| |
|
PEPERANGAN
PERSEPSI DALAM
AGRESI SEKUTU TERHADAP IRAQ
Oleh:
Drs. Suarif Arifin, M.Si
Staf Pengajar Unika Atma Jaya
|
Abstrak :
Agresi
Amerika Serikat, Inggris dan Australia terhadap Iraq yang diawali
pada 20 Maret 2003 setelah gagalnya kesepakatan untuk memperoleh
dukungan untuk menyerang Iraq sebenarnya bukan saja perang yang
berdimensi militer, tetapi juga peperangan persepsi dalam hal mana
masing-masing pihak berusaha untuk meyakinkan para pemirsa dan pembaca
akan kebenaran dari berbagai tindakan. Namun merupakan fakta bahwa
terlepas dari fakta apapun, masyarakat internasional mempersepsikan
bahwa Iraq adalah bukan tandingan sekutu dan berada dalam posisi
yang menderita.
Pendahuluan
:
Jika kita dalami benar peristiwa agresi Amerika Serikat, Inggris
dan Australia nampaknya berawal dari ketidakjelasan laporan Hans
Blix dan El Baradei telah memberi peluang bagi Amerika Serikat dan
Inggris untuk mempersepsikan bahwa dibalik laporan keduanya masih
ada hal yang disembunyikan sehingga membuat amerika Serikat dan
Inggris curiga serta bersikap nekad untuk menyerang Iraq di luar
kesepakatan Dewan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Seperti diketahui bahwa beberapa hari sebelum agresi tersebut, Ketua
Tim Pemeriksa Senjata PBB Hans Blix dalam laporannya mengatakan,
Iraq secara substansial telah menghancurkan rudal Al-Samoufd 2.
Tapi, Iraq belum sepenuhnya mau bekerja sama dengan Tim Pemeriksa
Senjata PBB. Blix juga mengatakan langkah Iraq yang siap bekerja
sama dengan Tim Pemeriksa tidak mencakup semua program senjata terlarang.
Bahkan Iraq berusaha menciptakan satu kondisi sebelum melakukan
kerja sama.
Kalimat:
1. Tapi Iraq belum sepenuhnya mau bekerja sama dengan Tim Pemeriksa
PBB.
2. Bahkan Iraq berusaha menciptakan satu kondisi sebelum melakukan
kerja sama memberikan kesan bahwa masih ada senjata pemusnah massal,
senjata biologis dan senjata lain yang dapat digunakan Iraq untuk
menghancurkan umat manusia dan Amerika merasa kehadiran senjata
tersebut sebagai ancaman bagi dirinya yang dipersepsikan sebagai
"idea of reference" atau gagasan yang sudah menjadi retorika
kalau pembesar Amerika berbicara mengenai Iraq.
Hal serupa juga terjadi pada laporan Muhamed El-Baradei di depan
Dewan Keamanan mengungkapkan berdasarkan investigasi dan analisis
dokumen-dokumen, belum ditemukan bukti bahwa Iraq mengimpor biji
alumunium untuk dilebur menjadi uranium sebagai bahan baku program
senjata nuklir. Juga tidak ada bukti yang mendukung laporan intelijen
Amerika Serikat bahwa Iraq mencoba membeli uranium dari Nigeria.
Berdasarkan analisis tersebut, IAEA menyimpulkan bahwa dokumen-dokumen
yang dijadikan dasar laporan bahwa telah terjadi transaksi uranium
tentara antara Iraq dan Nigeria dan kenyataannya tidak otentik.
Kami menyimpulkan bahwa tudingan spesifik ini tidak terbukti.
