BENCANA DAN TENTARA
OPINI OLEH : SASTRA WIGUNA

Setiap kali bencana datang, setiap kali pula tentara bertandang. Di mana ada bencana, di situ ada tentara. Seolah antara bencana dan tentara bagaikan dua sisi mata uang.Ungkapan ini sengaja saya berikan bukan bermaksud bahwa tentara menjadi sumber bencana. Melainkan, sebuah apresiasi kepada para anggota tentara yang selalu berada di tengah masyarakat yang menjadi korban bencana.

Lihat saja bagaimana ketika gempa tektonik disusul badai tsunami melanda Aceh tahun 2004 lalu. Siapa lagi kalau bukan tentara yang pada akhirnya menjadi prajurit pemburu mayat. Gempa di Yogya, tak pelak lagi tetap saja tentara yang turun tangan. Kini, urusan PT Lapindo Brantas yang pipanya bocor dan menyebabkan semburan lumpur panas berbau gas, tentara juga yang harus turun tangan. TNI selalu saja bergumul dalam situasi bencana.Ini adalah fakta, yang tak bisa ditampik dan tak bisa ditolak. Bahwa ada sementara pihak yang selalu mencibir dan berlaku nyinyir, itu pun fakta. Tetapi tidak perlu untuk terus menanggapi pihak-pihak yang nyinyir dan cibir, yang pada umumnya mereka sama sekali tak pernah bisa dan mau turun tangan membantu korban bencana.

Apakah tugas tentara sebenarnya hanya untuk mengurusi bencana? Lantas di mana Depsos? Di mana yang lain-lain?

Memang dalam Undang-Undang N0.34/2004 tentang TNI disebutkan bahwa tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.Namun demikian, ternyata dalam tugas pokok juga disebutkan bahwa TNI juga melakukan tugas operasi selain perang. Nah, dalam tugas selain perang itulah TNI juga punya tugas membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan.

Tak pelak lagi, bila terjadi bencana alam, pastilah tentara terlibat dalam penanganannya. Seperti yang kita lihat baru-baru ini bagaimana pedihnya rakyat Porong, Sidoarjo Jawa Timur, dan juga masyarakat Sinjai Sulawesi Selatan. Di Sidoarjo, ratusan anggota tentara turun tangan dengan berbagai macam penanganan. Yang paling mudah kita lihat adalah mendirikan dapur umum, membuat tanggul, dan jembatan balley. Sedangkan di Sinjai, sebagaimana media massa memberitakan, TNI sudah menurunkan 553 personelnya dari TNI AD, AL dan AU untuk melaksanakan bantuan darurat.

Ini pun fakta, siapa yang bisa menampiknya. Yang menampik biasanya tak lebih dari bual dan hasut, terutama pihak yang sangat dendam kepada TNI.Saya melihat sendiri, bagaimana semburan lumpur panas akibat bocornya pipa PT Lapindo Brantas di kecamatan Porong, Sidoarjo hari-hari belakangan ini. Kebocoran ini menimbulkan kerusakan yang tak sedikit jumlahnya. Bahkan banjir lumpur panas berbau gas itu telah mengancam kehidupan warga di beberapa desa di kecamatan Porong. Desa-desa yang sekarang sudah terendam lumpur panas adalah desa Siring, desa Reno Kenongo, dan desa Jatirejo.

Lagi-lagi, pihak manajemen PT Lapindo Brantas ternyata tak mampu mengatasi persoalan ini. Lumpur yang terus menyambur-nyembur itu akhirnya melebar ke mana-mana, dan hampir saja memicu kemarahan warga sekitarnya. Misalnya saja, warga desa Siring kecamatan Porong, khabarnya pernah mengancam akan membongkar tanggul yang dibuat untuk menahan agar genangan lumpur tidak naik ke jalan tol. Pasalnya, kalau tidak dibongkar maka lumpur yang terus menyembur itu akan menggenangi desa mereka. Dan lagi-lagi, untung saja tentara mampu meyakinkan mereka, sehingga rencana aksi demo pun diurungkan.Kini lumpur panas itu benar-benar menggenangi desa itu, termasuk menggenangi ruas jalan Tol Gempol – Surabaya. Jalur dari arah Malang ke Surabaya jadi terhambat, yang tentu saja sangat mengganggu lalu lintas masyarakat Jawa Timur. Melihat kondisi yang dialami rakyat Porong ini, ternyata yang peka kepada kepentingan masyarakat tetap saja TNI.

