|
MANAJEMEN PENGETAHUAN
(KNOWLEDGE MANAGEMENT)
Mayor Czi Budiman S. Pratomo
Pendahuluan
Alvin
Toffler membagi sejarah peradaban manusia dalam tiga gelombang
yaitu era pertanian, era industri dan era informasi. Dalam
era pertanian faktor yang menonjol adalah Muscle (otot) karena
pada saat itu produktivitas ditentukan oleh otot. Dalam era
industri, faktor yang menonjol adalah Machine (mesin), dan
pada era informasi faktor yang menonjol adalah Mind (pikiran,
pengetahuan). Pengetahuan sebagai modal mempunyai pengaruh
yang sangat besar dalam menentukan kemajuan suatu organisasi.
Dalam lingkungan yang sangat cepat berubah, pengetahuan akan
mengalami keusangan oleh sebab itu perlu terus menerus diperbarui
melalui proses belajar.
Belajar dalam era pengetahuan seperti sekarang ini sangatlah
berbeda dengan belajar di masa lalu. Saat ini kita dituntut
untuk belajar baik sendiri maupun bersama dengan cepat, mudah
dan gembira, tanpa memandang waktu dan tempat. Hal ini mendorong
berkembangnya konsep organisasi belajar (learning organization)
yang menyatukan antara proses belajar dan bekerja. Disisi
lain pengetahuan yang melekat pada anggota suatu organisasi
juga perlu diuji, dimutahirkan, ditransfer, dan diakumulasikan,
agar tetap memiliki nilai. Hal ini menyebabkan para pakar
manajemen mencari pendekatan untuk mengelola pengetahuan yang
sekarang dikenal dengan manajemen-pengetahuan atau knowledge
management (KM).
Suatu organisasi agar dapat mencapai visi dan misinya harus
mengelola pengetahuan yang dimilikinya dengan baik agar dapat
bersaing dengan organisasi yang lain. Salah satu cara tersebut
adalah dengan menerapkan manajemen-pengetahuan atau KM. Tidak
terkecuali TNI AD sebagai organisasi, untuk menghadapi persaingan
dan tuntutan yang semakin tinggi memerlukan penerapan manajemen
pengetahuan agar selalu dapat menjawab setiap tuntutan tugas.
Pengertian KM
Sebelum memahami konsep manajemen pengetahuan ini ada beberapa
istilah yang harus dipahami yaitu : data, informasi, pengetahuan,
jenis pengetahuan, dan manajemen pengetahuan itu sendiri.
Di samping itu perlu pula memahami proses pembentukan pengetahuan
dari data, informasi, kemudian menjadi pengetahuan.
a. Data
adalah kumpulan angka atau fakta objektif mengenai sebuah
kejadian (bahan mentah informasi).
b. Informasi
adalah data yang diorganisasikan/diolah sehingga mempunyai
arti. Informasi dapat berbentuk dokumen, laporan ataupun multimedia.
c. Pengetahuan
(knowledge) adalah kebiasaan, keahlian/kepakaran, keterampilan,
pemahaman, atau pengertian yang diperoleh dari pengalaman,
latihan atau melalui proses belajar. Istilah ini sering kali
rancu dengan Ilmu Pengetahuan (science). Ilmu Pengetahuan
adalah ilmu yang teratur (sistematik) yang dapat diuji atau
dibuktikan kebenarannya; sedangkan pengetahuan belum tentu
dapat diterapkan, karena pengetahuan sebuah organisasi sangat
terkait dengan nilai, budaya, dan kondisi dari organisasi
tersebut.
d. Jenis Pengetahuan. Ada dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan
eksplisit dan pengetahuan tacit. Pengetahuan eksplisit dapat
diungkapkan dengan kata-kata dan angka, disebarkan dalam bentuk
data, spesifikasi, dan buku petunjuk, sedangkan pengetahuan
tacit sifatnya sangat personal yang sulit diformulasikan sehingga
sulit dikomunikasikan kepada orang lain.
1) Explicit
Knowledge. Bentuk pengetahuan yang sudah terdokumentasi/terformalisasi,
mudah disimpan, diperbanyak, disebarluaskan dan dipelajari.
Contoh: manual, buku, laporan, dokumen, surat dan sebagainya.
