PEPERANGAN YANG AKAN DATANG
(THE FUTURE WARFARE)

Oleh : Mayjen TNI (Purn) I.G.N. Arsana, PSC.,SE.,MM

I. PENDAHULUAN

1. Peperangan yang dilakukan manusia dengan sesamanya telah berusia sama dengan kelahiran manusia di dunia. Jenis, cara dan bentuk peperangan senantiasa mengalami perubahan dari sejak masa pra sejarah sampai ke jaman era elektronik saat ini. Keadaan ini dipengaruhi antara lain oleh terjadinya perubahan lingkungan strategik, perkembangan pesat teknologi di berbagai bidang semakin terbatasnya persediaan sumber daya yang ada dan semakin meningkatnya kebutuhan manusia akan sumber daya untuk mencukupi kehidupannya. Peperangan dimasa yang akan datang memiliki sifat hakiki, cara, jenis dan bentuk yang berbeda dari peperangan sebelumnya.

The Nature Of Future Warfare : High-tech weapon systems, networks and netwars (cyber war), asymmetric warfare, lies and deception, and the brain warfare.
Modern warfare ditandai dengan penggunaan : Remote Guided Operations, penggunaan SATKOM, GPS, Video Camera, Laser Guided; networked- elite ground forces and precisions guided bombing; massive bombardment by sea (cruise missiles) and by air (smart bombs); Special Ground Forces, Occupation Forces, Engeneering Forces and Police Forces.

2. The Future Warfare mencakup permasalahan yang cukup luas dan kompleks dalam hal ini hanya difokuskan kepada pokok pembahasan sebagai berikut :
- Strategic Manoeuvre : A Study in Military Method and Policy Tehnique
- The Joint Application of Force
- The Impact of Emerging Technologies
- Information Age Warfare
- The Intelligence Force

Dalam upaya memahami aspek-aspek penting dari The Future Warfare sehingga memberi peluang keberhasilan dalam menghadapi jenis dan bentuk baru peperangan dimasa mendatang.

II. STRATEGIC MANOEUVRE : A STUDY IN MILITARY METHOD AND POLICY TECHNIQUE

3. Sejak tahun 1989 new technology, conventional war, intra-state and cultural conflict, ethnic violence and societal disintegration telah muncul dengan cepat mengancam stabilitas internasional. Dalam suasana tidak menentu ini, bermunculan banyak ide/pemikiran tentang strategi for future war. Beberapa pakar mengatakan bahwa dunia bergerak menuju an Information Age yang ditandai dengan a Revolution in Military Affairs (RMA). Beberapa pakar AU mengatakan bahwa precision air power akan menjadi the decisive arm of warfare. Dikalangan AP negara barat ada kecenderungan kembali ke conventional operations yang memberi peluang dilakukannya operation art dan memberikan rangsangan kepada high techonogy manoeuvre warfare.

4. Pada era 1980-an telah terjadi peningkatan minat kepada manoeuvre warfare et the tactical and operational level dikalangan AP negara-negara barat. Keberhasilan penggunaan kekuatan konvensional pada Perang Teluk nampaknya memberi validasi kepada pendekatan Air-Land Bantle approach yang ditujukan oleh AD Amerika Serikat tahun 1990-an merupakan era kebangkitan kembali minat kepada para ahli strategi dan teori manoeuvre and the indirect approach seperti : Sun Tzu, Liddlell Hart, J.F.C. Fuller dan Richard Simpkin.

5. Untuk dapat mengerti apa itu Strategic Manoeuvre, seseorang harus mengerti the nature of strategy. Strategy is an art rather than a science, nothing is fixed in strategy. Strategy is an art rather than a science, nothing is fixed in strategy. Pakar teori strategi Andre Beaufre dan Edward Luttwak membuat analogi proses strategi sebagai a motion picture. Pakar strategi Prancis, Raoul Castex, mengatakan strategi tersebut sebagai dua tingkatan yang berhubungan .... the two levels of policy and tactics menggunakan analogi the solar spectrum ..... infra red = policyt dan ultra violet = taktis. Terdapat lima tingkat/level strategi yaitu : the technical, the tactical, the operational, the teatthre strategy, dan grand strategy.

