| |
|
BAIK-BAIK
DENGAN RAKYAT, SUATU KEHARUSAN
(Sebuah refleksi dalam HUT ke-51 Kodam XVII/Trikora)
Oleh : G.T. Situmorang*
|
Dari sudut fakta,
hanya sedikit manusia yang dilahirkan oleh tentara. Jumlahnya tidak
seberapa jika dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan ibu yang
statusnya rakyat. Belum pernah ada data yang terungkap luas tentang
hal seperti ini. Satu hal yang pasti, tidak ada seorang manusia
pun yang lahir langsung jadi tentara.
Dari segi prosentase, angka yang saya yakin juga sedikit adalah,
ayah yang berpredikat sebagai tentara. Angka ini jauh lebih sedikit
dari yang statusnya bukan tentara, apalagi rakyat.
Sepasang suami-istri mungkin saja berprofesi sebagai tentara, tetapi
bisa saja tak satupun anak mereka mengikuti jejak orang tuanya sebagai
tentara.
Apa arti logika di atas? Tentara tidak mungkin hidup tanpa rakyat.
Setelah pensiun, ia pun akan kembali menjadi rakyat, sama statusnya
sebelum jadi tentara. Bagaimana sebaliknya, tentang rakyat yang
hidup tanpa tentara? Jawabannya pasti bervariasi.
Ketika hari ini, Jum'at, 1 Agustus, Kodam XVII/Trikora merayakan
hari ulang tahunnya yang ke-51, kita perlu merenung sejenak perihal
hubungan tentara dengan rakyat dan rakyat dengan tentaranya.
Pada waktu bangsa Indonesia berjuang merebut kemerdekaan, hubungan
tentara-rakyat begitu manis. Rakyat yang tertindas bersama tentara
yang minim, baik jumlah pendidikan dan persenjataan, menyatu mesra.
Lengket seperti perangko, begitu bisa dikatakan sekedar mengikuti
bahasa pergaulan saat ini.
Hubungan baik yang sekarang kita kenal dengan istilah kemanunggalan
TNI-rakyat itu terus berlangsung ketika menghadapi agresi Belanda
pertama dan kedua, hingga dalam sepanjang masa-masa sulit bangsa
kita.
Namun, pada perkembangan selanjutnya, ketika tentara berada pada
posisi yang tidak tepat menurut ukuran profesionalismenya, hubungan
tadi mulai berubah secara perlahan. Kemanunggalan TNI-rakyat fasih
diucapkan murid-murid sekolah, tetapi kualitas hubungannya sudah
semakin berkurang.
Berkurang ini bisa diartikan sebagai tentara yang kurang memperhatikan
rakyat, bisa juga yang kurang itu adalah simpati rakyat kepada tentara.
Mungkin tidak ada yang menyalahkan kalau ada yang menduga, yang
terjadi adalah berkurangnya perhatian kedua belah pihak kepada satu
sama lain.
Apapun analisisnya, kalau kenyataan di lapangan memang terbukti
perhatian tersebut semakin berkurang, hanya efek negatif yang akan
kita tuai.
Semoga ini hanya sebatas fenomena. Tetapi meskipun demikian, Kepala
Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu telah
menangkap sinyal ini. Pimpinan tertinggi TNI Angkatan Darat tersebut
bahkan telah menyampaikan kepada jajarannya untuk menampilkan sikap
yang baik dengan rakyat.
Ini pulalah yang mendasari Pangdam XVII/Trikora Mayjen TNI Nurdin
Zainal, MM selalu menekankan pentingnya prajurit di bawah komandonya
memahami apa yang dimaksudkan Kasad dengan kalimat pendek "baik-baik
dengan rakyat" itu.
Bagi Pangdam, prajuritnya tidak cukup hanya lancar menyebut "baik-baik
dengan rakyat". Lebih dari itu, ia menghendaki semua prajurit
Kodam XVII/Trikora mampu menerjemahkan kalimat itu dengan sikap
dan perbuatan yang menyenangkan hati rakyat sekelilingnya.
Tidak heran,
dalam setiap kunjungan kerjanya ke berbagai Satuan, baik penugasan
maupun organik, jenderal yang gemar humor itu selalu menyampaikan
tips sederhana agar dapat dilaksanakan anak buahnya.
Secara gamblang, pimpinan Kodam yang masa perwira pertamanya dijalani
di Papua ini mengatakan, kalau prajurit tidak bisa memberi, jangan
mencuri milik rakyat. Kalau tidak bisa membantu jangan mengganggu
dan kalau tidak bisa mengasihi, jangan membenci rakyat.
"TNI dan rakyat ibarat ikan dengan air" katanya kepada
tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, anggota legislatif dan
insan pers di Kodam pada suatu saat. Ikan yang menggambarkan TNI,
tidak dapat hidup tanpa air, dan air di kolam atau empang tidaklah
berarti banyak kalau ikannya tidak ada.
Untuk menegaskan pentingnya hubungan prajurit yang baik dengan rakyat,
dalam waktu dekat semua prajurit yang bertugas di wilayah ini akan
menerima Buku Saku Prajurit tentang penjabaran "baik-baik dengan
rakyat" itu.