2). Tacit
Knowledge. Bentuk pengetahuan yang masih tersimpan dalam pikiran
manusia. Misalnya gagasan, persepsi, cara berpikir, wawasan,
keahlian/kemahiran, dan sebagainya.
e. Manajemen
pengetahuan (KM) Definisi mengenai KM tergantung dari cara
organisasi menggunakan dan memanfaatkan pengetahuan. Organisasi
intelejen militer akan mempunyai definisi yang berbeda mengenai
pengetahuan dibandingkan dengan perusahaan. Salah satu definisi
KM adalah proses sistematis untuk menemukan, memilih, mengorganisasikan,
menyarikan dan menyajikan informasi dengan cara tertentu yang
dapat meningkatkan penguasaan pengetahuan dalam suatu bidang
kajian yang spesifik. Atau secara umum KM adalah teknik untuk
mengelola pengetahuan dalam organisasi untuk menciptakan nilai
dan meningkatkan keunggulan kompetitif.
Manajemen
Pengetahuan dan Teknologi Informasi (TI)
Sebenarnya
konsep pengelolaan pengetahuan merupakan konsep lama, perbedaannya
KM memungkinkan kita untuk tidak perlu memulai segalanya dari
nol lagi. (We don't have to always reinventing the wheel ).
Konsep KM ini menjadi populer karena kompetisi yang kian tajam
dalam memperoleh keunggulan. Ketatnya kompetisi menyadarkan
orang bahwa hanya penguasaan pengetahuanlah yang akan menentukan
keunggulan suatu organisasi. Keunggulan pada saat ini dirumuskan
dalam formula: faster, cheaper and better. Kalau saja kita
hanya melakukan sesuatu untuk organisasi agar lebih baik dan
lebih efisien maka kita akan tertinggal. Bill Gates menyatakan
"If the 1980's were about quality and the 1990's were
about re-engineering, then the 2000's will be about velocity".
Jadi kalau kita berbicara mengenai keunggulan dalam era 2000
an kita berbicara kecepatan (velocity). Untuk dapat mencapai
kecepatan maka penggunaan teknologi informasi merupakan suatu
keharusan.
KM terdiri
dari 3 komponen utama yaitu people, place, dan content. KM
membutuhkan orang yang kompeten sebagai sumber pengetahuan,
tempat untuk melakukan diskusi, dan isi dari diskusi itu sendiri.
Dari ketiga komponen tersebut peran teknologi informasi adalah
mampu menghilangkan kendala mengenai tempat melakukan diskusi.
TI memungkinkan terjadinya diskusi tanpa kehadiran kita secara
fisik. Dengan demikian kapitalisasi pengetahuan dapat terus
diadakan walaupun tidak bertatap muka. Dalam konteks secara
umum, pelaksanaan KM menghadapi masalah utama yaitu masalah
perilaku. Pertama, berkaitan dengan ketidakmauan orang untuk
berbagi. Kedua berkaitan dengan ketidakdisiplinan untuk selalu
menuliskan apa yang kita dapatkan. Ini merupakan suatu kendala
karena budaya kita lebih cenderung pada budaya lisan. Kita
belum bisa mendisiplinkan diri untuk selalu menuliskan pengetahuan
dan pengalaman yang kita alami dalam suatu sistem sebagai
suatu aset organisasi.
Dalam
pelajaran manajemen, aset organisasi dirumuskan dengan 5M
(man, money, method, machine, dan market). Apabila dipandang
dari sisi KM maka manusialah yang merupakan aset yang paling
berharga. Tetapi, benarkah semua orang dalam organisasi merupakan
aset organisasi? Thomas A. Stewart dalam bukunya Intelectual
Capital, secara tegas mengatakan "tidak". Menurut
Stewart, yang benar-benar aset hanyalah orang-orang tertentu,
yang pekerjaannya berkaitan dengan penambahan pengetahuan
dalam organisasi, yaitu The Stars. (Stewart membagi karyawan
dalam empat kelompok yaitu: pekerja biasa; pekerja terampil
tetapi bukan faktor penentu; pekerja yang melakukan hal yang
dihargai oleh pelanggan tetapi dapat di outsource; dan the
Stars, yaitu orang-orang dengan peran yang tidak tergantikan
sebagai individu). Sebagai contoh kelompok the Stars, salah
satunya adalah peneliti. Mereka yang termasuk kelompok keempatlah
yang benar-benar merupakan aset bagi organisasi. Organisasi
perlu memberikan perhatian penuh pada kelompok ini, karena
di tangan merekalah masa depan organisasi. Persoalannya, bagaimana
memanfaatkan pengetahuan yang mereka miliki, sehingga dapat
terakumulasi dan akhirnya menjadi aset organisasi.