Namun Muhamed El-Baradei mungkin hanya dikesankan oleh pihak Amerika
Serikat dan Inggris sebagai pribadi yang arogan dan hanya mengandalkan
jabatannya karena selain sulit menepis laporan intelijen juga mana
mungkin dalam secepat itu dapat membantah isu sensitif yang sudah
sejak lama dimonitor oleh CIA. Jadi walaupun kita memiliki fakta
yang sama namun fakta yang sama tadi dapat diinterpretasikan berbeda
oleh masing-masing pihak. Perbedaan persepsi itu dapat terjadi oleh
karena banyak hal, antara lain karena faktor (1) pengalaman, (2)
latar belakang dan tingkat pendidikan, (3) kebudayaan, (4) harapan
atau tuntutan.
Boikot Terhadap
Produk Amerika
Dalam unjuk rasa masyarakat yang menentang agresi sekutu terhadap
Iraq dicetuskan pula keinginan untuk melakukan pemboikotan terhadap
produk Amerika Serikat antara lain terhadap kegiatan waralaba yang
bernuansa Amerika Serikat seperti Mc Donald, Kentucy Fried Chicken
atau California Fried Chicken, Coca Cola.
Sekiranya dilakukan secara massal memang mungkin efektif, namun
apa mungkin di seluruh dunia melakukan hal serupa ? Boleh jadi tindakan
boikot lebih bersifat simbolis sebagai pernyataan protes yang diungkapkan
dengan "penyegelan" rumah makan tersebut dengan Banker
mirip dengan Police Line. Dalam hal ini jelas sekali bahwa masyarakat
telah mengidentifikasikan dan/atau mempersepsikan produk amerika
Serikat itu sebagai bagian atau perpanjangan tangan kepentingan
amerika Serikat yang diduga ingin mendominasi dunia. Dengan demikian,
produk Amerika berperan sebagai stimulus yang dalam Teori Behaviorisme/Teori
Reinforcement akan mengundang orang untuk segera memberikan respon
atau tanggapan seperti yang kita lihat dalam proses untjuk rasa
tersebut.
Jelas bahwa pemboikotan tersebut memang memberikan usaha-usaha waralaba
dan hal itu dapat kita lihat dari berbagai pernyataan anggota. Namun
p[emboikotan itu sendiri memberikan dampak yang merugikan dan bahkan
dapat dikategorikan sebagai tindakan XENO PHOBIA (ketakutan yang
berlebihan terhadap sesuatu yang asing) dan dipersepsikan sebagai
sikap nasionalisme yang sempit yang tidak sejalan dengan era globalisasi.
Mungkin akan dapat diterima bila boikot terhadap produk Amerika
diikuti atau dibarengi dengan sikap dan tindakan positif dengan
meningkatkan usaha menggagalkan rasa patriotisme dengan membeli
dan menggunakan produk dalam negeri.
Kenyataan boikot terhadap produk Amerika, khususnya pada usaha waralaba
bukan saja tidak efektif bahkan malah menimbulkan akibat yang merugikan
dapat diketahui dari keluhan banyak peternak ayam. Para peternak
ayam belakangan ini resah menyusul maraknya aksi demonstrasi menentang
invasi Amerika, yang diwujudkan dengan penyegelan beberapa restoran
warralaba seperti Mc Donald. Jika aksi penyegelan itu sampai berlanjut
pada penutupan paksa, maka industri peternak ayam nasional yang
saat ini didominasi oleh peternak rakyat akan guncang. Pasalnya,
dari sekitar 18 juta ekor produksi ayam nasional per minggu, sekitar
20 % atau 3,6 juta ekor diantaranya diserap oleh restoran waralaba.
Tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika pasar ayam di
restoran waralaba hancur. Jangankan 20 %, guncangan sebesar 1 %
saja dari seluruh produksi ayam nasional sudah membuat harga ayam
kacau. Ketua Persatuan Peternak Ayam Nasional Herry Darmawan, Selasa,
25 Maret 2003 mengatakan bahwa aksi unjuk rasa menentang aksi invasi
Amerika Serikat ke Iraq berkecambuk di berbagai kota di Jawa Tengah
diantaranya, aksi unjuk rasa di kota Semarang yang diwarnai penyegelan
terhadap restoran waralaba Mc Donald's.
