KODAM XVII/TRIKORA, BERKIPRAH DENGAN KOMITMEN
(Sebuah refleksi dalam HUT ke-51 Kodam XVII/Trikora)

Oleh : G.T. Situmorang*

Di daerah yang memiliki tingkat kerawanan dari gangguan separatis bersenjata seperti Papua, penggunaan waktu anggota militer sebagai aparat pertahanan ternyata tidak seluruhnya tertuju bagi urusan kemiliteran.
Aparat yang acapkali dibebani tugas mempertahankan setiap jengkal tanah di wilayah Papua tetap dalam integritas negara kesatuan Republik Indonesia itu harus membagi waktunya untuk mengajar di berbagai sekolah.
Aparat yang mengajar murid-murid sekolah dasar hingga tingkat lanjutan pertama ini bukan hanya dari Satuan Teritorial seperti Koramil Web, Koramil Mamberamo Hulu, Koramil Mamberamo Hilir dan Koramil Bonggo dari jajaran Kodim 1701/Jayapura. Aparat dari Satuan lain sesama pelaksana tugas teritorial seperti Kodim 1702/Jayawijaya, Kodim 1705/Paniai tercatat juga mengajar murid sekolah dari rasa keterpanggilan.
Satuan Tugas tingkat batalyon yang sedang melaksanakan tugas di Papua yang setiap saat siap melakukan tugas negara, bertempur dengan taruhan nyawa, juga mengajar murid-murid karena tiadanya guru sekolah di daerah terpencil.
Prajurit dari Satgas Yonif 725/Woroagi, Yonif 126/Kala Cakti, Yonif Linud 100/BS, Yon Armed 6/Tama Runang, Yonkav 10/Serbu, Yon Zipur 8/Sakti Mandra Guna mengajar di wilayah tugas masing-masing. Beoga, Paniai Barat, Ilaga, Sagupa, Bokondini, Arso 6, Batom, Okbibab adalah beberapa tempat mengajar prajurit ini.
Bahwasanya para prajurit itu harus melaksanakan tugas pokoknya sebagai aparat pertahanan memang itu adalah suatu kebenaran. Tanpa melaksanakan tugas-tugas keprajuritan, militer berbaju dinas hijau itu memang tidak dapat dikatakan sebagai prajurit tulen.
Tetapi, tugas-tugas karena keterpanggilan hati sanubari seperti kegiatan mengajar tadi, merupakan komitmen bagi Kodam XVII/Trikora, termasuk Satuan penugasan di wilayah ini untuk memberikan yang terbaik bagi rakyat dan Papua. Pangdam XVII/Trikora, Mayjen TNI Nurdin Zainal, MM ketika masih menjabat perwira pertama, juga membagi waktunya untuk mengajar murid sekolah dasar di Oksibil, Wamena.
Komitmen, adalah kata yang memang menjadi landasan kerja jajaran Kodam XVII/Trikora. Dengan komitmen inilah semua prajurit berjuluk Ksatria Pelindung Rakyat ini mengerahkan profesionalisme kemiliterannya untuk menjawab tantangan kedaulatan dan kehormatan negara dari kemungkinan ancaman yang bersifat kemiliteran, baik yang datang dari dalam negeri maupun luar negeri.
Komitmen pulalah yang mendasari para prajurit melakukan tugas mengajar di sekolah yang tidak mengharapkan honor. Hanya karena perhatian timbal balik, mereka kadang-kadang menerima sayuran dari rakyat. Dan, kata ini jualah yang memotori Komando untuk mengambil sikap yang jelas pada bidang hukum, hubungan yang harmonis dengan rakyat dan mitra kerja, kesehatan, lingkungan hidup serta usaha membantu Pemerintah Daerah.
Untuk menjaga komitmen itu, Komando tidak menghendaki semua upaya yang dilakukan dengan susah payah dan pengorbanan dikotori oleh perbuatan negatif segelintir oknum prajurit yang tidak mempedulikan norma dan etika keprajuritan.