Penerapan KM di TNI AD
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan tuntutan
tugas pokok maka penerapan KM di lingkungan TNI AD merupakan
suatu keharusan. Penerapan KM ini dapat diawali dari Lembaga
Pendidikan (lemdik) TNI AD sebagai "gudang ilmu".
Lemdik merupakan garda depan dalam mencetak sumber daya manusia
TNI AD. Dari sinilah seluruh personel TNI AD yang mengawaki
organisasi dibentuk. Penerapan KM di TNI AD saat ini masih
dalam embrio dengan dimulainya sosialisasi dan komputerisasi
bahan ajaran di semua Lemdik TNI AD. Diharapkan dengan dibuatnya
bahan ajaran menggunakan teknologi informasi maka ketersediaan
pengetahuan eksplisit menjadi tidak bermasalah karena tersedia
dalam bentuk yang mudah diakses secara cepat dengan bantuan
komputer. Dengan adanya akses yang cepat ini maka proses belajar
akan menjadi lebih cepat dan efektif. Di samping itu diharapkan
akan tumbuh budaya menulis di kalangan guru militer untuk
selalu menuangkan ide dan hasil pengembangan ilmunya di dalam
suatu tulisan yang dapat dijadikan bahan untuk pengembangan
pengetahuan.
Karena masih dalam tahap embrio dan baru akan dikembangkan
maka perlu mempertimbangkan beberapa hal / langkah untuk implementasinya
agar dapat berhasil dengan baik. Langkah-langkah tersebut
meliputi :
a. Identifikasi
pengetahuan yang ada (baik tacit maupun eksplisit) sehingga
dapat diketahui peta pengetahuan dalam organisasi dan proses-proses
atau kebiasaan yang terkait dengan pengelolaan pengetahuan.
b. Identifikasi
infrastruktur yang ada, kita perlu melihat infrastruktur apa
yang telah ada, misalnya koleksi hanjar, perpustakaan, intranet,
media komunikasi internal, email, forum diskusi, digital library
dan lain-lain.
Setelah
diperoleh gambaran mengenai proses pengelolaan pengetahuan
yang ada dan infrastrukturnya maka kita dapat memulai untuk
membangun KM. Apabila KM akan diimplementasikan maka perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Penerapan
teknologi.
Pada tahap awal perlu menggunakan teknologi yang tepat, sederhana
yang telah ada dan baru kemudian dapat dikembangkan lebih
lanjut. Sebagai misal untuk komputerisasi bahan ajaran dapat
menggunakan teknologi sederhana yang biayanya relatif murah
seperti menggunakan bentuk portable document format (PDF).
Kebetulan software ini (Adobe Acrobat Reader) merupakan software
yang dapat di download dengan gratis. Sementara front end
nya menggunakan bentuk html yang dapat ditampilkan melalui
internet explorer sebagai bagian dari Windows 98 ataupun Windows
ME yang dibeli bersamaan dengan komputer baru (preloaded).
Dengan demikian maka hal-hal yang berkaitan dengan masalah
hak kekayaan intelektual (HAKI) tidak menjadi masalah pada
saat awal penerapan KM ini. Setelah KM ini dapat berjalan
dan diterima oleh pengguna maka baru kemudian dikembangkan
menggunakan teknologi yang lebih baik dan memerlukan biaya
yang relatif mahal tetapi sangat menolong bagi perkembangan
organisasi.
b. Perubahan
Budaya.
Dapat dilakukan dengan membuat kebijakan dan anjuran. Ini
merupakan hal yang penting karena budaya di TNI AD masih sangat
bersifat paternalistik. Sehingga peran pimpinan akan sangat
menonjol di dalam pemasyarakatan KM ini. Ini merupakan langkah
yang menentukan karena keberhasilan KM merupakan penentu maju
mundurnya organisasi.
c. Pembangunan
fasilitas untuk berbagi pengetahuan (knowledge exchange).