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Front Lembaga Kemahasiswaan
Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, menyegel restoran
Mc Donald di Mall Ciputra, Simpang Lima, Semarang.
Mereka menempelkan kertas bertuliskan "gedung ini disegel"
di pintu restoran. Akibat aksi itu, puluhan pengunjung yang tengah
menyantap atau sedang antre, langsung kabur. Mahasiswa Unisula semula
bergabung dengan elemen masyarakat lain, termasuk organisasi masyarakat
(ormas), partai politik (parpol) yang berunjuk rasa anti-AS di halaman
gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jateng. Mereka kemudian
berjalan kaki sekitar 500 m menuju restoran Mc Donald's di Mall
Ciputra.
Meskipun dijaga sekitar 20 personel polisi wanita (polwan), namun
pengunjung tampak cemas saat menyaksikan kedatangan pengunjuk rasa,
dan memilih meninggalkan restoran.
Sempat Lega
Menurut Herry Dermawan sejak dua pekan terakhir para peternak ayam
di Priangan Timur yang meliputi Kabupaten Garut, Tasikmalaya, Ciamis,
dan Banjar yang berjumlah 18.000 peternak sempat bernafas lega.
Mereka mendapat keuntungan Rp. 500 tiap ekor ayam, setelah tiga
bulan sebelumnya terus menerus rugi.
"Namun, kalau permintaan dari restoran Waralaba berkurang,
keuntungan itu akan hilang, sebab sebagian produksi tidak terserap
pasar. Ini akan membuat harga kembali turun. Jika sudah begini,
peternak juga yang akan rugi, "tutur Herry" Saat ini harga
ayam hidup Rp. 5.400 per kilogram.
Herry Santoso, pemilik rumah potong ayam (RPA) Jabal Nur di Desa
Sukamulya, Kecamatan Cihaurbeuti, Ciamis, Jawa Barat, menuturkan,
sejak tiga hari terakhir produksi RPA miliknya turun sekitar 20
% dari kondisi normal. Ia menyebutkan, sebagian dari 26 gerai Mc
Donald's di Bandung dan Jakarta yang selama ini mendapat pasokan
ayam dari RPA Jabal Nur, mulai mengurangi permintaan. "Aksi
penyegelan telah mengurangi jumlah pengunjung Mc Donald's,"
ungkap Santoso. Ia mulai usaha RPA sejak 1998.
Rumah Pemotongan Ayam Jabal Nur yang memiliki 300 karyawan, rata-rata
memotong 3.000 ekor per hari. Sekitar 30 persen dari ayam tersebut
dipasok oleh 12 pondok pesantren di Tasikmalaya dan Ciamis. Sebanyak
70 Persensisanya berasal dari 800 peternak ayam di Tasikmalaya dan
Ciamis.
Santoso menegaskan, jika aksi penyegelan tidak dihentikan, atau
bahkan malah berkembang menjadi penutupan paksa, maka yang pertama-tama
rugi adalah peternak. Berikutnya, harga ayam di pasar akan hancur.
Tentu saja pemboikotan ini tidak dilakukan dalam konteks ajaran
agama karena produk amerika tersebut telah memiliki sertifikat halal
dari Majelis Ulama Indonesia, dan lebih banyak karena mengasosiasikan
produk tersebut dengan Amerika Serikat itu sendiri. Dalam hal ini
merupakan tugas pemerintah, Yayasan Lembaga Konsumen dan perguruan
tinggi menyatakan pandangan agar boikot terhadap produk Amerika
tidak menjadi "boom waktu" atau "boomerang"
yang justru merugikan citra dan kepentingan bangsa Indonesia.
