| |
|
SEPARATIS DI PAPUA, BUKAN BAYANG-BAYANG
(Sebuah refleksi dalam HUT ke-51 Kodam XVII/Trikora)
Oleh : G.T. Situmorang*
|
Hari ini, Jum'at,
1 Agustus, Kodam XVII/Trikora berulang tahun. Dalam usia 51 tahun,
institusi dan prajurit Kodam XVII/Trikora yang dijuluki sebagai
Ksatria Pelindung Rakyat ini terus berkiprah dalam posisinya sebagai
pranata dan aparat pertahanan yang bertugas menjamin setiap jengkal
tanah di Papua dalam integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI).
Tugas menjamin setiap jengkal tanah di wilayah ini tetap dalam integritas
NKRI tidak dapat dipandang ringan.
Mari kita lihat tantangan yang dihadapi. Wilayah Papua terbentang
lebih dari tiga kali luas Pulau Jawa. Geografi yang khas dengan
luasnya hutan dan ruas jalan darat yang amat terbatas membuat pergerakan
pasukan antarwilayah begitu mengandalkan transportasi laut dan udara.
Tingkat kesulitan itu masih ditambah dengan terbatasnya personel,
baik dari segi jumlah maupun kualifikasi. Apalagi, dalam tataran
faktual, gerakan-gerakan yang terus berusaha merobek-robek persatuan
dan kesatuan bangsa Indonesia tampil ke permukaan. Ini tidak dapat
dipungkiri karena separatisme di tanah ini bukan hanya wacana, dan
separatis di wilayah ini bukanlah bayang-bayang yang berkelibat
tanpa akibat derita kemanusiaan.
Siapa yang tidak pernah mendengar istilah Tentara Pembebasan Nasional
(TPN) atau Organisasi Papua Merdeka (OPM)? Apakah ada di antara
kita yang tidak mengetahui aksi separatis bersenjata yang telah
membobol gudang senjata Kodim 1702/Jayawijaya, awal April lalu?
Gerakan bersenjata itu bukan satu-satunya ancaman yang dihadapi
jajaran Kodam XVII/Trikora. Separatis politik pun tidak tinggal
diam. Aksi-aksinya sudah menjadi catatan lokal, nasional, bahkan
internasional.
Parahnya, beberapa pihak, baik person maupun atas nama lembaga swadaya
masyarakat (LSM) dengan kepentingannya terang-terangan mengambil
posisi berseberangan. Pada satu sisi, pihak ini membela setiap gerakan
separatis, dengan tidak berkomentar atas korban militer dan rakyat
atas tindakan brutal separatis, dan pada sisi lain, bersuara amat
keras serta mengecam langkah apapun yang diambil Kodam XVII/Trikora
dalam penanganan aksi separatis. Suara yang bernada pedas pun muncul,
terlebih jika timbul korban, baik luka maupun tewas. Era reformasi
yang mengagungkan kebebasan berbicara, nyaris tidak mengharamkannya,
meski akibat gerakan separatisme menganga di depan mata.
Bagaimana Kodam XVII/Trikora menghadapinya? Sendiriankah lembaga
pertahanan ini berjuang?
Geliat Kodam dalam mengemban tugas negara dapat kita lihat dari
posisinya. Sebagai Komando Utama Operasi, Kodam XVII/Trikora bertugas
menyelenggarakan pelbagai kegiatan guna mendukung ketahanan wilayah
dan kewibawaan pemerintah.
Urgensi ketahanan wilayah di Papua tidak dapat dipandang sebelah
mata. Ketahanan wilayah di Papua adalah sentra kekuatan, yang olehnya
semua komponen bangsa di daerah paling timur Indonesia ini dapat
bekerja dan berkarya dengan baik.
Setidaknya, ada dua contoh nyata yang bisa kita lihat bagaimana
komponen bangsa - apakah jajaran pemerintahan, lembaga swasta dan
rakyat - tidak dapat bekerja dan berkarya dengan baik jika ketahanan
wilayah terobek-robek aksi separatis.
Rangkaian tekstual
dan foto pada media cetak, deskripsi audio ataupun kemasan audio-visual
pada media elektronik yang kita peroleh sebagai karya jurnalistik
dari peristiwa di Timor Timur menjelang tahun 2000 dan situasi terakhir
di Nangroe Aceh Darussalam saat ini cukup menjadi pelajaran berharga.
