| |
|
BALKANISASI KORBAN
PERANG MODERN, AKANKAH MENIMPA NKRI ?
Oleh : Kol.Chb.Drs.T.Samuel L.Toruan,MM *
|
1.
Pendahuluan
Kawasan Balkan baik secara geopolitik dan geostrategis memiliki
posisi penting di Eropa dan dunia internasional. Secara umum kawasan
Balkan dan secara khusus negara eks Yugoslavia saat ini menjadi
pusat perhatian dunia internasional menyusul dengan apa yang kita
kenal BALKANISASI. BALKANISASI adalah perpecahan negara eks Yugoslavia
( Republik Federal Sosialis Yugoslavia yang terdiri dari Republik-Republik
Bagian Serbia, Kroasia, Slovenia, Bosnia Herzegovina , Makedonia
dan Montenegro) menjadi negara-negara kecil baru yaitu Republik
Federal Yugoslavia terdiri dari Rep.Serbia dan Rep.Montenegro (RFY),
Republik Kroasia, Republik Slovenia, Republik Makedonia dan Konfederasi
Bosnia Herzegovina. Selanjutnya Republik Federal Yugoslavia berubah
menjadi Uni Serbia dan Montenegro. Pembentukan negara-negara baru
tersebut bukan melalui suatu proses alamiah dan berlangsung secara
damai, akan tetapi melalui pertikaian akibat lunturnya nasionalisme
dan wawasan kebangsaan rakyat yang diikuti konflik bersenjata.
Hingga saat ini negera-negara pecahan eks.Yugoslavia walaupun telah
merdeka tetapi mereka masih tergantung dengan negara-negara Barat
baik secara politik, ekonomi dan militer, misalnya pemberian bantuan
ekonomi, keberadaan pasukan NATO masih tetap tinggal di Bosnia Herzegovina
untuk melindungi negara tersebut dari pertikaian bersenjata. Timbulnya
nasionalisme kedaerahan yang sempit tersebut ternyata tidak terlepas
dari provokasi negara-negara luar yang memiliki agenda kepentingan
di kawasan negara eks.Yugoslavia dengan mengadu domba dan menimbulkan
perpecahan melalui issu global seperti demokratisasi, HAM dan lingkungan
hidup. Selain politik adu domba yang dikembangkan oleh negara adidaya
dan sekutunya juga mengangkat issu agama, suku dan etnik dengan
memanfaatkan media massa untuk melakukan propaganda yang sebenarnya
merupakan Konsep Perang Modern saat ini ( Konsep Perang Modern,
oleh Jendral TNI Ryamizard Ryacudu).
Situasi yang terjadi di kawasan Balkan patut menjadi pelajaran bagi
kita serta menuntut kita untuk selalu waspada dan tidak boleh lengah
mengingat situasi dan kondisi di NKRI memiliki beberapa kesamaan
dengan negara eks.Yugoslavia di berbagai aspek kehidupan. Letak
geografis dan sumber kekayaan alam Indonesia yang melimpah dari
dulu merupakan daya tarik tersendiri bagi pihak asing untuk menguasainya
demi kepentingan mereka sehingga akan menjadi garapan pihak asing
dengan pola-pola perang modern.
2. Posisi
Geopolitik dan Geostrategis
Sebagian besar
teritori eks Republik Federal Yugoslavia (RFY) terletak di tengah-tengah
pertemuan geopolitik kawasan Balkan, fakta tersebut menunjukkan
betapa besarnya arti geopolitik yang dikandung oleh eks.negara RFY.
Eks.negara RFY terletak di pertengahan jarak pendek antara wilayah
Eropa dan Mediteranian, wilayah-wilayah eks.negara RFY merupakan
penghubung antara Eropa dengan Asia Timur Dekat dan Timur Jauh serta
Mediteranian sehingga merupakan transit dari Euro-Asia. Eks.negara
RFY merupakan wilayah penyangga antara dua pengaruh yakni pengaruh
eks. Pakta Warsawa dan pengaruh NATO, serta penghubung atau jembatan
antara Eropa dan Turki dan negara-negara di wilayah Timur Tengah.
