|
TIMOR
LESTE & BEBAN SEJARAH TNI
OPINI OLEH : NIZAM GUSLI
Sejumlah media
massa memberitakan Tentara Australia mengambil posisi siaga ketika
mendarat di bandara internasional di Dili, akhir Mei ini. Kehadiran
pasukan Australia itu adalah atas permintaan pemerintah Timor Leste
yang kewalahan menghadapi 600 mantan tentara Timor Leste yang dipecat.
Inilah sejumlah
catatan penting dari Timor Leste (Timor Timur) hari-hari belakangan
ini. Kekerasan di Dili memang terjadi sejak beberapa hari terakhir.
Bahkan situasi di negeri baru itu semakin tidak terkendali dan makin
memburuk. Seorang Pemimpin Redaksi Timor Post, Aderito Hugo da Costa,
sebagaimana dikutip oleh sejumlah media online, melukiskan kondisi
dan suasana di Dili bagaikan killing field (ladang pembantaian)
dalam konflik di Kamboja beberapa tahun silam. Pasalnya, pasukan
reguler Angkatan Bersenjata Timor Leste (FDTL) dan Polisi Nasional
(PNTL) melakukan baku tembak melawan prajurit pecatan (karena dianggap
membangkang dan desersi). Sementara pasukan pemberontak melakukan
penyusupan ke kota dan berusaha menguasai kota Dili.
Beberapa warga
Dili juga menggambarkan, bahwa situasi di Dili kini tidak bisa diprediksi
lagi. Tembakan keras masih terdengar di berbagai tempat. Keadaan
sudah tidak bisa dikontrol, dan penduduk pun ketakutan. Bentrokan
bersenjata itu bahkan terjadi di markas kepolisian Timor Leste,
dekat gudang senjata. Tujuh anggota polisi dan sejumlah warga sipil
tewas. Toko-toko tak ada yang buka. Dili menjadi kota mati. Pemilik
toko dan penduduk lebih memilih menyelamatkan diri hingga ke hutan-hutan.
Sejumlah rumah penduduk mulai dibakar para pemberontak setelah lebih
dulu dijarah.
Eksodus warga
dari wilayah Timor Leste sulit dilakukan karena situasi yang masih
penuh baku tembak. Situasi di Dili ini diperkirakan terus memburuk.
Pasokan bahan makan berupa sembako dari Indonesia praktis terhenti
sejak kerusuhan meletus. Ratusan warga negara Indonesia (WNI) yang
selama ini mencari nafkah di Dili, terjebak di Tibar, sebuah perkampungan
antara Distrik Dili dengan Liquisa. Ratusan WNI ini hendak menuju
ke Atambua, Timor bagian barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka
ingin keluar dari Kota Dili menuju Timor bagian barat, Indonesia
untuk menghindari kemungkinan terjadi perang frontal antara kelompok
pemberontak dengan pasukan pemerintah. Namun, sesampai di Tibar,
jalan-jalan telah diblokir oleh kelompok pemberontak di sektor barat.
Kendaraan yang ditumpangi para WNI itu tidak bisa menerobos barikade
yang dipasang para pemberontak. Kabarnya kelompok pemberontak sengaja
memasang barikade di trans utama Timor Timur itu untuk menghalau
mobilisasi pasukan FDTL dan PNTL.
Tindakan serupa
juga dilakukan ketika pecah kerusuhan pada akhir April lalu. Ketika
itu, kendaraan dari dan ke Indonesia juga tidak bisa menembus blokade
di Liquisa yang juga dipasang oleh tentara pemberontak yang dipecat
Panglima FDTL, Brigjen Taur Matan Ruak. Ini sebuah suasana yang
sering terjadi dan akan terus terjadi selama pemerintah Timor Leste
tak mampu mengakomodasi warganya yang memiliki watak menjadi
manusia sulit selama ini.
Sikap TNI
Melihat perkembangan
Timor Leste yang demikian ini sikap TNI sebaiknya diam dan tidak
usah menyodorkan bantuan. Saya sependapat dengan apa yang dikemukakan
oleh Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto, bahwa TNI tidak akan mengirimkan
pasukan ke Dili untuk membantu menghentikan kerusuhan antara tentara
pecatan dengan pasukan Timor Leste. Ini merupakan sikap yang netral,
dan sangat bijak mengingat TNI menanggung beban sejarahn dengan
Timor Leste.
Terlebih bila
kita melihat sikap Timor Leste sendiri, bahwa hingga saat ini kabarnya
juga tidak meminta bantuan Indonesia. Karenanya akan lebih baik
bila TNI hanya akan melihat perkembangan yang terjadi di Timor Leste.
Untuk sementara ini TNI lebih berkonsentrasi dan memprioritaskan
masalah keamanan di dalam negeri saja. Untuk perbatasan dengan Timor
Leste, TNI juga tidak perlu melakukan penambahan pasukan, namun
harus tetap meningkatkan kewaspadaan sesuai tingkat eskalasi yang
terjadi di Dili.
Sedangkan menyangkut
adanya eksodus warga Negara Indonesia, tentu hal ini harus tetap
difasilitasi. Bagaimana pun mereka adalah warga Negara Indonesia
yang harus diselamatkan, dan TNI memiliki kewajiban untuk itu. Sedangkan
bila sudah menyangkut warga Timor Leste, hal itu di luar urusan
TNI.