6. Raoul Castex mengatakan ..... to manoeuvre is to move intelligently in order to create a favourable situation.
Manoeuvre becomes the pinnacle of the art (of war). Castex menyatakan bahwa strategic manoeuvre dapat dipandang sebagai :
1) as military method ---- inthe classical tradition of seeking decision in the field
2) as plicy technique ---- as part of a broaden war strategy which may involve many non military factors

7. The Dua Levels of Strategic Manoeuvre
- At first level of military method ------ strategic manoeuvre ia part of military art, dapat dipandang sebagai an operation technique used by battle commander to gain victory in war.
Lidell Hart ------ memberi definisi strategy as the art of distributing and applying military menas to fulfil the ends of policy.
- At second level of policytechnique ----- strategi manoeuvre is much broader. It occurs as part of security policy it self in the form of grand or total war strategy. Strategic manoeuvre might involve a complex of political, social, and economyc factors as well as military means to fulfil policy decision.
Andre Beaufre memberi definisi strategy broadens to become art of the dialectic of two opposing will using forces to resolve their dispute.

8. Strategic manoeuvre as militrary method pada tingkat military method, strategi manoeuvre berkaitan dengan generalship and operational art. Pada awal abad ke-20 Inggris mengklasifikasikan strategic manoeuvre sebagai 5 (lima) pprinsip-prinsip dasar operasi. Striking at the enemy's line of communications; compelling an enemy to form front to flank; interior versus exterior line movement; penetration of an enemy strategis front; and the direct advance on the objective.
Hans Delbruck (the German military historian) menyatakan bentrokan antara dua kekuatan militer di lapangan didominasi oleh two strategic method : the strategy of annhilation (miederwerfungs strategie) - one pole - the great encounter battle seperti yang dilakukan oleh Alexander dan Napoleon; the strategy of exhaustion (ermattings strategie) - two pole - battle and manoeuvre seperti yang dilakukan oleh Frederick the Great - strategic manoeuvre was linked to diplomatic manoeuvre.

9. Strategic Manoeuvre and Operational Art
Strategic manoeuvre is closely linked to operational art. Castex menulis bahwa ---- strategic manoeuvre is key element in the conduct of operation. It is a method use by strategy to improve the sonditions of the stungle, to multyply the return on her efforts, and to obtain the greates result.
Brian Holden Reed (British military historian) mengatakan bahwa - manoeuvre warfare and attrition are ..... complementary elements, which contan both offensive and defensive forms. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa strategic manoeuvre as a military method is about moving one's force skilfully so as to multiply their operational effectiveness and ability o inflict attrition by striking selectively at a point and time of one's choosing. Ini merupakan inti dari Liddell Hart's strategy of indirect approach.

10. Strategic Manoeuvre as Policy Technique
Dalam tingkat policy technique - strategic manoeuvre - diperluas - dengan mengikutsertakan : diplomacy, economic pressure, and psychological factors - which may be used directly or inderectly - with miliary force - to secure victory.
Winston Churchill - considered strategic manoeuvre to be an essential tool of statecraft in time of war. At the summit true politics and strategy are one. Strategic manoeuvre was especially important in waging coalition warfare. Pendapat Churchill terakhir ini dibenarkan oleh Andre Beaufre. Andre Beaufre mengatakan - mengatakan bahwa political manoeuvre should therefore be sean as strategic manoeuvre. Didalam melawan agresi komunis, pihak Barat menggunakan total stratgy dimana ...... economic, political and military means and knitted togther by the art of manoeuvre. Menurut Beaufre - strategy was not confirmed to military doctrine, it was a method of thinking which combined psychological and material analysis with an understanding of ideology and political culture. Menurut Beaufre - the key to understanding strategy as an essential technique in statecraft lay in mastery of the concept of manoeuvre especially at the level of strategic polivy decison.

11. Beberapa contoh dari Strategic Manoeuvre

a. Beberapa contoh dari strategic manoeuvre as military technique/method seperti yang dilakukan oleh Rusia dan China, khususnya pada paruh pertama abad ke-20. Kedua negara tersebut melakukan pendekatan strategi didasarkan atas kedalaman geographinya (geographical depth).

b. Penerapan strategic manoeuvre baik sebagai military method maupun policy technique dicontohkan pada kasus Afrika Selatan, dimana stotal strategy and strategic manoeuvr terbukti sangat berpengaruh pada tahun 1970-an sampai 1980-an.

c. Russia Kondisi geographical depth memeberi peluang kepada Russia dapat menelan dan mengalahkan (to absorb and to defeat) penyerang dari sejak Charles XII (Swedia) sampai kepada Napoleon dan Hitler. Strategi tradisional Russia menekankan pada operasi defensif (defensive operations) yang dikombinasikan dengan counter-offensive strokes. Militer Russia lebih menyenangi active-defence dimana musuh ditarik kedalam pelukan beruang (the bear hug). Penerapan berbagai bentukdari operational and strategic manoeuvre secara berhasil dilakukan oleh Red Army pada Civil War 1917-1922 dan pada waktu menghadapi Jerman pada perang dunia ke-2 1939-1945.