Karya jurnalistik tematik tersebut begitu menggores kalbu insani
yang peduli pada tangisan, air mata dan kegetiran hidup yang timbul
akibat tercabik-cabiknya ketahanan wilayah.
Maka, dalam konteks ini, selain menjadi urusan tingkat nasional,
ketahanan wilayah Papua sudah sewajarnya menjadi kepentingan kita
semua yang bernafas di daerah ini. Di Timor Timur, kala itu, militer
tidak bisa bekerja sendirian. Di Nangroe Aceh Darussalam, yang berjalan
sekarang adalah operasi terpadu. Artinya, militer tidak bekerja
sendirian. Semua komponen bangsa, termasuk pers, terpanggil untuk
memberi yang terbaik untuk keutuhan bangsa dan negara.
Selain sebagai suatu kewajaran, keterpanggilan juga merupakan konsekuensi
dari pertahanan negara kita yang menganut sistem pertahanan yang
bersifat semesta. Dengan sistem yang dijamin oleh Undang Undang
RI nomor 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, urusan pertahanan
negara memang menjadi kepentingan semua komponen bangsa.
Pada pasal 1 ayat 2 disebutkan, sistem pertahanan negara adalah
sistem pertahanan yang bersifat semesta yang melibatkan seluruh
warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan
secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu,
terarah, dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan
wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman.
Menyangkut potensi komponen bangsa, maka pada peringatan ulang tahun
ini, Kodam XVII/Trikora perlu terus memupuk dan meningkatkan partisipasi
semua pihak, sehingga pertahanan wilayah di Papua benar-benar memberi
arti yang signifikan dalam upaya bersama mencapai cita-cita bangsa.
Untuk menyebut beberapa, saya memandang perlu peningkatan kualitas
kerjasama yang simbiosis Kodam dengan Pemerintah Daerah, Dewan Perwakilan
Rakyat, Kepolisian Daerah, lembaga hukum, kalangan intelektual dan
seni-budaya, tokoh berpengaruh serta pers. Simbiose di sini mengandung
pentingnya hubungan, kerjasama dan keuntungan timbal balik.
Pada level Muspida, tepatnya Muspida plus, pucuk pimpinan Kodam
dengan mitranya memerlukan sinambungnya kesatuan bahasa dan selarasnya
pola tindak. Hal ini akan menjadi kekuatan sinergis, dan tampak
jelas terutama ketika topik-topik sentral muncul ke permukaan, baik
yang menjadi konsumsi tingkat daerah, apalagi yang lebih tinggi.
Penanganan riak, gelombang - semoga tidak ada badai - yang bernuansa
separatisme pada tingkat ini akan sangat menentukan suatu ekses
peristiwa melebar atau menyempit. Maka, memang, selain hubungan
yang simbiosis, juga diperlukan kadar yang mutualis.
Pentingnya kerjasama dengan kalangan intelektual, seni budaya, tokoh
berpengaruh dan pers dalam konteks ini juga penting untuk kita bicarakan.
Dalam hemat saya, peranan intelektual dari semua strata pendidikan,
praktisi hukum, seni- budaya dan pers yang mencintai bangsa dan
negara kesatuan ini turut memegang simpul-simpul pertahanan.
Dari jalur pengabdian mitra Kodam ini, sesuai dengan bidang, ketajaman
dan keluhuran pekertinya, semua unsur tadi dapat memberi masukan
berharga yang bisa meminimalisir ekses permasalahan yang mungkin
timbul sewaktu-waktu.
Secara eksplisit, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal
TNI Ryamizard Ryacudu, tahun lalu telah mensinyalir kemungkinan
terjadinya permasalahan yang timbul dari akibat gerakan separatis.
Dalam amanatnya pada peringatan hari ulang tahun ke-50 yang disebut
sebagai HUT Emas Kodam XVII/Trikora, petinggi di jajaran TNI tersebut
mengatakan, masalah-masalah yang terjadi di daerah ini pada masa
lalu mungkin saja akan berulang di masa yang akan datang. Tetapi,
untuk itu, ia pun meyakini keampuhan kemanunggalan TNI-rakyat sebagai
penangkalnya.