Disintegrasi eks Yugoslavia yang menciptakan negara-negara pecahan
kecil tidak merubah posisi strategis eks.negara RFY bahkan tidak
satupun dari negara pecahan eks Yugoslavia mempunyai posisi strategis
sentral seperti eks.negara RFY. Komposisi wilayah Yugoslavia yang
terdiri dari daratan, laut, pantai, pegunungan, danau dan sungai-sungai
yang merupakan komposisi lengkap, menggambarkan negara eks.Yugoslavia
memiliki potensi sumber daya alam yang beraneka ragam dan sangat
diperlukan dalam pembangunan ekonomi maupun bagi kepentingan pertahanan
dan keamanan.
3. Kepentingan
Barat dan sekutunya di kawasan Balkan dan eks.Yugoslavia
a. Arti Kosovo dan Metohya bagi AS dan NATO.
Posisi Kosovo dan Metohya (KOSMET) yang terletak di kawasan Balkan
persisnya di tengah-tengah wilayah Republik Federal Yugoslavia (RFY)
membuat daerah itu sangat penting bagi setiap pihak yang mempunyai
ambisi untuk mengontrol kawasan Balkan. Walaupun letak geografisnya
agak kurang sentral (lebih dekat ke laut Adriatik dan laut Algea
dibanding ke laut Ion dan laut Hitam) namun letak Kosmet dianggap
sebagai titik pertemuan koridor-koridor jalur-jalur utama yang strategis.
Posisi KOSMET yang terletak di "Kawasan Tengah" (Central
Region) dari semenanjung Balkan yang berada di suatu zona dan dikelilingi
oleh garis-garis yang menghubungkan kota-kota di Serbia (Kota Nis),
Bulgaria (Kota Sofia), Makedonia (Kota Skopje) dan Kosovo/Serbia
(di kota Kosovska-Mitrovica). Sebagai posisi sentral di wilayah
Balkan, KOSMET mempunyai arti khusus bagi AS dan NATO dalam rangka
pengawasan semenanjung Balkan. Kehadiran pasukan NATO yang dipimpin
oleh Amerika di Kosovo- Metohya ( KOSMET ) dengan memasang pasak
di tengah-tengah Balkan ( AS telah membangun kompleks militer secara
permanen dengan daya tampung 10.000 personil berikut fasilitas dan
peralatan tempurnya) , maka AS dan NATO telah menduduki posisi yang
sangat strategis karena memiliki "batu loncatan" untuk
akses-akses selanjutnya di kawasan Balkan termasuk ke daerah-daerah
yang lebih jauh misalnya bagian Utara dan bagian Timur kawasan Balkan,
kawasan laut Hitam dan Kaukasus.
Keberhasilan NATO memantapkan posisinya di Kosovo, merupakan tambahan
terhadap posisi-posisi yang sudah didapatkan di Albania, Makedonia
dan Bosnia Herzegovina. Penerobosan teritorial dalam struktur Eropa
telah terpenuhi ditandai dengan relokasi-relokasi pasukan-pasukan
NATO secara mulus dari Eropa Barat ke bagian Eropa Timur dan Tenggara.
Demikian pula telah tercipta kontrol atas semua komunikasi penting
pada koridor-koridor geostrategis di jembatan Euro-Asia menuju sumber-sumber
minyak baik yang lama dan baru. Lebih jauh kemungkinan ambisi Rusia
untuk mengkontrol kawasan Balkan dan Laut Tengah menjadi rancu untuk
jangka pendek dan panjang mengingat posisi strategis yang sudah
diduduki dan dikuasai oleh AS dan sekutunya NATO. Dengan memanfaatkan
faktor Islam di kawasan Balkan khusunya di Kosovo-Serbia, AS dan
NATO telah berhasil menciptakan kesan seakan-akan berkiblat pada
geopolitik pro-Islam di Balkan dan di sisi lain berhasil pula meredam
kelompok Muslim radikal yang anti Amerika.
b. Arti Negara
Eks Yugoslavia bagi Koalisi AS.