Perlunya dibentuk suatu tempat untuk memungkinkan tumbuh suburnya
diskusi. Hal ini merupakan sarana bagaimana pengetahuan itu
dapat dibagikan. Fasilitas tersebut sangat penting sebagai
tempat dari aktifitas-aktifitas yang penting bagi proses penciptaan
pengetahuan dan inovasi yang meliputi knowledge exchange,
knowledge capture, knowledge reuse, dan knowledge internalization.
Hal ini juga penting karena dapat digunakan sebagai sarana
untuk menangkap pengetahuan yang sifatnya tacit.
d. Sosialisasi
KM untuk dapat dimanfaatkan oleh seluruh personel. Hal ini
merupakan suatu kunci keberhasilan dalam penerapan KM karena
apabila KM ini dikenal oleh seluruh personel maka proses untuk
menangkap pengetahuan ini akan dapat dilaksanakan dengan lebih
baik.
e. Evaluasi keberhasilan penerapan KM.
Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan pengukuran kinerja
dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah dilaksanakannya
KM.
Sejauh
Mana Keberhasilan Penerapan Konsep KM di TNI AD?
Dari hasil pengenalan kepada semua Danpusdik dan pejabat terkait
dengan bidang pendidikan di Mabesad pada rapat koordinasi
tanggal 12 Agustus 2003, tampaknya konsep ini akan dapat dilaksanakan.
Hal ini karena pada dasarnya setiap lemdik sudah mempunyai
bahan ajaran dalam bentuk soft copy, sehingga yang perlu dilakukan
adalah menyusun pengetahuan / bahan ajaran tersebut secara
lebih sistematis dalam bentuk yang mudah diakses. Selama ini
sudah tersedia bahan-bahan tersebut namun untuk dapat membukanya
diperlukan keahlian menggunakan komputer (baik itu software
pengolah kata, spreadsheet ataupun yang lain). Hal inilah
yang menjadikan kendala bagi lemdik. Dengan demikian pada
tahap awal yang perlu dilakukan adalah bagaimana membuat pengetahuan
tersebut dapat diakses oleh para siswanya tanpa memerlukan
pengetahuan komputer (computer literacy). Hal ini dapat dilakukan
dengan membuat program kecil yang mampu mengoperasikan secara
otomatis (autorun) compact disk (CD) yang dimasukkan ke dalam
CD ROM drive komputer. Dengan adanya program kecil ini maka
diharapkan para siswa akan mampu mengakses informasi dengan
cepat melalui daftar informasi / menu yang ditampilkan oleh
komputer dengan syarat yang penting mampu menggunakan mouse
komputer.
Untuk
menjamin keberhasilannya maka diperlukan suatu upaya untuk
mewujudkan dengan melakukan evaluasi dengan disertai asistensi
untuk merealisasikan pelaksanaan konsep KM ini. Untuk tahap
pertama perlu dilaksanakan pilot proyek di salah satu lemdik.
Perlu diyakinkan bahwa penerapan KM ini bisa berhasil sampai
dengan implementasi dengan asistensi teknis sampai dengan
selesai. Dalam konteks ini penulis optimis akan dapat dilakukan
karena pada prinsipnya semua lemdik sudah mempunyai bahan
ajaran dan tenaga operator komputer yang mampu mengerjakan
tugas untuk menghimpun bahan ajaran dan dirangkaikan menjadi
satu kesatuan.
Diharapkan
apabila konsep ini dapat diterapkan dengan baik maka setiap
siswa akan dapat memperoleh pengetahuan yang selama ini dalam
bentuk buku menjadi dalam bentuk CD yang praktis dan mudah
diakses. Dengan demikian dalam jangka panjang pengetahuan
akan dapat diakses oleh semua siswa dengan lebih baik, dan
pihak lemdik dapat mempersingkat waktu pendidikan. Implikasi
dari konsep ini adalah lemdik akan dapat menjadi tempat yang
lebih baik untuk menumbuhkan semangat kebangsaan karena waktu
yang tersedia tidak dihabiskan semuanya untuk memberikan pelajaran
yang semuanya sudah dihimpun dalam satu CD, tetapi dapat digunakan
untuk memberikan pembekalan materi yang lain dalam rangka
pembentukan mental yang lebih baik. Semoga konsep ini dapat
dilaksanakan dalam waktu yang tidak lama lagi.
Budiman
S. Pratomo (budiman@dephan.go.id)
Analis Sistem Informasi
Disinfolahtad
|