Itulah sebabnya, Komando tidak pernah mentolerir perbuatan anggotanya yang melanggar ketentuan hukum disiplin tentara maupun hukum positif yang berlaku umum.
Jajaran Polisi Militer (Pomdam) XVII/Trikora, Hukum Kodam (Kumdam) XVII/Trikora, Odituriat Militer (Odmil) III-19 Jayapura dan Mahkamah Militer (Mahmil) III-19 Jayapura, lembaga hukum militer yang ada di Papua bekerja ekstra untuk membina dan menegakkan keadilan di lingkungan prajurit.
Dari catatan aktual, dari Januari hingga Juni tahun ini, Mahmil III-Jayapura telah menyidangkan dan memutus 131 perkara. Hukuman tambahan dari vonis yang dijatuhkan kepada pelanggar hukum ini tidak tanggung-tanggung, 42 prajurit telah dipecat dari dinas kemiliteran.
Tentu saja mereka, yang terdiri dari tamtama, bintara hingga perwira itu harus menjalani hukuman pokok berupa kurungan penjara dengan lama yang bervariasi, kecuali yang masih dalam proses banding.
Pelanggaran hukum yang menyebabkan perkara mereka diadili dalam persidangan militer adalah desersi, penganiayaan, penyalahgunaan wewenang, perzinahan, penggelapan, penipuan, pemerasan, insubordinasi, penghilangan dan kepemilikan senjata api secara tidak sah. Bukan hanya itu. Pelanggaran peraturan lalu lintas, apalagi yang mengakibatkan timbulnya korban juga termasuk dalam tindakan penegakan hukum.
Hubungan yang harmonis dengan rakyat dan mitra kerja sangat penting bagi Komando untuk dilaksanakan semua prajurit dan Pegawai Negeri Sipil jajaran Kodam XVII/Trikora. Ini sama pentingnya dengan upaya pembinaan dan penegakan tata tertib dan hukum.
Pada pelbagai kesempatan, Pangdam Nurdin Zainal mengatakan, prajurit yang berkelahi dengan aparat kepolisian, terutama dengan rakyat adalah kampungan. Pemimpin Kodam itu tidak menghendaki prajuritnya terlibat bentrokan fisik dengan mitra kerja dan rakyat, apalagi karena masalah kecil, yang sebenarnya bisa diatasi dengan pengendalian diri.
Memang, bagi Komando, prajurit harus memiliki kemampuan fisik di atas rata-rata. Tetapi, kalau harus beradu fisik, prajurit harus mengetahui apakah ia melakukannya untuk membela kehormatan negara, satuan, harga diri atau hanya demi gagah-gagahan.
Komando pun menunjukkan langkah mengiringi upaya keras Pemerintah Daerah mencegah, menghambat dan mengatasi penularan HIV (Human Immunodeficiency Virus - virus penyebab penyakit AIDS) maupun penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome).
Sebagai suatu institusi yang besar dengan jumlah personel yang juga besar, Kodam memegang komitmen untuk turut meningkatkan derajat kesehatan rakyat. Dalam kerisauan, Pangdam Nurdin Zainal terus mengingatkan personelnya, termasuk satuan penugasan untuk membentengi diri dari penularan virus dan penyakit yang menakutkan dan mematikan ini. Lebih dari itu, Komando juga sedang menyiapkan buku saku prajurit yang berisi pengetahuan dan pencegahan penularannya.
Lebih dari itu, Kodam juga menyelenggarakan pendidikan program khusus D-III Keperawatan yang menghasilkan tenaga paramedis yang lebih berkualitas, sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan secara lebih baik.
Tenaga dokter dan paramedis yang dimiliki saat ini, tidak hanya bekerja melayani personel Kodam dan keluarganya atau prajurit penugasan. Rumah Sakit Tingkat III, Tingkat IV dan pos-pos kesehatan yang ada, juga memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat luas yang membutuhkan. Termasuk dalam hal ini, adalah kerjasama dengan Dinas Kesehatan jajaran Pemda, Kepala Distrik dan tokoh sosial kemasyarakatan dalam pengobatan massal.