d. China. Pemikiran strategik China didominasi philosofi Confusius dan tori strategi dan manuver dari sun Tzu dan mao Zedong. Sun Tzu mengawinkan antara seni militer China dengan teori Confusius, mengatakan, ...... bahwa victory without batle was the supreme achievement of stratgy, meruakan refleksi ajaran Confusius yang lebih menyukai ketertiban daripada kekacauan. Sun Tzu menekakan pada konsep ..... avoiding battle exept with the assurance of victory, of disfavouring risk, of seeking to everawe enemy by psychological means, of using time rather than forces to wear an invader down. Dalam perang saudara China 1946-1949, setelah sati dekade perang melawan Jepang, PLA dibawah Mao Zedong menerapkan strategic manoeuvre yang meliputi tindakan-tindakan : the defence and the offence, direct and indirect operations, and made the extensive use of the country's vast geographical space to gain operational depth PLA menerima ajaran Sun Tzu yang ditujukan kepada ..... the destruction of the will of enemy to fight as an organised force. Seperti halnya Russia, gerakan operai (manoeuvre operations) China dilakukan sebagai bagian dari mass warfare yang melibatkan jutaan orang pasukan Mao menerapkan the theory of finite rtreat dalam menghadapi Guomindang (Nationalist). PLA menghindari linear deployment and one dimensional operations, dan lebih memilih to dimensional force strategy. Two dimensional fighting synchronised irregular and regular operations, and dispersal and concentration of force over space sometimes in a discontinuous fashion.

III. THE JOINT APPLICATION OF FORCE

12. a. Perkembangan pesat di bidang teknologi dan pengalaman pada konflik bersenjata dalam suatu lingkungan baru (yang berubah), seperti biasanya mengarah kepada perubahan pada philosofi dan doktrin pada semua tingkatan (RMA) agar satu angkatan perang dapat menjawab tantangan di masa mendatang, termasuk bentuk peperangan baru di masa yang akan datang (the future warfare). Terdapat 6 (enam) sifatmendasar (prinsipal features) yang dimiliki the Revolution Military Affairs (RMA) diantaranya ...... synergy through joint operations. Dengan demikian pelaksanaan joint operations yang ditandai dengan penyiapan the joint application of force menjadi satu hal yang penting dalam keberhasilan menghadapi the future warfare. Untuk itu perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi wujud lingkungan strategik yang akan datang dimana the joint application of force akan melakukan kegiatannya.

b. The key politico-military parameters-will provide the strategic frame work-that will shape the future operational battle space environment- which the joint of application of force must be effected. Faktor-faktor berikut secara kritis memberi pengaruh kepada wujud/bentuk dari lingkungan strategik di masa mendatang : trend roward increasing globalisations and interdepedense, the changing shape of geopolitics, increasing democratisation and societal trend ( in both western and developing nations), the expanding influence and changing nature of international law; stunaing advances in technology, comled with; increasing visibility of crisis, provided by global media.

13. Globalisatons and Interdependence. Media global, jaringan komunikasi, dan maskapai penerbangan selalu meningkatkan komunikasi elektronik dan fisik menjadikan dunia semakin kecil. Antar bangsa karena alasan ekonomi menjadi saling tergantung. Globalisasi menimbulkan masalah yang sangat besar kepada para pengambil keputusan strategik, khususnya pada saat mengambil keputusan yang melibatkan penggunaan kekuatan. Perang yang akan datang ada kecenderungan menjadi lebih terbatas (more restrictive) pada suatu aspek tertentu dibandingkan dengan perang abad lalu karena antar bangsa cenderung saling tergantung melalui bidang ekonomi dibandingkan ikatan politiknya. Serangan kepada satu bangsa akan memicu konsekuensi ekonomi dan akibat lainnya.

14. The Changing shape of Geo-politics. Tahun 1989 menandai dimulainya a new world order. Dunia tidak lagi berada dibawah ancaman perang nuklir. Kasus Falkland memberi petunjuk penylesaian konflik dilakukan secara cepat, untuk menghindari akibat yang lebih besar. Kecenderungan lain, semakin meningkatnya intra-naton conflict. Golongan minoritas menuntut hak-haknya. Komunikasi dan mdia modern banyak memberikan platform kepada kaum minoritas untuk memperoleh dukungan internasional.