Setelah Jerman bersatu, nampak ambisi Jerman yang semula hanya raksasa
ekonomi ingin menjadi raksasa politik dan militer (mengubah UUD
yang melarang pasukan Jerman turut mengadakan kegiatan internasional).
Naluri menaklukan dan naluri menjajah Jerman yang pernah dilakukan
terhadap negara-negara koloninya pada masa lalu ingin meluaskan
sayapnya ke Balkan yang selama ini tidak pernah berhasil dikuasainya
semenjak PD-I dan PD-II. Kawasan Balkan sangat penting artinya bagi
Jerman terutama untuk pelemparan hasil-hasil produksi industri Jerman,
untuk mendapatkan sumber bahan baku, akses untuk pelabuhan laut
panas, maupun kemungkinan pelemparan sampah-sampah nuklir yang semakin
menjadi problem akhir-akhir ini serta jalur menuju ke negara-negara
sumber minyak di laut Tengah. Hal itu tampak ketika Jerman sangat
dominan mensponsori pengakuan internasional terhadap kemerdekaan
negara-negara pecahan eks.Yugoslavia.
Kepentingan negara-negara Barat lainnya yang mendukung disintegrasi
eks.Yugoslavia adalah untuk menghentikan laju produk-produk industri
militer eks.Yugoslavia yang mengancam produk-produk industri militer
negara-negara Barat ( konon pada periode tersebut industri militer
eks.Yugoslavia termasuk nomor 10 besar di dunia). Produk industri
militer eks Yugoslavia memang secara kualitas dan harga yang relatif
kompetitip memiliki keunggulan tertentu dibanding produk-produk
negara-negara Barat lainnya, karena memiliki teknologi standar NATO
dan Eks Pakta Warsawa. Kepentingan militer lainnya negara-negara
Barat terhadap konflik yang terjadi di negara eks Yugoslavia adalah
merupakan momentum yang strategis dalam rangka mengurangi stock
arsenal mereka yang menumpuk sekaligus juga untuk uji coba senjata-senjata
dan perlengkapan militer lainnya sesuai dengan temuan barunya.
Dengan berakhirnya era perang dingin dan bubarnya Pakta Warsawa
maka organisasi NATO yang selama ini digunakan sebagai kekuatan
politik dan militer untuk menghadapi Pakta Warsawa mulai digugat
dan dipertanyakan terutama kehadirannya di wilayah Eropa. Oleh sebab
itu untuk tetap dapat eksis di kawasan Eropa maka organisasi NATO
Cq AS harus mencari wilayah konflik baru dalam rangka proyeksi pengerahan
kekuatan NATO dengan alasan yang dicari-cari yaitu melindungi negara
yang terancam dari agresi negara tetangga. Oleh sebab itu konflik
yang terjadi dan diikuti pertikaian bersenjata baik di wilayah eks.
Yugoslavia dan eks. RFY merupakan momentum yang strategis untuk
menghadirkan kekuatan NATO di kawasan secara mulus.
c. Arti krisis
eks.Yugoslavia bagi organisasi internasional dan NGO lainnya.
Pengerahan pasukan PBB di wilayah eks.Yugoslavia merupakan pengerahan
yang terbesar dan terlama sepanjang sejarah penugasan PBB dalam
misi internasionalnya guna menjaga dan memelihara perdamaian dunia.
Situasi ini tentu merupakan momentum yang sangat baik bagi kegiatan
PBB untuk kepentingannya terutama untuk mendapatkan bantuan dana
dari masyarakat internasional. Tidak ketinggalan pula bagi NGO-NGO,
krisis yang terjadi di wilayah eks.Yugoslavia merupakan ladang yang
subur untuk berkiprah sesuai kepentingannya baik dalam rangka kepentingan
kemanusiaan ataupun yang lainnya sesuai misi dari NGO yang bersangkutan.
