dapat berjalan sukses kata kuncinya adalah cooperation (kerjasama). Shared information merupakan syarat utama bagi keberhasilan kampanye koalisi maka sharing of intelligence dikurangi sampai ke tingkat of the lowest sommon denominator. Satuan militer yang terlibat dalam koalisi harus mampu melindungi shared information dengan cara yang benar guna menjaga arti dari suatu koalisi yang baik.

32. The State, the Military, the Enemy and the Media. Warfare in the Information Age-plainly make information a tool or weapon or war to a greater degree and probably to a greater effect than has been the case in the practice of war up until this time. CNN dan media massa multinasional lainnya masih merupakan faktor penting didalam era informasi dan juga dalam peperangan. Para komandan harus ekstra hati-hati dengan dampak peliputan kegiatan pasukannya, karena kecepatan media massa electronic menampilkan kejadian secara real-time - melampaui kecepatan penyampaian laporan lewat jalur hierarki komando. Dukungan publik kepada satu kesatuan militer dibentuk melalui citra media yang ditampilkan. Setiap komandan pada era modern ini harus benar-benar awas atas pengaruh media dan penilaian yang dibuat oleh media tersebut. Juga perlu diwaspadai suatu waktu media massa elektronik dapat melakukan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai "the growing fictionalization" - distort, exploit, go for an angle, editorialise it reporting and sometimes plain fabricate - all in order to get and maintain a ratting lead over some competitor.

33. The Way Ahead. Bagaimana menjawab fenonema dari Information Age Warfare? Pendekatan yang dipakai harus bi-focl : it must keep a clear eye on the horison of development and change in technology and society; it must also keep a sharp fokus on how to maintain the strengths of the present. Kita tak ada ppilihan lain - kita harus mengerti dan menerima perubahan-perubahan yang berlaku. Para pemikir militer dan strategik harus memberi peringatan kepada masyarakat luas bahwa "the networking or globalization of future conflict", dimana kekerasan dilakukan untuk membentuk persepsi
ditayangkan pada layar TV atau juga menayangkan di TV kejahatan terhadapp "the bank balance" pada ATM. Dikehendaki realisasi yang lebih luas untuk direfleksikan pada tingkat doktrin, pendidikan profesional, latihan, rencana kontijensi, dan kebijakan pertahanan dan keamanan.

VI. THE INTELLIGENCE FORCE

34. Intelijen merupakan aspek penting dalam rangka memenangkan the furture warfare yang bersifat kompleks, berspektrum lebar (dari guerilla warfare s.d thermo nuclear exchange) dan berbeda jauh dibandingkan dengan cara peperangan di masa kini dan masa lalu; ditambah dengan adanya pembatasan-pembatasan terkait dengan international law (konvensi Geneva, den Haag, Wina), dan adanya isu-isu global yang banyak mempengaruhi opini masyarakat dunia tentang peperangan, serta adanya perkembangan lingkungan strategik global, regional, dan nasional. The Nature of Future Warfare khususnya berkaitan dengan penggunaan High-tech weapon system, cyber-war; lies and deception; dan brain warfare, mempersyaratkan tersedianya intelijen dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu sesuai kebutuhan satuan pada tiap tingkatan. Cyber-war dan information warfare menempatkan informasi baik sebagai sasaran maupun senjata.

35. Semua operasi militer memerlukan intelijen. Kegiatan intelijen dimulai sejak berakhirnya suatu peperangan, hal ini dilakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi konflik bersenjata berikutnya. Pengorganisasian badan intelijen dilakukan berdasar pada doktrin angkatan perang yang bersangkutan, disusun dari tingkat atas sampai tingkat bawah secara cermat dengan jaminan dapat melaksanakan fungsi intelijen dengan baik sesuai tingkatannya berdasarkan intelligence cycle. Kekuatan personil tiap satuan intelijen dan alat peralatan yang dibutuhkan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku (TOP), disertai upaya yang terencana dan berlanjut untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan personil dan satuan intelijen.