Bagaimana pun Anda tak percaya, namun buktinya memang seperti ini. Di antara sekian banyak institusi pemerintah, institusi swasta, atau katakanlah LSM dan juga partai politik sekalipun, ternyata yang paling riil berbuat dan berkarya adalah tentara. Silakan Anda tak percaya, silakan Anda mencibir, dan silakan Anda nyinyir. Tetapi inilah kenyataannya. Bahwa ada pihak-pihak yang membantu, seperti PT Lapindo Brantas, PU, Jasa Marga, sudah sewajarnya karena itu memang sebenarnya jadi tanggung jawab mereka.

Ini membuktikan, betapa hati nuraninya tentara masih lebih bisa dipercaya. Mereka tak banyak bicara, tetapi banyak bekerja. Mereka langsung turun ke lapangan, tanpa banyak diskusi atau rapat-rapat. Di sini sangat terasa, bahwa menyelamatkan kehidupan rakyat yang paling diutamakan. Bukan diskusi, bukan rapat-rapat, dan bukan saling menyalahkan. Soal bagaimana hasilnya, itu urusan belakang. Tetapi berbuat nyata itulah yang dilakukan tentara.Untuk urusan jembatan belley, nampaknya yang diturunkan langsung ke lapangan adalah aparat TNI dari Zeni Tempur Kodam Brawijaya. Mereka benar-benar dikerahkan untuk membangun jembatan belley agar lalu lintas Malang – Surabaya berjalan normal kembali. Walau dengan segala kesulitannya, namun hal ini harus dilakukan sebab rakyat sudah pasti membutuhkannya.

Inilah sekedar gambaran yang saya lihat sendiri di Sidoarjo baru-baru ini. Nampaknya TNI tak terlalu risau dengan pekerjaan semacam ini. Melalui tulisan ini saya benar-benar salut, karena tentara pula yang harus gluprut penuh lumpur, bukan pekerja PT, apalagi para eksekutifnya di perusahaan itu.

Sekarang, baru jembatan belley, dapur umum, tenda pengungsi, dan tanggul yang membendung melubernya lumpur. Itulah yang dilakukan oleh TNI. Tanggul di desa Kedung Bendo menjadi saksi apa yang dilakukan oleh para tentara ini, dan sering luput dari perhatian media. Apa pun yang bisa dilakukan oleh tentara, tetapi inilah wujud ketulusan dan niat mereka untuk terus membantu.

Bila dikatakan membantu, tentu saja harus dihitung dan disesuaikan dengan kemampuan mereka yang bisa dilakukan. Jangan gampang sedikit-sedikit menuding, mencela, apalagi nyinyir dengan pihak yang telah berbuat baik.Diakui atau tidak, kini sebenarnya jembatan belley yang dibangun oleh para tentara dari Zipur Kodam Brawijaya itu menjadi jembatan rakyat yang bisa digunakan untuk menjembatani komunikasi dan transportasi rakyat agar tidak terputus. Ini sebenarnya sebuah metafora, bahwa TNI selalu menyediakan jembatan, untuk berkomunikasi, untuk selalu dekat dengan masyarakat secara riil, bukan kata-kata, bukan retorika, bukan wacana, tetapi nyata. Jembatan belley adalah jembatan rakyat dan TNI untuk terus bersatu padu dengan saling mengasihi di antara sesama anak bangsa.

Semoga tentara terus mempertahankan nurani yang mulia ini. Bencana yang silih berganti jangan menyurutkan langkah dan pengabdian kepada rakyat yang sesungguhnya. Dari kasus Lapindo Brantas, tentara membuktikan kepada siapa mereka berpihak.

 


Copyright ©2003 Dispenad, Jakarta-Indonesia. All rights reserved.
Webmaster: Dispenad.

Jalan Veteran Nomor 5 Jakarta Pusat