Akan tetapi tidak sedikit dari NGO tersebut justru banyak yang memperkeruh
situasi dibanding membantu penyelesaian masalah yang terjadi. Misalnya
lewat NGO terjadi penyeludupan senjata atau personel NGO merangkap
jadi agen intelijen pihak-pihak tertentu di wilayah eks Yugoslavia.
4. Strategi
Barat dan sekutunya di eks.negara Yugoslavia.
a. Pembusukan
lewat Ideologi.
Hancurnya ideologi komunisme di Eropa ditandai dengan bubarnya Uni
Soviet dan perubahan sistem komunis ke arah sistem demokrasi ala
Barat ikut pula melanda negara eks Yugoslavia. Situasi ini telah
dimanfaatkan oleh pihak Barat dengan alasan penegakan demokrasi
untuk memprovokasi Republik-Republik Bagian mengatur diri sendiri
dengan perkataan lain desentralisasi kekuasan tingkat pusat dan
sentralisasi kekuasaan di tingkat daerah. Dengan adanya kekuasaan
yang dilimpahkan secara luas ke daerah tersebut berakibat fatal,
yang mana gerakan daerah-daerah untuk memisahkan diri semakin kuat,
sementara pemerintah pusat tidak mampu dan berkuasa untuk mempersatukannya.
Semua propaganda kebanyakan dilakukan lewat media masa baik elektronik
dan cetak yang sangat efektif dalam membentuk opini internasional.
Kelanjutannya proses disintegrasi pun berjalan lancar dengan hak-hak
yang segera diakui oleh pihak Barat.
b. Pembusukan
lewat politik.
Rasa ketidak adilan antara satu daerah dengan daerah lainnya ataupun
antara pusat dan daerah terus dikembangkan ke arah kecemburuan sosial
yang mengarah kepada nasionalisme sempit melalui propaganda besar-besaran.
Proses demokratisasi yang melahirkan multi partai mempunyai pengaruh
yang sangat besar bukan hanya terhadap hubungan antar republik yang
telah berdisintegrasi melainkan juga terhadap hubungan antar individu
dalam rangka satu wilayah (Republik) karena wawasan politik yang
berbeda-beda. Hal ini telah mempengaruhi pula kepada solidaritas
sosial karena masyarakat telah terbagi-bagi oleh kepentingan lokalisme/sukuisme
maupun ideologi partai. Setelah partai-partai demokrasi menang mereka
segera membentuk pemerintahan yang independen dan didukung dengan
pembentukan tentara-tentara republik.
c. Pembusukan
lewat ekonomi.
Dengan mengangkat issu ketidak adilan antara pembagian pendapat
pusat dan daerah telah mendorong pemerintah Republik-Republik Bagian
untuk mengelola segala kekayaan daerah dengan alasan akan lebih
mensejahterakan rakyat ketimbang ditangani oleh pemerintah pusat.
Kekacauan kehidupan politik dan merosotnya kehidupan ekonomi telah
dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pihak Barat untuk menawarkan dan
menjanjikan bantuan -bantuan ekonomi dengan syarat-syarat yang sangat
mengikat. Untuk diketahui bahwa hubungan perdagangan di eks. negara
Yugoslavia, sebagian besar berasal dari hasil kegiatan perdagangan
antar mereka. Namun setelah terjadi perpecahan, Republik-Republik
Bagian meninggalkan sistem moneter Yugoslavia, menutup kegiatan-kegiatan
perdagangan antar republik sehingga perekonomian Yugoslavia menjadi
tambah parah. Keadaan yang demikian masih mendapat tekanan dari
dunia internasional dan pihak Barat dengan dikenakannya sanksi ekonomi
internasional secara total khususnya terhadap eks.RFY sehingga keadaan
ekonomi dan sosial semakin buruk.
d. Pembusukan
lewat sosial budaya.