15. Democratisation ad Societal Trends. Pada paruh kedua abad ke-20 muncul kecenderungan besar kepada demokrasi. Kemajuan di bidang pendidikan, komunikasi, perkembangan sosial ekonomi, dari tekanan internasional memberi kontribusi diterimanya sistem demokrasi dalam pemerintahan. Selanjutnya, masyarakat menghendaki minimalisasi jatuhnya korban dan pengawasan atas jangka waktu konflik. Media massa elektronik, membuka peluang mempercepat waktu untuk mengetahui saat konflik terjadi. Demokratisasi dan kecenderungan masyarakat membuat para pimpinan militer agar memberi saran kepada pemerintah sipil bagaimana kekuatan militer dapat melayani satu bangsa yang demokratis dan membela kepentingannya.

16. Trend in Internatonal Law. Dalam dunia yang semakin saling tergantung, penyebaran hukum internasional dan aturan dari negara bangsa merdeka akan terus dipengaruhi oleh badan PBB. PBB akan tetap menjadi badan/lembaga pilihan yang disukai untuk melakukan tindakan bersama terhadap negara-negara planggar. Dengan demikian kemampuan angkatan perang suatu bangsa melaksanakan operasi militer koalisi (bersama) untuk mendukung resolusi PBB menjadi penting. Perlindungan terhadap penduduk sipil dan pelarangan pengunaan senjata "tidak berperikemanusiaan (inhumane weapons)" dalam perang menjadi keprihatinan internasional. Negara-negara pelanggar (rogue nations) masih menimbulkan kesulitan berkaitan dengan konvensi senjata internasional, dan terorisme oleh organisasi non state masih menjadi masalah internasional, disamping senjata penghancur massal(weapons of mass destruction) dan persenjataan yang tidak berperikemanusiaan. Negara negara anggota PBB diharapkan tetap mematuhi berbagai resolusi dan konvensi Geneva, Den Haag dan Wina.

17. Advances in Technlogy. Teknologi baru sangat meningkatkan kemampuan mobilitas, ketepatan, dan jangkauan. Pada saat yang sama pula menjadi sangat sulit untuk menyembunyikan sesuatu dari sistem pengintaian modern. Kemajuan teknolgi dalam bidang penyebaran informasi dan pemrosesan data memberikan dampak besar kepada komunikasi militer dan sistem dukungan tempur. Perbedaan standar teklogi dan kompetensi antar bebepara negara akan mempngaruhi kemampuan melakukan suatu koalisi kekuatan. Pertimbangan ekonomi menjadi satu hambatan bagi berapa negara bangsa dalam memlihara tingkat kemampuan pertahanannya.

18. Global Media. Semakin meningkatnya kemampuan menyaksikan (visibility) krisis melalui media global dan pertumbuhan komunikasi mobil dan sistemnya seperti internet merupakan satu masalah strategic yang baru. Setiap pertimbangan berkaitan dengan manajemen krisis/konflik harus memperhatikan masalah komunikasi global dan masalah kemampuan menyaksikan kejadian yang berlaku (visibility). Terdapat 3 (tiga) kecenderungan yang mempengaruhi bentuk dari medan laga (battlespace) di masa yang akan datang : the conflict is likely to be more contained and lokalised; for collective action to be pursued to discipline rogue nations; the end of the cold war has lifted containment on previously supressed inftra-nationl conflict.

19. The Joint Application Force

a. Joint Operations. The Gulf War gave as only a brief insight into a new vision of truly seamless joint operatons (single service actions). The joint application of force can be taken much further than was demonstratd in the Gulf War.
b. Strateic Direction. The Gulf War was also iluminating the need for the proper relationship to exist between the strategic and operational level of war. Clear strategic direction of the application of force is an essential starting point.
c. Doctrine. Joint application of force is not possible without the support of sound joint doctrine and training. Ini mempersyaratkan para komandan dengan pengetahuan luas tentang philosofi, pikiran yang adaptif dan fleksibel, pengertian yang baik tentang tingkatan kekuatan militer, dan sinergi antar satuan tersebut. Joint doctrine often struggles for sponsorship and acceptance. Doktrin militer baru harus mempertimbangkan perubahan yang terjadi pada bidang teknologi komunikasi, pemrosesan data, pengintaian dan efektivitas senjata. Pengembangan doktrin operasi bersama dilakukan oleh satu lembaga dari lingkungan angkatan perang yang bersangkutan.
d. Command and Control Support System. Some aspects of information warfare are essentially a subset of command and control support system. Data, information and intellegence are fundamental elements
of warfare. Kemampuan memproses data mengumpulkan informasi dan menyebarkan intelijen secara cepat dan tersebar luas, sangat penting bagi pelaksanaan arahan kekuatan militer yang baik. Kemampuan pengamatan (surveillance capabilities) sangat penting dalam pelaksanaan the joint application of force. Dua aspek penting berkaitan dengan pengamatan : kemampuan teknik dalam mengoperasikan peralatan dan kecepatan penyebaran data hasil pengamatan. Dukungan logistik sangat penting dan menentukan bagi the joint application of force di lapangan.