Sudah menjadi rahasia masyarakat internasional bahwa unjuk rasa
di negara kita seringkali dibarengi dengan kekerasan dan kerusakan
yang konon kabarnya kebablasan itu terjadi akibat 32 tahun mendapat
represidari Pemerintah Orde Baru (yang sangat mengedepankan stabilitas
kemanan yang mantap dan terkendali) dan mendapat katup lepas pada
era reformasi. Disadari atau tidak, sering setiap orang mungkin
karena frustasi dan tidak berdaya melihat keadaan masyarakat akhirnya
bersikap dan berperilaku untuk kecenderungan destruktif (merusak)
ketimbang membangun dan memelihara yang sudah ada. Istilah EGP (Emang
Gue Pikirin) yang sering digunakan KH Abdurrahman Wahid semasa kepresidenannya
merupakan ungkapan rasa frustasi dan ketidakberdayaan massal masyarakat
Indonesia dalam mengatasi KRISIS Moneter yang berlanjut menjadi
krisis ekonomi dan krisis politik, serta tragedi TRISAKTI, tragedi
SEMANGGI, Kerusuhan Mei 1998 dan pelbagai kerusuhan di berbagai
tempat di Indonesia. Bahkan EGP adalah akronim sebuah perusahaan
yang tersangkut dengan Kasus Bank BALI beberapa tahun lalu.
Hal lain yang sering tidak diketahui oleh masyarakat luas bahwa
kegiatan waralaba produk Amerika itu telah berjasa menyerap ribuan
tenaga kerja untuk berbagai keahlian sehingga sangat disayangkan
bila kelak karena boikot produk Amerika tersebut berlanjut tanpa
berkesudahan berakibat penutupan usaha atau hengkangnya usaha ke
negeri lain (yang selalu sudah siap menampung usaha-usaha tersebut).
Jelas hal itu akan menambah pekerjaan Menteri tenaga Kerja Jakob
Nuwa Wea. Beberapa waktu lalu oernah juga terjadi aksi serupa dan
resto siap saji tersebut sempat dijaga oleh pihak kepolisian dan
para santri dari suatu organisasi keagamaan di Jakarta. Oleh karena
itu, pihak perusahaan waralaba juga harus merasa terpanggil dan
pro aktif terutama PUBLIC RELATIONS DEPARTMENT yang menurut penulis
sangat miskin gagasan memberikan penjelasan dengan komulatif terhadap
masyarakat sebagai bagian SOCIAL MARKETING CAMPAIGN, artinya jangan
hanya mengandalkan pihak keamanan saja karena semua itu merupakan
masalah nasional dan masalah kita semua. Kepedulian kita untuk menyatakan
rasa simpati kepada penderitaan rakyat Iraq yang sejak lama menderita
akibat embargo Perserikatan Bangsa-Bangsa dan protes kita terhadap
agresi sekutu terhadap Iraq jangan sampai menimbulkan sikap dan
perilaku yang justru merugikan citra dan kepentingan nasional bangsa
Indonesia.
Masih berkaitan dengan sentimen terhadap Amerika Serikat, isu penggantian
mata uang dolar ke bentuk mata uang EURO sudah semakin santer. Bahkan,
konon kabarnya, salah satu sebab yang mempercepat Presiden AS George
W Bush untuk memberi ultimatum dan menyerang Iraq karena Presiden
Saddam Hussein telah memerintahkan penggantian mata uang tersebut.
Hal ini sejalan dengan perkembanngan dunia yang menampilkan kekuatan
baru Perancis, Jerman, Rusia dan Cina sebagai pengimbang Amerika
Serikat sebagai negara adi kuasa agar tidak semena-mena dalam sikap
dan perilakukanya seakan-akan berperan sebagai polisi dunia (GLOBOCOP).
Memang harus diakui bahwa akhir-akhir ini mata uang EURO semakin
menguat terhadap mata uang dolar.