Perasaan kesukuan semenjak berkuasanya komunisme di Yugoslavia sebenarnya
telah terasa. Adanya perbedaan agama, latar belakang sejarah dan
aspirasi politik yang berbeda-beda telah dikemas secara baik oleh
pihak Barat untuk membentuk sel-sel perlawanan serta adu domba untuk
menimbulkan perpecahan di Yugoslavia. Perbedaan agama pun mulai
menajam yang terbawa oleh rasa kesukuan masing-masing. Komposisi
agama dalam penduduk Yugoslavia adalah mayoritas beragama Kristen
Orthodox ( Etnis Serbia), Katholik ( Etnis Kroasia ) dan Islam (
Etnis Muslim Bosnia ). Masalah agama ini mulai dibenturkan dengan
masalah suku sehingga menyulut perang saudara. Issu yang diangkat
sangat efektif untuk membentuk opini dengan propaganda-propaganda
bahkan dengan rekayasa intelijen seolah-olah telah terjadi pembantaian
etnik Muslim sehingga dengan cepat menarik perhatian dan simpati
dunia terutama dari negara-negara Arab.
Selain itu juga dihembuskan tentang pembelaan HAM terutama terhadap
kaum yang tertindas seperti etnis Muslim yang di ekspos sebagai
korban kejahatan perang sehingga banyak pimpinan pemerintah dan
militer didakwa sebagai penjahat perang yang harus diadili di Pengadilan
Internasional Kejahatan Perang (ICTY) di Den Haag Belanda. Dengan
mengangkat issu sebagai penjahat perang yang didakwakan terhadap
para pemimpin eks Republik Yugoslavia telah mengakibatkan negara-negara
Barat menjatuhkan sanksi politik, ekonomi dan militer kepada RFY.
Bahkan sampai saat ini salah satu persyaratan normalisasi untuk
pemberian bantuan ekonomi kepada negara-negara pecahan eks.Yugoslavia
adalah harus melakukan kerjasama dengan ICTY Den Haag dengan hasil
yang maksimal, artinya para pemimpin politik dan militer yang diduga
terlibat kejahatan perang dan kemanusiaan di eks.Yugoslavia dan
Kosovo harus diseret ke ICTY Den Haag.
e. Pembusukan
lewat Aspek Hankam.
Dengan alasan untuk membela dan mempertahankan kedaulatan masing-masing
republik dari kekuasaan pusat telah menimbulkan perang saudara.
Pihak Barat dengan jalur-jalur tidak resmi ikut membantu melatih
( melalui tentara-tentara bayaran ) dan mempersenjatai pasukan-pasukan
teritorial negara-negara Republik Bagian. Akibatnya perang yang
berkecamuk di eks Yugoslavia telah menjadi ajang pembuangan senjata-senjata
dan amunisi serta peralatan militer pihak Barat yang seharusnya
dihancurkan dengan biaya yang sangat mahal namun sebaliknya mendapat
keuntungan besar. Ajang peperangan di eks Yugoslavia juga menjadi
bisnis senjata bagi produk-produk negara Barat serta tempat uji
coba bagi penemuan senjata-senjata dan perlengkapan militer Barat
secara tidak langsung maupun langsung. Issu yang dikembangkan oleh
Barat Cq. AS untuk mencegah bencana kemanusiaan di Kosovo-Serbia
telah mengakibatkan serangan udara NATO terhadap wilayah Yugoslavia
tanpa persetujuan atau mandat dari PBB.
Disini terlihat pihak Barat dan sekutunya telah memaksakan kehendaknya
dengan tekanan kekuatan militer untuk menundukkan penguasa negara
eks.RFY yang berusaha menumpas separatis etnis Albania di Kosovo
sehubungan dengan gerakannya untuk memisahkan diri dari Republik
Bagian Serbia dan selanjutnya akan bergabung dengan Republik Albania.
AS dan NATO melancarkan serangan udara yang dikenal dengan sebutan"
Humanitarian Intervention Guardian Angel " selama 91 hari dengan
tujuan menghentikan bencana kemanusiaan dan justru sebaliknya menimbulkan
bencana kemanusiaan dan lingkungan hidup yang lebih parah. Sekedar
tambahan informasi selama periode serangan tersebut NATO menjatuhkan
sebanyak kurang lebih 40.000 buah missil yang diantaranya mengandung
isian depleted uranium (menurut sumber informasi Tentara Yugoslavia
).