Komitmen Komando juga tampak pada usaha-usaha pelestarian lingkungan hidup. Di tengah keprihatinan dunia akan kepunahan beberapa spesies flora dan satwa, Kodam XVII/Trikora menunjukkan gerakan yang selaras dengan lembaga Pemerintah dan sosial kemasyarakatan yang membidangi lingkungan hidup.
Pada tataran kebijakan setingkat rapat pimpinan, Komando selalu menjadwalkan kesempatan kepada lembaga-lembaga itu untuk menyampaikan visi lingkungan hidup. Penekanan tentang pentingnya kelestarian lingkungan hidup disampaikan kepada Satuan penugasan yang ada, disertai sweeping yang dilakukan petugas yang berwenang sebelum mereka kembali ke home base.
Dalam hal ini, Komando tidak menghendaki prajuritnya melakukan illegal logging, illegal trading, illegal wild life trade dan illegal transport. Keempat istilah asing ini adalah kegiatan yang diharamkan dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.
Melengkapi komitmen itu, Kodam XVII/Trikora juga memberikan perhatian yang signifikan terhadap dunia olahraga. Selain untuk kepentingan pemeliharaan dan peningkatan kemampuan fisik anggota, prestasi atlet Kodam XVII/Trikora juga ditujukan untuk mengharumkan nama Papua dalam kancah olahraga tingkat TNI Angkatan Darat maupun nasional.
Secara tidak langsung, kontingen Kodam XVII/Trikora yang mengikuti lomba Peleton Tangkas tingkat TNI Angkatan Darat mengharumkan nama Papua. Prestasi cabang sepakbolanya, berturut-turut sebagai juara pada 2000 dan 2002 dan runner up pada 2001.
Jalur olahraga tampaknya memang memiliki potensi besar dalam upaya mengangkat nama Papua. Atlet Papua dari Kodam XVII/Trikora untuk cabang panahan, tahun ini untuk pertama kalinya telah mengikuti ronde FITA pada Kejurnas yang baru lalu.
Bukan hanya itu. Tiga tahun lalu, prajurit Kodam telah mengukir nama Papua dalam deretan prestasi nasional, setelah Ismael Sroyer, Kristian Kaise, Zakaria masing-masing meraih emas pada nomor lempar cakram, lempar lembing dan karate dan Ayup Epa meraih perunggu dari cabang tinju pada PON ke-15 di Surabaya. Pada Pra PON di Jakarta bulan lalu, atlet Papua, enam di antaranya adalah prajurit Kodam XVII/Trikora juga berhasil keluar sebagai juara umum.
Pada bidang percepatan pembangunan, sesuai dengan permintaan Pemerintah Daerah, Kodam memberikan bantuan pembukaan jalan darat trans Wamena-Tengon-Jayapura. Pembukaan jalan yang ditandai dengan peledakan bukit yang mengisolir transportasi darat itu berlangsung medio Maret hingga Oktober 2002. Hasilnya, dari kegiatan yang memanfaatkan TNI Manunggal Membangun Desa Skala Besar itu, transportasi darat penghubung Wamena-Jayapura sudah terbuka sepanjang 3.825 meter dan itu memberi banyak peluang bagi semua kalangan.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai institusi pertahanan negara, dengan ancaman dari separatis, baik separatis bersenjata maupun politik yang menganga di depan mata, dengan komitmen, Kodam XVII/Trikora senantiasa memberi waktu dan kepedulian kepada rakyat, mitra kerja, Pemerintah Daerah serta kegiatan untuk mengharumkan nama Papua.
Jayalah Kodam XVII/Trikora, Ksatria Pelindung Rakyat.
***
*Pgs. Kapendam XVII/Trikora dan pemerhati jurnalistik, tinggal di Jayapura.

Copyright ©2003 Dispenad, Jakarta-Indonesia. All rights reserved.
Webmaster: Dispenad.

Jalan Veteran Nomor 5 Jakarta Pusat