|
JANGAN
BANGKITKAN DIKHOTOMI MILITER VERSUS SIPIL
Oleh : Drs. FX Suarif Arifin, MPsi
(Staf Pengajar Unika Atma Jaya)
Istilah dikhotomi adalah istilah yang lazim digunakan pada
disiplin ilmu-ilmu kesehatan terutama bila kita sudah membahas
anatomi paru, dalam hal mana dalam badan kita terdapat dua
buah paru kanan dan kiri yang berawal dari trachea, sifat
bagi dua itu ( = dikhotomi) terus berlanjut dalam tingkatan
yang lebih rendah mulai dari bronchus, broncheolus, alveolus,
hingga satuan unit fungsional terkecil. Istilah ini tidak
berkonotasi negatif sebab kedua bagian tersebut (baik kanan
dan kiri) merupakan satu fungsi yang komprehensif dan saling
mendukung.
Sementara pembahasan dikhotomi militer dan sipil cenderung
diadu hadapkan (dikonfrontasikan atau dibenturkan) dan bila
hal ini terjadi maka ketahanan nasional suatu negara akan
lemah dan menjadi sasaran infiltrasi kekuatan asing. Sebaliknya
bila salah satu kekuatan dominan sehingga meniadakan potensi
pihak lainnya, bukan mustahil pilihannya adalah militerisme
atau anarkhisme sipil. Sebenarnya Indonesia telah memiliki
pola hubungan yang strategis dan ideal yaitu DWI FUNGSI ABRI
yakni ABRI sebagai pertahanan keamanan dan ABRI sebagai kekuatan
sosial politik. Namun dalam pelaksanaannya terdengar seloroh
, ABRI selalu berhasil dalam berbagai tugas dan pengabdian
KECUALI PADA TUGAS POKOKNYA. Seloroh ini tentu sebagai sindiran
karena sejak 27 Mei 1996 begitu marak kerusuhan pada berbagai
tempat di Indonesia disamping separatis bersenjata di Aceh
dan Papua, serta berpuncak pada kerusuhan Mei 1998 dengan
lengsernya kepemimpinan Presiden Soeharto.
Oleh karena itu gerakan reformasi yang berskala nasional juga
terdapat dalam tubuh TNI termasuk pemisahan TNI dan Polri,
dan netralitas TNI terhadap partai politik. Nikmatnya ABRI
sebagai kekuatan sosial politik sering dirasakan sebagai aroma
tidak sedap bagi kalangan sipil tertentu karena godaan tadi
dapat bersumber dari kedua belah pihak yang satu hanyut dalam
nostalgia masa lalu, sedang pihak lain memerlukan figur personil
TNI yang pada umumnya sudah terbentuk dalam wawasan nasional
dan skala nasional pula. Hal ini nampak jelas dari kekhawatiran
sosiolog Dr. Laode Ida kepada pers di Gedung DPR/MPR, Senin
5 Januari 2004 (Harian Umum KOMPAS 6 Januari 2004) bahwa tersebarnya
sejumlah purnawirawan Tentara Nasional Indonesia menjadi calon
anggota legislatif (caleg) partai politik diduga karena ada
agenda strategi besar dari Keluarga Besar TNI, untuk menguasai
parlemen dan selanjutnya pemerintahan.
Oleh karena itu, agar proses demokratisasi di Indonesia berjalan
aman, sebaiknya masyarakat memilih partai politik yang belum
terkontaminasi oleh purnawirawan TNI. Ada semacam agenda Keluarga
Besar TNI untuk mencoba menguasai dan pemerintahan kelak,
karena isu yang diembuskan ke masyarakat kepemimpinan sipil
dianggap gagal. Karena itu, untuk amannya bangsa dan negeri
ini harus diambil oleh kepemimpinan militer, katanya, saat
ditanya soal banyaknya purnawirawan TNI yang menjadi caleg
nomor jadi oleh partai politik peserta Pemilihan Umum 2004.
Mungkin agar dapat memberikan gambaran menakutkan (lagi) ada
baiknya ditambahkan, lihat saja nomonasi beberapa calon presiden
sebagaimana diberitakan banyak media. Bukankah itu dapat menambah
bangkitnya militerisme di era reformasi. Lebih tidak pas lagi
bila kemudian diberi embel-embel bahwa beberapa di antara
mereka berada pada remote Mbah Soeharto.
Syukurlah, Harian Umum KOMPAS menerapkan prinsip cover both
side dalam pemberitaan (termasuk menghormati hak jawab seseorang
bila pemberitaannya dianggap tidak akurat dan tidak benar
dengan menampilkan pendapat peneliti dari Center for Strategic
and International Studies (CSIS) Indra J Paliang secara terpisah
menilai masuknya purnawirawan TNI ataupun Polri ke ajang politik
lewat parlemen bukan masalah yang mengganggu proses demokratisasi,
karena sebetulnya mereka berstatus sipil ketika menjadi caleg.
Masih segar ingatan kita bagaimana tatkala Eisenhower mencalonkan
diri sebagai presiden Amerika Serikat, beliapun dalam status
sipil. Menurut Paliang, yang harus dilihat apakah partai politik
sudah punya platform yang jelas tentang hubungan sipil-militer.
Masalah platform sedikit sekali diungkap partai politik. Kalau
parpol sudah punya, apakah sudah sampai pada rencana strategis
bidang pertahanan, sehingga siapapun anggota legislatif tidak
ada masalah yang perlu dikhawatirkan. Sebab, kehadiran purnawirawan
TNI atau Polri adalah sebagai sipil dan mereka bukan mewakili
militer.