Persepsi sentimen anti Amerika inilah yang patut dicermati baik
dampak positif dan negatif bagi perekonomian nasional agar tidak
"menenggelamkan" Indonesia yang baru saja memulihkan tatanan
politik, ekonomi, sosial budaya dan keamanan setelah reformasi yang
menimbulkan banyak goncangan bagi kehidupan masyarakat di dalam
negeri.
Pengamat ekonomi dari Institute for Developmen Economics and Finance
(Indef) Aviliani yang alumnus FE Unika Atma Jaya di Jakarta, Senin
31 Maret 2003 mengatakan peralihan pemakaian mata uang dolar Amerika
Serikat (AS) ke Euro sebagai alat tukar (currency) sangat bergantung
pada orientasi ekspor produk-produk nasional ke depan. Selama ini,
alasan pemakaian dolar AS sebagai alat tukar tunggal (single currency)
karena 50 persen ekspor Indonesia dikirim ke AS. Demikian juga dengan
pinjaman luar negeri yang didapat dominan dalam bentuk dolar AS.
"Dalam jangka pendek, konsep ini kurangbaik karena kalau kursnya
melemah berarti ekspor Indonesia akan menurun, sementara pasar belum
dialihkan."
Namun, untuk pembayaran utang luar negeri akan sangat menguntungkan
karena bisa melakukan pembayaran dengan cepat dengan nilai tukar
yang rendah. Oleh karena itu, sebaiknya setiap negara jangan menganut
single currency karena mempunyai banyak kelemahan, yakni tidak mempunyai
perimbangan dari negera lain.
Dijelaskan, Indonesia beda dengan Iraq dan negara-negara Timur Tengah
pada umumnya karena sejak tahun 2000, mereka telah melakukan penjualan
minyak dengan euro dengan tujuan agar tidak terjadi single currency.
Timur Tengah sudah melihat dari dulu bahwa kalau dolar AS dijadikan
bahwa single currency akan mengancam perekonomian negara-negara
berkembang.
Sementara itu, Direktur Utama BNI Saefuddien Hasan menyatakan penggunaan
mata uang Euro dalam bisnis akan lebih baik, dalam pengertian risiko
kerugian akibat fluktuasi bisa terbagi. Saat ini, sebagian importir
telah menggunakan Euro ketika bertransaksi, meskipun volumenya relatif
kecil.
Kalau hanya melihat dari sisi bisnis, diversifikasi penggunaan mata
uang akan lebih baik. Oleh karena itu, hendaknya kita mampu bersikap
dewasa dan patriotik agar juga dapat membayangkan bila hal yang
sama terjadi dengan kita. Contoh sederhana, bagaimana kalau Amerika
Serikat tidak mengekspor kedele untuk kita, melarang produk Indonesia
untuk masuk ke pasaran di dana ? Sudahkah itu menjadi bahan renungan
dan pemilihan bersama. Ternyata masalah persepsi memang penting.
Hal serupa juga terjadi pada upaya memboikot film-film Amerika Serikat
yang menurut hemat penulis agar mirip dengan gaya yang dipraktekkan
oleh kaum komunis menjelang gerakan 30 September 1965/PKI. Tidakkah
dibayangkan oleh kalangan pengunjuk rasa yang masih belia dan masih
harus belajar sejarah sebab bagaimana jadinya bila produk tekstil
dan garmen Indonesia ditolak di pasaran Amerika Serikat. Kita boleh
berbeda pendapat dengan pemerintah Amerika Serikat, namun jangan
XENOPHOBIA dengan memusuhi rakyat Amerika Serikat. Wong mereka sendiri
melakukan unjuk rasa terhadap kebijakan pemerintahnya.
Daftar Kepustakaan
Hanani,
Alberto Daniel (2001) :
Ringht Country, Wrong Strategy
Hunger J David Cum Suis
(2000) :
Strategis Management, Seventh edition, New Jersey, Presntice Hall
Meyerson, Debra (2001) :
Radical Change, the Quiet Way, Harvard Business Review, October
|