IV. THE IMPACT OF EMERGING TECHNOLOGIES

20. Saat ini, masa lalu, dan masa mendatang, teknologi secara mendasar telah merubah the face and nature of warfare. Dalam pembahasan disini dibatasi pada jenis teknologi yang mendukung fungsi kunci dari : intelligence and surveillance; communications; command and control; and precision strike.
21. Intelligence and Surveillance. Kebutuhan untuk operational and tactical intelligence banyak dipenuhi melalui surveillance and reconnaissance. Namun saat ini dengan sistem komunikasi lapangan terintegrasi, baik secara vertikal dan horizontal, memungkinkan pengiriman cepat informasi kontak kedalam gambaran intelijen yang lebih luas. Informasi lapangan akan dapat diperoleh secara lebih tepat waktu dan lebih lengkap oleh semuatingkatan komando. Hal ini dimungkinkan oleh teknologi baru seperti : multi-media based expert system, applied to intelligence assesment function; rapid and sophisticated signal precessing in surveillance system, and the effecient fusion of information from all sources. Dalam kasus ADF (Australia) melalui DISTO sedang mengembangkan Synthetic Aperture Radar (SAR) yang memberi kemampuan surviellance terus menerus siang malam. Electro-optic (EO) devices are used in surveillance and reconnaissance systems. Electronic Support Measures (ESM) will be used in a more systematic way in conjunction with ohter sensors. SAR digunakan pada small platform, termasuk UAV. Penggunaan imagery juga penting pada IFFN; misalnya Laser Radar (Ladar)-teknologi baru-kombinasi antara laser dan EO imaging system-mampu untuk long range detection and identification of potensial target. Unattended Ground sensor (UGS) akan meningkatkan kemampuan dari ground sensor. Peningkatan penggunaan UAV sebagai operational and tactical level airborne reconnaissance and surveillance assets. Satellite-sebagai satu strategic intelligence asset memiliki kemampuan high and medium recolution system.

22. Communications. The major trend in communications is toward integrated systems. Dalam kasus Australia, dikembangkan oleh DSTO-lewat program the Defence Organization Integrated Communications (DORIC). DORIC menggunakan the Asyncronous Transfer Mode (ATM) untuk mencapai integration of very high transmission speeds. Juga dioperasikan a system of Low Earth Orbiting Satellites (LEOS), dan mobile telephone technologies.

23. Command and Control. Information is at the core of effective command and control. Technology is driving command support system toward being smaller, lighter and faster. Military Geographic Information System are an important element of the digitized battlespace. Information warfare - to degrade the integrity of an opponent's information and to distrupt, deny, deceive, or destroy an opponent's C31 system and associated decision processes in a natural corollary. Information is used both as a weapon. The battlespace being cyberspace, rather than the convensional spatially depined battlefield.

24. Precision Strkie. C31 is not an end but a means, diperlukan sekali kemampuan/daya tembak. Teknologi yang berkembang memberikan dampak. Kemajuan nyata - berupa meningkatnya tingkat perkenaan. Hal ini didikte oleh 3 faktor yaitu : cost effectiveness, minimization of own cosualties, and the need to avoid collateral damage. Precision strike requires a tight networking of surveillance, target planning, strike planning, weapon delivery, and damage assessment. Kecenderungan penggunaan Precision Guided Munitions (PGMs) including shoulder Launched missiles - smart weapons. Juga penggunaan Smart Sight dan Smart Mines.

25. Other Opportuinities or Challenges from Technology. Simulation - use of simulation in command post exercises (CPX) at all levels of sommand. Semakin diakuinya peran human factors - meliputi physiological and pshychological aspects. Biological and chemical weapons - dilarang - namun perlu terus diwaspadai. Perkembangan biotechnology - dapat memberi dampak serius kepada peperangan/warfare. Reduced lethality weapon - mendapat perhatian dari banyak negara.

 

Berita Selanjutnya

Copyright ©2003 Dispenad, Jakarta-Indonesia. All rights reserved.
Webmaster: Dispenad.

Jalan Veteran Nomor 5 Jakarta Pusat