MEMBERDAYAKAN
POLITISI SIPIL
Nampaknya keseriusan untuk memberdayakan politisi sipil merupakan
"Idea of Refrence " agar menjadi pahit dimasa lalu
tidak terulang lagi. Diakui betapa repotnya, upaya politisi
sipil memunculkan figur-figur reformis dalam arena politik,
justru "digantung" oleh kalangan politisi sipil
juga. Pemimpin politik cenderung memunculkan figur-figur lama
dan miskin dengan pemain-pemain reformis. Sehingga, kalau
mau aman sebetulnya lebih bagus pilih partai yang tidak terkontaminasi
oleh yang lama. Repotnya partai yang dominan sekarang ini
adalah yang dimaksud purnawirawan TNI.
Sementara Indra Paliang mengemukakan, yang harus dikerjakan
adalah bagaimana politisi sipil punya wacana yang baik terhadap
peran militer dalam demokrasi. "Induknya kan tetap presiden.
Mereka akan banyak dipengaruhi kebijakan presiden. Jadi, kehadiran
sejumlah politisi dari purnawirawan TNI atau Polri itu tidak
terlalu bermasalah jika diperlukan di bidang-bidang legislatif,
misalnya duduk di Komisi I yang menangani pertahanan dan keamanan".
Secara makro, kata Indra Paliang, kehadiran politisi mantan
TNI dan Polri sebetulnya di negara-negara lain tidak menjadi
persoalan. Di Amerika Serikat veteran perang banyak yang langsung
masuk ke calon anggota parlemen. "Itu tidak menjadi persoalan,
karena mereka sudah menjadi politisi sipil. Cuma kita sedang
transisi menjadi supremasi sipil, sehingga sedikit bermasalah".
Indra Paliang juga mempermasalahkan walaupun para purnawirawan
itu mempunyai organisasi (Pepabri) yang secara tidak langsung
tetap menjalin komunikasi dengan Mabes TNI/Polri. Toh nanti
mitra kerja Panglima TNI atau Kepala Polri itu dalam bentuk
aspirasi bisa disterilkan ketika Panglima TNI atau Kepala
Kapolri bertemu dengan anggota legislatif.
Siapa nanti yang menjadi aspiran (corong) kebutuhan TNI/Polri
ini di legislatif ? Misalnya anggaran personel, persenjataan
dan perundang-undangan. Selama ini lebih banyak dibawakan
Fraksi TNI/Polri. Nanti induk mereka kan ke pertainya, kata
Paliang.
Nah, bila wacana ini harus ditindaklanjuti, setelah tidak
adanya fraksi TNI/Polri pada Pemilihan Umum 2004, siapa yang
akan menyuarakan aspirasi TNI/Polri di parlemen. Hemat penulis,
tidak ada salahnya bila para purnawirawan tadi melalui partai
politik atau fraksi yang mewakilinya di DPR ikut terlibat
dalam wacana karena pengalaman pribadi dan pengalaman kebersamaan
mereka dalam TNI/Polri tentu akan memberikan kontibusi yanbg
tidak sedikit. Bahkan, tidak berlebihan bila Dosen Mata Kuliah
Pancasila dan Kewarganegaraan juga ikut berpatisipasi menjadi
wakil rakyat karena asah yang mereka miliki akan mempertajam
wawasan dalam pelbagai diskusi dan sekaligus mengurangi kekhawatiran
sosiolog Dr. Laode Ida.
Sebenarnya kalau kita mau jujur, tidaklah selamanya pemerintahan
sipil yang diidolakan itu berjalan mulus. Indonesia pernah
memiliki Presiden Soekarno yang dalam perilakunya lebih militer
ketimbang militer profesional, dan lawan-lawannya memberi
stempel diktator kepadanya. Padahal Bung Karno yang ganteng
itu justru kadang gandrung dengan atribut-atribut militer
dalam uniform resmi kenegaraan, dan hanya peci nasional saja
yang membedakan dirinya dengan atribut militer. Sebaliknya,
masih pada awal kemerdekaan panglima Besar Jenderal TNI Soedirman
justru berpakaian lurik batik tanpa seragam militer namun
wibawanya telah menakutkan penjajah. Sudah kita ketahui bersama
bagimana beliau menolak menyerah dengan terus mengorbankan
perjuangan gerilya dalam mengusir penjajah Belanda.
Kini pada awal milenium ketiga, Presiden Amerika Serikat George
W. Bush justru lebih militer dari Menteri Pertahanan dan Kepala
Staf Gabungan karena merasa kuat didukung penuh oleh senat
dan kongres, meski tidak mendapat persetujuan Dewan Keamanan
PBB tetap saja menyerang Iraq pada 20 Mei 2003, bukan saja
melengserkan Presiden Saddam Hussein, namun juga menangkapnya
pada bulan Desember 2003.
Tentu Indonesia bukanlah Amerika, tetapi sidang pembaca akan
lebih berhati-hati bila memiliki pemimpin sipil yang nekad.
Cukup sudah kita memiliki presiden model Gus Dur yang bersama
istrinya sungguh memelas hati, diperdaya tukang pijatnya dan
ke luar istana hanya memakai celana pendek. Sebaliknya kita
memang harus berhati-hati terhadap militer tapi bukan dengan
mencurigainya terus menerus, Mereka kan juga manusia dapat
berubah sesuai kebutuhan dan tuntutan lingkungan. TNI dan
Polri termasuk purnawirawan bersama wredatama adalah bagian
dari bangsa dan daripadanya kita harapkan kearifan dan ketulusan.
Insya Allah.
|