Di dalam buku saku itu, antara lain terdapat petunjuk agar prajurit
Kodam XVII/Trikora merasa penting untuk mengenali, memahami dan
menghormati agama, kepercayaan, adat istiadat atau tradisi masyarakat
di lingkungannya. Hal lain yang signifikan adalah petunjuk untuk
mengerti tugasnya adalah memberikan darma bakti kepada rakyat, tanah
air, bangsa dan negara.
Hal lain yang bersifat mendasar mengapa hubungan baik TNI-rakyat
begitu penting, dapat kita telusuri dari aspek yang paling hakiki.
Bila dibandingkan, jumlah personel TNI dan persenjataan yang mengawal
Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan luas wilayah kerja dan
beban tugas, sangatlah tidak sebanding.
Jumlah itu, baik personel, persenjataan, dana operasional dan kemampuan
teknis begitu terbatas. Maka, jika negara dalam ancaman, pertahanan
kita tidak cukup hanya mengandalkan TNI. Rakyat semesta dengan segala
sumber daya harus bahu-membahu melakukan perlawanan. Inilah yang
dalam ketentuan Undang Undang RI nomor 3 tahun 2002 disebut sebagai
sistem pertahanan yang bersifat semesta.
Kesemestaan ini harus melibatkan seluruh komponen bangsa di mana
rakyat termasuk di dalamnya. Apabila hubungan tidak harmonis, TNI
akan bekerja sendirian yang berarti kekalahan sudah di depan mata,
korban di pihak rakyat akan berjatuhan dan negara akan terancam.
Semuanya hancur binasa.
Dalam keadaan tingkat bahaya tidak seberat itu, hubungan yang tidak
harmonis setidak-tidaknya akan menimbulkan prasangka negatif. Pada
satu sisi, rakyat tidak berminat memilih profesi sebagai prajurit
TNI dan tidak peduli pada kesulitan yang dihadapi. Dalam tataran
legislatif, sebagai pengejawantahan rakyat, kepentingan-kepentingan
TNI juga terabaikan. Apalagi, setelah 2004, dipastikan tidak ada
lagi anggota TNI yang duduk di legislatif, baik di lembaga DPR maupun
MPR.
Pada sisi sebaliknya, dengan ketidakpedulian rakyat, anggota TNI
akan asyik dalam dirinya sendiri, hidup jauh dari kedekatan dengan
rakyat sehingga terkesan eksklusif. Dalam kondisi demikian, di Papua
tidak mungkin ada prajurit yang bersedia mengajar murid-murid sekolah
ketika tidak ada guru yang bersedia tinggal di daerah terpencil.
Pengobatan massal dan karya bakti yang dilakukan jajaran Kodam XVII/Trikora
bersama Pemerintah Kota, Lantamal V Jayapura, Lanud Jayapura serta
Kepolisian Daerah menyambut HUT ke-51 Kodam yang baru lalu mungkin
tidak akan terlihat lagi. Keikutsertaan dalam bidang pembangunan
daerah
seperti pembukaan jalan transportasi darat Wamena-Tengon-Jayapura
sepanjang 3.825 meter dalam program TNI Manunggal Membangun Desa
Skala Besar tahun lalu pun tidak akan terlihat lagi. Keadaan yang
sungguh tidak menguntungkan bagi kedua belah pihak.
Tetapi, seiring dengan kedewasaan semua komponen bangsa, hubungan
manis yang pernah dicatat bangsa dengan tinta emas akan terus mewarnai
sejarah republik.
Tentara kita adalah anak yang walaupun pernah berlaku kurang bijak,
bukanlah anak durhaka. Belum pernah terdengar ada demonstrasi prajurit
yang menghujat rakyat atau pemerintah.
Sebaliknya, rakyat Indonesia adalah ibu kandung yang meskipun pernah
mencucurkan air mata, ia tak pernah menaruh dendam kepada anak kandung
yang lahir dari rahimnya sendiri.
Dengan kedewasaan yang terbangun inilah Kodam XVII/Trikora mampu
melaksanakan tugas mempertahankan setiap jengkal tanah di Papua
tetap dalam integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dukungan rakyat sebagai ibu kandung memberi semangat dan kekuatan
pada ksatria ini untuk melangkah dengan bunyi derap yang enak terdengar
dan indah terlihat.
Pengawasan yang bijaksana akan membuat Kodam XVII/Trikora dapat
melangkah dengan baik, meski ia berjalan di tanah licin, melangkah
di bebatuan dan berlari di kegelapan.
Medan tugas yang terbentang lebih dari tiga kali luas Pulau Jawa
tidak akan menjadi beban yang membuat tentara ini putus asa, karena
doa tulus dari rakyat Papua memelihara gerak langkah yang berkenan
di hadapan Tuhan.
Selamat ulang tahun Kodam XVII/Trikora milik rakyat dan dirgahayu
prajuritku!
*Pgs. Kapendam
XVII/Trikora dan pemerhati jurnalistik, tinggal di Jayapura.
|