Tidak ada pembelaan HAM atau protes terhadap korban-korban yang
ditimbulkan maupun terhadap kerusakan lingkungan hidup dari organisasi
pembela HAM maupun Lingkungan Hidup walaupun serangan udara tersebut
merupakan pelanggaran berat terhadap prinsip-prinsip fundamental
hubungan internasional, hukum internasional, kedaulatan suatu negara
dan hak azasi manusia. Kejadian tersebut diatas sangat kontradiktif
dengan sikap negara Amerika yang selalu menyatakan sebagai negara
penegak demokrasi, pembela HAM dan Lingkungan Hidup. Pendek kata
negara yang sudah menjadi target untuk dieliminir oleh negara adi
kuasa tidak ada toleransi meskipun itu mengorbankan penduduk sipil
yang tidak berdosa demi kepentingan nasionalnya. Orientasi negara-negara
Barat yang dipimpin oleh AS adalah jelas yaitu sikap menunjukkan
sebagai negara terkuat dan tampil sebagai pemimpin dunia, disamping
itu ingin mengeksploitasi sumber daya alam yang kaya untuk kepentingan
kelangsungan industri negara kolonialis dan imperialis tersebut.
5. Kesamaan
permasalahan di Indonesia.
Permasalahan yang terjadi di eks Yugoslavia memiliki beberapa persamaan
dengan kondisi yang terjadi di Indonesia baik di dalam sistem pemerintahan,
pengelolaan sistem politik, ekonomi, kultur budaya dan sistem pertahanan.
Proses demokrasi yang terjadi di eks.negara Yugoslavia telah lepas
kontrol dalam arti desentralisasi kekuasaan ke daerah terlalu luas.
Saat ini di Indonesia sedang berlangsung proses reformasi dan kebijaksanaan
otonomi daerah yang tampaknya belum siap untuk diberlakukan secara
serentak di seluruh Indonesia. Kebangkrutan ekonomi eks.Yugoslavia
dan eks.RFY akibat pertikaian politik dan perang saudara yang berlarut
telah mengakibatkan negara tersebut jatuh ke jurang kemiskinan.
Indonesia saat ini masih belum sepenuhnya keluar dari krisis ekonomi
akibat dari krisis multi dimensi sehingga sangat rawan terhadap
pemeliharaan stabilitas politik dan keamanan. Masalah SARA di eks
Yugoslavia telah menjadi pemicu perpecahan dalam negeri yang mengakibatkan
tercerai berainya negara tersebut.
Sementara itu masalah SARA di Indonesia sampai saat ini masih merupakan
masalah rawan yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan konflik sehingga
perlu dijaga, diamankan dan dilindungi dari kemungkinan penyalahgunaan
untuk kepentingan kelompok ataupun tujuan tertentu. Adanya ketidak
adilan tentang kemajuan dan kesejahteraan di eks.negara Yugoslavia
merupakan sumber perpecahan negara tersebut sementara di Indonesia
masih terdapat pembagian tata ruang yang menimbulkan ketimpangan
dan kesejahteraan yang mana hal tersebut dapat menimbulkan kerawanan
bagi kesatuan dan persatuan bangsa.
Demikian pula halnya masalah gerakan separatisme di eks Yugoslavia
telah mendorong negara tersebut menjadi terpecah-pecah akibat nasionalisme
kedaerahan sempit yang mendapat dukungan faktor internasional. Saat
ini masalah gerakan separatisme di Indonesia seperti di Aceh, Maluku
dan Papua masih belum tuntas diatasi sehingga tetap menimbulkan
kerawanan bagi kesatuan dan persatuan bangsa. Semua sumber-sumber
permasalahan tersebut diatas merupakan lahan yang empuk untuk garapan
Konsep Perang Modern saat ini.
Berita
Selanjutnya
|