"Tradisi
kemanunggalan yang dilandasi oleh semangat kebangsaan Indonesia
merupakan garansi untuk meniadakan munculnya masalah-masalah lama
berupa embrio separatisme yang dihidupkan oleh sekelompok kecil
orang di daerah ini" katanya.
Kita berharap, permasalahan dan korban yang timbul akibat gerakan
separatisme di Papua sedapat mungkin dapat dieliminir dengan hubungan
yang sinergis antara Kodam XVII/Trikora dengan semua komponen bangsa.
Integritas NKRI memang final, harga mati bagi TNI dan Kodam XVII/Trikora.
Ini amat tegas dinyatakan Kasad Ryamizard Ryacudu tahun lalu. Dikatakannya,
TNI akan berdiri tegak dan kokoh bersama Negara Kesatuan Republik
Indonesia, dan hanya akan hancur bersama hancurnya Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Secara khusus, dari mitra kerja pers, baik cetak maupun elektronik,
yang di dalamnya termasuk media internet yang dikelola warga negara
Indonesia, dibutuhkan peran serta positif melalui karya yang mencerminkan
patriotisme.
Semangat kebangsaan jurnalis memegang peran yang sangat penting.
Pada satu sisi, separatis dan simpatisannya memanfaatkan media massa
termasuk internet untuk mempengaruhi publik hingga tingkat internasional.
Dengan mengakomodir kebebasan, media yang menyuarakan kepentingan
separatis, sedikit-banyak akan memberi efek yang menguntungkan musuh
sekaligus merugikan negara. Dalam arti positif, kita patut iri pada
Amerika Serikat. Pada negara yang sudah berada dalam kondisi ketahanan
yang baik saja, orang Amerika Serikat dengan bangga mengatakan "I
am American" atau "We are American".
Bagaimana dengan kita? Era reformasi yang bergulir hampir satu Pelita
ini begitu mengakomodir kebebasan yang luar biasa. Di manapun di
dunia ini, separatisme tidak mendapat tempat. Tetapi di Indonesia,
bibit-bibitnya terbiarkan tumbuh dan sekarang kita sudah cukup repot
menanganinya di Nangroe Aceh Darussalam.
Riak-riak di Papua pun sudah muncul. Ibarat sekumpulan orang dalam
perahu di lautan bebas, ada beberapa di antaranya yang sengaja melakukan
pembocoran. Itulah kondisi kita, yang kalau tidak diwaspadai, tinggal
menunggu karam atau pecah terhantam karang karena orang di dalam
perahu sibuk dalam pertengkaran. Maka tepatlah, jika pada satu sisi
ada pihak yang sengaja membocori perahu, harus ada di sisi lain
yang menambal dan mencegah terjadinya pembocoran.
Perahu jangan sampai pecah dan karam. Dengan kebenaran informasi
yang tersebar luas oleh media massa, ketajaman analisis ilmuwan,
kearifan dan ketegasan praktisi hukum, kelembutan yang humanis dari
seniman-budayawan yang berpadu serasi dengan derap langkah aparat
bersenjata, kita berharap, pembocoran karena pertengkaran tidak
sampai menenggelamkan negara.
Inilah antara lain yang akan menghantar kita pada suatu ketahanan
wilayah, yang selaras dengan jiwa sistem pertahanan yang bersifat
semesta. Kemampuan mempertahankan setiap jengkal tanah tetap dalam
integritas NKRI antara lain terletak pada parameter ketahanan wilayah
yang kita miliki.
Kerja sama semua pihak ini tidak hanya kita butuhkan untuk mencegah
timbulnya korban sia-sia, tetapi juga penting artinya untuk mengembalikan
saudara-saudara dalam kebersamaan. Kita merindukan indahnya pelukan
maaf, hangatnya jabatan tangan, harap binar mata optimis dan cucur
keringat kerja keras putra bangsa di Papua, tanah damai.
Dirgahayu Kodam XVII/Trikora, Ksatria Pelindung Rakyat!
***
*Pgs. Kapendam XVII/Trikora dan pemerhati jurnalistik, tinggal
di Jayapura.
|