TEKNOLOGI DAN
HAKEKAT ANCAMAN
Oleh : Mayor CZI Budiman S. Pratomo

Dalam bidang militer, teknologi mempunyai implikasi yang sangat luas terutama dalam perumusan strategi. Karena peran teknologi yang demikian besar dalam bidang militer maka secara langsung akan berpengaruh terhadap rumusan hakekat ancaman suatu negara. Saat ini TNI masih melihat hakekat ancaman secara konvensional walaupun pandangan itu masih cukup relevan. Akan tetapi dari sudut pandang teknologi TNI perlu mempertimbangkan kembali tentang rumusan hakekat ancaman. Ancaman tersebut berasal dari teknologi yang dimanfaatkan sebagai suatu upaya modernisasi serta kelangkaan sumber energi sebagai konsekuensi penggunaan teknologi.
Trend Perkembangan Teknologi
Umat manusia telah mencapai kemajuan sangat pesat dalam separuh abad ini dibandingkan semua tahapan dalam sejarah manusia. Salah satu alasan adalah kemajuan pesat dalam bidang komputer, yang memungkinkan percepatan perkembangan bidang teknologi lainnya. Dewasa ini teknologi yang berkembang sangat pesat adalah teknologi informasi dan bioteknologi khususnya rekayasa genetika (genetic engineering). Dua teknologi ini akan sangat dominan dalam kehidupan manusia di masa mendatang dan sisi negatifnya pasti akan menjadi ancaman yang serius bagi umat manusia.
Disamping trend teknologi tersebut, dari kacamata militer terdapat kerawanan sebagai hasil dari teknologi generasi sebelumnya yaitu teknologi yang berkaitan dengan senjata pemusnah massal (weapon of mass destruction / WMD) seperti senjata nuklir dan senjata biologi. Akibat bubarnya Uni Soviet maka proyek-proyek teknologi yang berkaitan dengan bahan radioaktif dan senjata biologi menjadi terlantar karena tidak adanya dukungan biaya. Teknologi tersebut saat ini menjadi ancaman yang sangat potensial bagi umat manusia, misalnya bakteri Anthrax (Bacillus anthraxis) yang digunakan dalam aksi teror belakangan ini. Belum lagi apabila zat radioaktif dan senjata kimia yang terlantar tersebut jatuh ke tangan teroris, maka akan menimbulkan ancaman yang lebih serius lagi.
Dengan demikian, disamping teknologi senjata pemusnah massal, teknologi informasi dan rekayasa genetika sisi negatifnya pasti akan merupakan ancaman bagi suatu negara bila berada di pihak yang tidak bertanggung jawab.
Perkiraan Ancaman Ber-kaitan dengan Teknologi
Teknologi disamping membawa manfaat yang luar biasa terhadap suatu negara juga berpotensi menjadi sumber ancaman. Dalam artikel yang berjudul The Transformation of War and the Future of the Corps, Robert David Steele menyatakan bahwa ada empat kelas ancaman yang akan dihadapi bangsa Amerika yaitu :
1. Militer dengan sistem yang canggih dengan dukungan logistik yang sangat kuat ( the high-tech brute )
2. Gabungan antara para penjahat dan teroris ( the low-tech brute )
3. Kelompok massa tanpa senjata yang biasanya didorong oleh faktor agama, ideologi / SARA (the low-tech seer )
4. Gabungan antara para penjahat informasi dan mata-mata ekonomi ( the high-tech seer ).
Dilihat dari penguasaan teknologi saat ini dunia terbagi menjadi negara berteknologi tinggi dengan negara yang relatif tertinggal secara teknologi. Penguasaan teknologi yang sangat maju ini justru menjadi ancaman bagi negara yang bersangkutan. Sebagai contoh, Amerika sebagai negara yang menguasai teknologi menyadari bahwa penguasaan teknologi berpotensi menjadi ancaman bagi negaranya. Seperti yang dinyatakan dalam konferensi tahunan yang diadakan oleh Army War College tahun 1998 dengan tajuk Challenging the United States Symmetrically and Asymmetrically: Can America be Defeated?. Dari hasil konferensi tersebut diperoleh jawaban yang jelas yaitu bahwa Amerika tidak akan dapat ditaklukkan melalui serangan militer yang simetris (seimbang), tetapi Amerika dapat ditaklukkan dengan serangan yang asimetris (tidak seimbang). Teknologi berpotensi menjadi ancaman yang menonjol, dan ancaman ini sifatnya asimetris (asymmetric threat). Ancaman asimetris ini ternyata menjadi kenyataan dengan adanya serangan yang dikenal sebagai 911 terhadap WTC (World Trade Center) oleh teroris dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi transportasi. Sasaran serangan teroris terhadap WTC dan Pentagon adalah untuk menghancurkan simbol kedigdayaan teknologi Amerika. Dari kejadian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa teknologi canggih disamping merupakan sarana mengungguli lawan dalam rangka memenangkan pertempuran juga sekaligus merupakan sumber ancaman yang sangat tinggi.
Masih berkaitan dengan teknologi, ancaman yang menonjol pada saat ini dan jangka waktu ke depan justru berasal bukan dari negara luar tetapi berasal dari kerawanan yang timbul akibat kemajuan teknologi (non state threat). Sebagai contoh, pembelian komputer dan peralatan berteknologi tinggi lainnya; pembangunan dam / pusat listrik, industri, jaringan telekomunikasi; dan sebagainya. Pemanfaatan dan pembangunan teknologi tinggi seperti ini akan sangat potensial menjadi ancaman bagi negara bila tidak disertai tindakan pengamanan yang memadahi. Ingat kejadian 911 dilakukan dengan menggunakan dua "peluru kendali raksasa berawak" dengan kode Boeing 767 yang merupakan bagian dari industri transportasi Amerika. Dampak dari serangan asimetris tersebut sangat luar biasa bagi Amerika dan dunia.
Implikasi bagi TNI
Saat ini TNI kini sedang dan masih bergulat dengan persoalan berat dan pelik. Di satu sisi TNI ingin melaksanakan reposisi, redifinisi, dan reaktualisasi perannya dalam kehidupan bernegara, tetapi di saat yang sama TNI juga harus meredakan konflik yang terjadi di berbagai tempat. Tanpa disadari, karena keterlibatan yang cukup intens dalam kegiatan tersebut, tugas pokok untuk mengkaji dan mengantisipasi faktor-faktor ancaman menjadi agak terabaikan. Bila dilihat dari buku ABRI Abad XXI (Redefinisi, Reposisi, dan Reaktualisasi Peran ABRI dalam Kehidupan Bangsa) pendekatan untuk pengkajian ancaman ( threat-assessment) masih bersifat konvensional. TNI masih melihat hakekat ancaman berupa serangan dari negara lain serta gangguan keamanan dalam negeri yang ditimbulkan oleh tindakan kriminal berkaitan dengan perompakan, penyelundupan, dan pencurian sumber daya alam. Dalam kenyataan ancaman yang berupa serangan dari negara lain, saat ini tidak akan terjadi apabila kita tidak berperilaku yang menyimpang dari konvensi-konvensi dan aturan internasional yang berlaku atau melindungi kegiatan terorisme. Ancaman semacam ini akan datang kalau suatu negara melakukan pelanggaran terhadap aturan tersebut. Sebagai contoh, yang terjadi pada Irak karena menginvasi Kuwait dan Afganistan karena dituduh melindungi