Oleh karenanya,
berkaitan dengan memanasnya situasi di Timor Leste, sekalipun TNI
tidak ikut berperan meredakan kekacauan secara langsung di Dili,
sebaiknya tetap bersiaga di perbatasan. Aparat TNI yang bertugas
di sepanjang perbatasan RI-Timor Leste harus lebih memperketat penjagaan
terhadap pelintas batas asal negara itu. Langkah ini harus diambil
untuk mencegah eksodus ke wilayah Indonesia terkait bentrokan di
Dili.
Beban sejarah
Bagaimanapun
kekacauan di Timor Leste menjadi beban tersendiri bagi Indonesia,
utamanya bagi TNI. Inilah kenyataannya, bahwa sejak memisahkan diri
dari Indonesia ternyata Timor Leste (Timor Timur) tidak lebih baik,
bahkan cenderung dalam kondisi lebih buruk. Apapun yang kini terjadi,
Indonesia sebaiknya tetap diam dan tidak turut campur tangan kepada
Timor Leste, kecuali hanya mengamankan wilayah perbatasan milik
Indonesia.
Kita harus ingat
bagaimana perlakuan saudara-saudari kita Timor Leste terhadap Indonesia.
Ketika mereka kejepit oleh kesulitan, mereka minta tolong kepada
Indonesia. Dan ketika mereka lepas dari jepitan, mereka pula yang
kemudian menyakiti kita. Ibarat kata, kita menolong anjing kejepit.
Setelah kita tolong, maka kita justru digigitnya. Inilah pengalaman
pahit Indonesia saat membantu Timor Leste. Memang menyakitkan, tetapi
itulah fakta sejarah yang tak bisa dihapus.
Tak heran bila
korban yang berjatuhan dari putra-putri terbaik Indonesia seakan
tak ada gunanya, dan justru menjadi bahan olok-olok bagi mereka.
Karena itu, kita harus selalu mengingatkan pengalaman buruk ini.
TNI menanggung beban sejarah di negeri itu. Kita ingat bagaimana
sakitnya TNI dipecundangi oleh konspirasi internasional dan orang
Timor Leste yang berkepala dua (yang nota bene sekarang memegang
kekuasaan). Bagaimana sakitnya ketika Bendera Merah Putih dikerek
turun dari Timor Timur, dan mereka bersorak kegirangan mengusir
TNI dari sana yang dibantu oleh konspirasi pasukan asing. Betapa
sakitnya Indonesia (TNI) ditertawakan, disoraki, dihujat oleh LSM
lokal maupun asing dan harus pergi meninggalkan Timor Timur.
Para prajurit
TNI yang rela gugur melepaskan Timor Leste dari perang saudara di
negeri itu tahun 1976 justru dicap sebagai mencaplok. Mereka yang
ingin berintegrasi, tetapi kita (Indonesia) yang dituding mencaplok.
Ini harus diingat, dan memang menjadi beban sejarah TNI.
Kita juga masih
ingat ketika terjadi huru hara pasca jajak pendapat di Timor Timur
tahun 1999, justru Indonesia (baca :TNI) yang dituding melakukan
aksi bumi hangus di Timor Timur, sehingga harus menghadapi pengadilan
HAM. Padahal, kenyataannya bertolak belakang. Ketika itu Indonesia
terlibat dalam jajak pendapat di Timor Timur tahun 1999, maka keberadaan
TNI hanya untuk mengamankan jajak pendapat. Keberadaan TNI saat
itu adalah mengantisipasi kemungkinan akibat jajak pendapat. Ketika
itu TNI sudah memperkirakan bahwa menang atau kalah dalam jajak
pendapat di Timtim, sudah bisa dipastikan akan timbul suatu reaksi
keras.
Beban sejarah
ini tentu tak akan terlupakan sampai kapanpun. Terlebih hingga saat
ini para pelaku sejarah Timor Timur pun banyak yang masih hidup,
yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa pengorbanan TNI
tak dihargai sama sekali.
Biarlah peristiwa
itu menjadi cermin Negara-negara yang selama ini menuding Indonesia
telah melakukan kekerasan di Timor Timur. Biarlah mereka membuka
mata, siapa sebenarnya yang terbiasa melakukan kekerasan dan aksi
rusuh seperti itu. Biarkan pula dunia melihat, bahwa kekacauan Timor
Leste sebenarnya adalah panggung pertunjukan bangsa yang gagal mengurus
dirinya, sekaligus kegagalan pihak-pihak Australia yang menjadi
dalang di balik lepasnya Timor Timur dari Indonesia.
Oleh karena
itu dalam menyikapi huru hara Timor Leste, sampai kapanpun sebaiknya
Indonesia diam. TNI wajib menjaga perbatasannya semaksimal mungkin.
Hal ini diperlukan untuk menjaga agar warga Timor Leste tidak memasuki
wilayah Indonesia. Sebab bila mereka masuk ke Indonesia, maka yang
akan dituding adalah Indonesia. Tudingan itu tentu tidak tanggung-tanggung,
yakni TNI ikut terlibat dalam kerusuhan Timor Leste. Ini sangat
gawat, dan tidak boleh terjadi. Bagaimana pun beban sejarah masa
lalu masih melekat dan harus ditanggung oleh TNI. Pengalaman mengurus
Timor Timur tidak gampang. Sebab mereka adalah ular berkepala dua.
|