|
Kulak Warto Adol Cerito
Oleh
: Letkol Caj Drs. Agus Subroto )*
Sekarang ini
kita hidup di era informasi, peran informasi menjadi sangat dominan
di dalam kehidupan masyarakat. Informasi tersedia berlimpah ruah
secara bebas dan secara real time bisa didapat melalui channel TV,
radio, koran, majalah, internet serta media elektronik lainnya.
Begitu bebasnya informasi bisa di akses siapapun, sehingga menyebabkan
individu, kelompok, lembaga bahkan negara berusaha untuk menguasainya
dan sekaligus mengendalikannya. Fakta ini memperlihatkan bahwa kita
tidak dapat membendung derasnya arus informasi darimanapun datangnya.
Akibatnya pembentukan opini dan propaganda untuk kepentingan apapun
bisa dilakukan, termasuk untuk mendeskriditkan lawan. Untuk itu
sebagai prajurit TNI yang berada dan bertugas di tengah-tengah masyarakat
kita harus pandai "Kulak Warto Adol Cerito" mengelola
informasi secara benar dan bermanfaat agar dapat menumbuhkan citra
positif masyarakat terhadap TNI AD.
Memang tugas
prajurit insan penerangan tidak lepas dari urusan informasi. Seorang
futurulog terkenal Alvin Toffler mengatakan bahwa siapa yang dapat
menguasai dan mengendalikan informasi akan menguasai dunia. Pernyataan
itu bukanlah pernyataan yang berlebihan mengingat saat ini dunia
dikuasai oleh teknologi informasi, sehingga kita mengenal adanya
e-mail, e-bisnis, e-goverment dan bidang kehidupan lain yang berbasis
kepada pemanfaatan teknologi informasi itu.
Perang Informasi
Untuk menguasai dan mengendalikan informasi bagi kepentingannya,
maka telah muncul kekuatan-kekuatan yang ingin mendominasinya dan
itu sah-sah saja. Sebagai akibat dari kompetisi ini kemudian melahirkan
apa yang kita kenal sekarang ini dengan Perang Informasi. Perang
informasi melalui media Internet dan media massa lainnya saat ini
memang sudah terjadi.
Perang informasi ini bisa dilakukan melalui pemberian informasi
yang salah, penyerangan situs informasi resmi suatu lembaga, penyebaran
informasi melalui media Internet, juga usaha-usaha intelejen melalui
jaringan Internet.
Pengertian perang informasi menurut Capen (1995) adalah kegiatan
yang diambil secara diam-diam untuk memanipulasi, mengacaukan atau
merusak selama masa damai, krisis atau perang terhadap masalah sosial,
politik, ekonomi, industri atau sistem informasi elektronik militer.
Jadi secara bebas sederhana perang informasi bisa didefinisikan
sebagai sistem informasi lawan.
Dengan kerterbukaan dan kecepatan informasi diyakini telah memberi
satu dimensi baru terhadap peperangan abad ini, yaitu bahwa dalam
konteks militer betapa pentingnya memenangkan perang opini, baik
sebelum, selama dan setelah operasi militer.
Opini dunia diarahkan sesuai dengan persepsi yang ingin dibentuk
oleh negara yang akan menguasai dan mengendalikan informasi itu
bagi kepentingannya. Keunggulan informasi menjadi sama pentingnya
dengan keunggulan di bidang teknologi persenjataan dan personel,
dan hampir tidak ada suatu operasi militer yang lepas dari perhatian
publik.
Media massa menjadi sarananya, dan liputannya sebagai produk jurnalistik
membuat berbagai kritik, analisa, penilaian baik dan buruk terhadap
operasi militer dalam bentuk wacana publik melalui media massa memberikan
dampak yang sangat nyata dan besar secara politis, strategis maupun
taktis, operasional.
Liputan media massa itu dapat menggagalkan atau ikut membantu suksesnya
operasi militer. Suatu operasi militer boleh saja dikatakan sukses
secara militer, tetapi belum tentu berhasil memenangkan opini publik
terhadap keberhasilan itu, jika sebagian masyarakat menentang atau
bahkan merongrong aksi militer yang dilakukan dalam jangka panjang.
Pengalaman itu dialami oleh negara besar Amerika Serikat dan sekutunya
pada perang Irak yang masih terus berlangsung sampai sekarang. Media
massa dunia terus memberitakan korban-korban yang jatuh di pihak
Sekutu dalam setiap penyerangan yang dilakukan pejuang Irak dengan
konsep perang berlarut.
Perang Informasi itu harus dilihat sebagai ancaman terhadap sistem
informasi yang kita miliki. Lalu bagaimana sebaiknya prajurit TNI
bersikap dan berperilaku dalam mengahdapi ancaman tersebut?