Kita mengenal badan-badan intelijen di beberapa negara seperti Indonesia : BIN, BIA dan Badan Intelijen Kepolisian; untuk Amerika Serikat - CIA, DIA, FBI, NSA, BIR; untuk Inggris - M16/SIS, DIS, M15/SS; Israel - Mossad, Aman, Shin Beth; Perancis - DGSE, 2d Bureau, DST; Australia - ASIO (militer), ONA (sipil); Russia - KGB, GRU. Untuk badan yang bertugas untuk mengontrol badan-badan intelijen tersebut, besarnya jumlahnya staf dan besarnya anggaran untuk intelijen berbeda-beda dari satu negara ke negara lainnya.

36. Bertolak dari sifat asli/nature dan bentuk dari the future warfare yang berspektrum lebar dan komplekstersebut dipersyaratkan kepada individu dan satuan intelijen terkait sesuai tingkatan dan fungsinya untuk memiliki dan menguasai kemampuan-kemampuan intelijen agar dapat melaksanakan fungsi-fungsi intelijen sebagai berikut : strategic intelligence (SIG INT); electronic intelligence (EL INT); communication intelligence (COM INT); human intelligence (HUM INT); maritime intelligence (Maret INT); dan (tactical) air intelligence (AIR INT); dengan menggunakan alat peralatan mulai dari GSR, REMS sampai kepada RPV, UAV, dan AWACS.

37. Sebagai contoh dapat dijelaskan disini "Intelligence Asset Availability" dari pasukan AD Amerika Serikat.

Informasi COMINT diperoleh dengan cara memonitor sistem radio dan telepon lawan
Informasi ELINT diperoleh dengan cara menyadap signal-siganl elektronik non komunikasi lawan seperti radar.

VII. PENUTUP

a. The Future Warfare merupakan fenomena baru - jenis dan bentuk peperangan yang baru - yang dilaksanakan dengan cara-cara yang berbeda - bersifat kompleks/integrated, dan berspektrum lebar (guerilla warfare s.d thermo nuclear exchange), dan dengan potensi korban yang tidak terbayangkan.
b. Cara peperangan baru ini dapat dikatakan sangat memanfaatkan perkembangan pesat teknologi terutama informasi dan kemajuan yang pesat di bidang eletronika, disamping itu juga memanfaatkan perkembangan di bidang new composite material, stealth, jenis baru explosive dan amonition, serta kemajuan terakhir di bidang biological dan chemical.
c. Cara peperangan baru ini dalam beberapa sisi juga bersaspek "maya" sehingga term/istilah battlefield - berubah menjadi battlespace. Dengan demikian ada bagian dari cara peperangan baru ini yang disebut dengan cyber-war atau the brain warfare. Aspek lainnya- berupa asymetric warfare - peperangan antara dua kekuatan yang tidak berimbang misalnya antara Amerika Serikat dengan kelompok teroris Al-Qaeda, ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan dimana Korea Utara memiliki kemampuan nuklir dan peluru kendali melampaui Korea Selatan. Dalam kasus ini pihak yang lebih kecil misalnya kelompok teroris Al-Qaeda cenderung menggunakan taktik terorisme melawan Amerika Serikat dan sekutunya.
d. Beberapa masalah penting yang masih terkait erat dengan the future warfare seperti strategic manoeuvre, the joint application of force, the impact of emerging technologies, information age warfare, dan the intelligence force perlu mendapat perhatian serta perlu dipahami dengan lebih baik karena dengan penguasaan ke lima masalah tersebut akan memberi ppeluang keberhasilan yang lebih besar dalam menghadapi the future warfare.
e. The Intelligence force menempati posisi, peran, dan fungsi yang sangat menentukan dalam memenangkan bentuk-bentuk dari the future warfare. Tanpa intelijen yang baik mustahil untuk memenangkan suatu peperangan, lebih-lebih menghadapi the future warfare yang berskala luas, berspektrum lebar, beraspek kompleks, dan dengan kemungkinan korban yang tidak terbayangkan.

 



Copyright ©2003 Dispenad, Jakarta-Indonesia. All rights reserved.
Webmaster: Dispenad.

Jalan Veteran Nomor 5 Jakarta Pusat