Dari uraian tersebut, ancaman yang menonjol di masa yang akan datang adalah kerawanan teknologi akibat modernisasi yang dilakukan oleh setiap negara dan krisis sumber daya alam khususnya sumber energi akibat penggunaan atau pembangunan teknologi. Sebagai contoh, kita lihat negara ASEAN. Saat ini Malaysia sudah membangun Information Super Highway, Singapura mencanangkan Army21, dan ASEAN telah mencanangkan Visi 2020. Dengan demikian maka Indonesia mau tidak mau sebagai anggota ASEAN harus mengikuti perkembangan dengan penggunaan teknologi. Perkembangan ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap rencana pertahanan (defence planning)Indonesia.
Dari sisi sumber daya alam khususnya sumber energi (minyak dan gas bumi), data yang ada menyatakan bahwa cadangan minyak Indonesia akan habis 12 tahun lagi, Malaysia 18 tahun, dan Vietnam 22 tahun lagi (kecuali ditemukan sumber-sumber baru). Sedangkan Thailand dan Singapura selalu tergantung pihak luar karena memang tidak memiliki sumber energi tersebut. Konsekuensinya, 15-20 tahun lagi (2015) ASEAN akan menghadapi problem perebutan sumber energi. Sekarang masalah ini sudah mulai tampak dari tindakan Cina yang mengklaim kepulauan Spratly sebagai wilayahnya karena menyimpan cadangan minyak yang besar. Implikasi dari semua ini bagi TNI adalah bahwa TNI harus mulai mendefinisikan lagi hakekat ancaman dan meninjau kembali doktrin pertahanannya disesuaikan dengan kondisi yang berlaku. Memang saat ini situasinya relatif aman bila dihadapkan dengan ancaman konvensional, tetapi apabila TNI tidak mendefinisikan kembali hakekat ancamannya dan tidak meningkatkan profesionalismenya maka TNI akan terdadak menghadapi ancaman yang akan datang pada waktunya. Dan yang dikhawatirkan adalah apabila saat itu tiba TNI menjadi tidak berdaya (defenseless). Sebagai perbandingan, Amerika yang sudah menyiapkan diri saja, begitu terjadi serangan 911 ternyata masih sempat terpukul juga.Semoga ini tidak akan terjadi.

Copyright ©2003 Dispenad, Jakarta-Indonesia. All rights reserved.
Webmaster: Dispenad.

Jalan Veteran Nomor 5 Jakarta Pusat