Baik-baik dengan rakyat adalah sikap dan perilaku yang harus dikedepankan.
Dalam implementasinya "baik-baik dengan rakyat" mengandung
cakupan dua dimensi yaitu pertama dapat dipandang sebagai perilaku
yang baik, teladan, terpuji, sehingga dapat menimbulkan rasa simpati
dan kecintaan rakyat terhadap TNI. Sedangkan yang kedua adalah sikap
dan perilaku tidak terpuji atau tercela yang dapat mengakibatkan
citra negatif masyarakat terhadap TNI. Dari dua cakupan dimensi
tersebut ujung-ujungnya citra TNI akan tergantung pada pengelolaan
informasi dan komunikasi yang baik dan benar.
Di setiap kesempatan Jam Komandan, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen
TNI Sunarso selalu berpesan agar setiap prajurit dan keluarganya
dapat memperbaiki citra TNI. Sebagai prajurit territorial yang selalu
hidup dan bertugas di tengah-tengah masyarakat harus dapat menyerap
informasi dengan cermat, yang sering disebut dengan istilah jawa
sebagai "kulak warto", oleh sebab itu setiap pimpinan
dan seluruh prajurit TNI di manapun bertugas, untuk tidak lengah
sedikitpun terhadap perkembangan informasi, lebih-lebih terhadap
info sekitar rencana aksi teror.
Buka mata untuk mengamati lingkungan sekitar, pasang telinga untuk
mendengar setiap informasi yang berkembang ditengah-tengah masyarakat.
Gunakan tangan untuk mencatat setiap informasi yang ada dan rekam
dalam otak untuk mengingat-ingatnya. Kalau ada indikasi yang mencurigakan
segera laporkan atau adol cerito kepada pihak lain dalam hal ini
rekan kita Polri. Dengan pengelolaan informasi yang benar dan cermat
maka kulak warto adol cerito para prajurit yang sudah tergelar disetiap
wilayah akan berjalan efektif dalam mendeteksi untuk memerangi aksi-aksi
teror di tanah air kita.
Demikian halnya kemampuan berkomunikasi yang baik bagi aparat kewilayahan
khususnya para Babinsa sangat diperlukan untuk memobilisir dan membangkitkan
semangat masyarakat melawan setiap tindakan teror. Baik dilingkungan
tetangga, disetiap pertemuan RT atau pun dikedai-kedai kopi yang
ada diwilayahnya.
Lakukan analisa terhadap informasi yang mengarah pada indikasi kegiatan
teror baik terhadap perorangan maupun kelompok yang dicurigai di
lingkungan masyarakat. Buka mata dan pikiran masyarakat agar menyadari
bahwa mayarakat juga memiliki tanggung jawab untuk ikut serta mewujudkan
dan memelihara stabilitas keamanan di lingkungannya masing-masing
dan tidak cukup hanya bersandar pada aparat keamanan yang ada.
Apabila setiap prajurit Kodam IV/Diponegoro dalam strata apapun
mampu mengelola informasi yang ada disekitarnya lalu memanfaatkannya
dengan benar Insya Allah dapat membangun dan menumbuhkan citra TNI
khususnya Kodam IV/Diponegoro semakin baik di mata masyarakat. Apalagi
dikombinasikan dengan lima kemampuan teritorial yang harus dikuasai
dan dipahami dengan baik meliputi; Kemampuan temu cepat, lapor cepat,
manajemen Teritorial, kemampuan penguasaan wilayah, kemampuan perlawanan
rakyat, kemampuan komunikasi sosial.Maka harapan Kasad bahwa setiap
prajurit itu adalah mata, telinga dan penyambung lidah pimpinan
TNI AD dalam pembentukan opini positif adalah benar adanya.
Para prajurit TNI-AD pada dasarnya adalah insan-insan penerangan
yang selalu menyerap informasi dan harus dapat mengolahnya menjadi
info bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya, lebih-lebih para perwiranya
tentu dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan lingkungan strategik
termasuk tentang peperangan informasi. Para prajurit hendaknya dapat
meninggalkan paradigma lama yang berkiblat pada hal-hal yang rutin,
hal yang biasa biasa saja dan status quo.
Demikian halnya prajurit Kodam IV/Diponegoro teruslah ditengah-tengah
masyarakat hadir sebagai prajurit-prajurit profesional, mampu mengikuti
dan mengantisipasi perkembangan lingkungan dengan cepat selaras
dengan cepatnya aliran informasi yang terus bergerak dinamis. Dan
sekaligus pandai "kulak warto adol cerito" yang bermanfaat
guna menumbuhkan citra positif masyarakat terhadap TNI/TNI-AD. *)
Penulis Kapendam IV/Diponegoro
|