| |
|
Pasukan
Perdamaian Indonesia
Bertugas Lagi di Kongo
Oleh
: Muhamad Jusuf
|
THERE are
two tragedies in life one is to get your heart's desire, the other
is to get it (George Bernard Shaw)
Menurut
rencana hari ini 28 Juli, Indonesia kembali akan mengirimkan pasukan
penjaga perdamaian di bawah bendera PBB. Pasukan yang diberi nama
Garuda XX-A ini akan bertugas selama satu tahun di Republik Demokratik
Kongo .
Negara yang terletak di Afrika Tengah seluas 2.345.400 km persegi
(5 kali luas pulau Sumatra) dan berpenduduk 54 juta, telah dilanda
konflik/perang saudara sejak bulan Juni 1960. Beberapa saat kemerdekaannya
dari jajahan Belgia, Angkatan Darat mengambil alih pemerintahan.
Perdana Menteri Lumumba mengundang intervensi PBB (Perserikatan
Bangsa-bangsa) dan Uni Soviet. Sekjen PBB setelah adanya sidang
Dewan Keamanan mengirim pasukan perdamaian PBB dengan kekuatan 20.000
orang.
Menjadi kebanggaan tersendiri bagi Republik Indonesia ketika TNI
(saat itu bernama Angkatan Perang RI) mendapat kepercayaan badan
dunia itu untuk turut mengirimkan kontingen Indonesia dengan nama
KONGA (Kontingen Garuda) II pada bulan September 1960. Sebelumnya
yaitu tanggal 27 Nopember 1956. Indonesia telah mengirimkan Batalyon
Angkatan Darat Republik Indonesia. Tugas PBB sebagian dari "United
Nations Emergency Force" (Pasukan Darurat PBB) mengamankan
dan mengawasi gencatan senjata di Mesir.
KONGA I di bawah pimpinan Letkol Hartoyo, yang kemudian digantikan
oleh Letkol Suhadi Suromihardjo, bertugas di Mesir hingga September
1957. Sedangkan KONGA II berjumlah 1.074 orang dipimpin Kol.Prijatna
(kemudian digantikan oleh Letkol Solichin G.P) bertugas di Kongo
September 1960 hingga Mei 1961. Pasukan itu digantikan oleh KONGA
III terdiri atas 3.457orang dipimpin oleh Brigjen TNI Kemal Idris,
kemudian Kol. Sabirin Mochtar.
KONGA III terdiri atas Batalyon 531/Raiders, satuan-satuan Kodam
II/Bukit Barisan, Batalyon Kavaleri 7, dan unsur bantuan tempur.
Seorang Wartawan dari Medan, H.A. Manan Karim (pernah menjadi Wkl.
Pemred Hr Analisa) turut dalam kontingen Garuda yang bertugas hingga
akhir 1963. Menteri/Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Achmad Yani
pernah berkunjung ke Markas Pasukan PBB di Kongo (ketika itu bernama
Zaire) pada tanggal 19 Mei 1963. Komandan Yon Kavaleri 7 Letkol
GA. Manulang, gugur di Kongo.
KEBANGGAAN
BANGSA
Indonesia
mengirim KONGA XVIII ke Tajikistan terdiri dari 8 perwira TNI bulan
November 1997, dipimpin Mayor Can Suyatno. Pada tahun 1999-2002
dikirim KONGA XIX-1 terdiri dari 10 perwira TNI dipimpin Letkol
K. Dwi Pujianto, KONGA XIX-2 jumlah yang sama dipimpin Letkol PSK
Amarullah, KONGA XIX-3 dengan sepuluh perwira dipimpin Letkol (P)
Dwi Wahyu Aguk dan KONGA XIX-4, dengan jumlah perwira yang sama
dipimpin Mayor CZI Benny Oktaviar MDA. Tugasnya adalah misi pengamat
(observer mission).
Misi KONGA XIX berada di Sierra Leone, sedangkan KONGA XVIII di
Tajikistan, republik yang memisahkan diri dari Uni Soviet setelah
terjadi Glasnost/pereistroika tahun 1991. Timbul kemelut di dalam
negeri karena rezim yang berkuasa sebelumnya adalah Komunis. Pemerintahnya
meminta bantuan PBB.
Merupakan kebanggaan bangsa juga seluruh prajurit TNI bahwa walaupun
kita adalah negara relatif muda, tetapi prajurit kita sudah mendapat
kepercayaan demikian besar dari dunia internasional untuk tugas-tugas
perdamaian di berbagai penjuru dunia. Prajurit kita tidak hanya
menjadi duta prajurit PBB tetapi terlebih-lebih lagi sebagai insan
Pancasila, telah berhasil menunaikan tugas pokoknya dengan mengamalkan
Pancasila di forum internasional.
Setelah uraian di atas, perlu kiranya dikemukakan kontingen lainnya.
KONGA IV dan KONGA V bertugas di Vietnam tahun 1973-1974. KONGA
VI bertugas di Mesir, setelah pecahnya perang Mesir Israel 6 Oktober
1973. Satu kebanggaan tersendiri, Mayjen TNI Rais Abin ditunjuk
oleh PBB sebagai Panglima UNEF (United Nations Emergency Force)
dengan Brigjend Stig Nihlen dari Swedia sebagai kepala staf.
Komandan KONGA VI adalah Kol. Rudini (terakhir Jenderal, pernah
Kasad dan Mendagri). KONGA VII di bawah Komando Brigjen TNI Soekemi
Soemantri dan kemudian Mayjen TNI Kharis Suhud, bertugas di Vietnam
1974-1975. KONGA VIII, KONGA VIII-1, KONGA VIII-2, KONGA VIII-3,
KONGA VIII-4, KONGA VIII-5, KONGA VIII-6, KONGA VIII-7, KONGA VIII-8,
KONGA VIII-9 kesemuanya bertugas di Timur Tengah dari September
1974 hingga Oktober 1979. Masing Komandannya adalah Kol. Sudiman
Saleh, Kol. Gunawan Wibisono, Kol. Untung Sridadi, Kol. Suhirno,
Kol Susanto Wismoyo, Kol. Sugiarto, Kol. R. Atmanto, Kol. RK. Sembiring
.
PEJABAT TINGGI
TNI
Setelah
selesainya perang Iran-Irak 1980-1988, Indonesia kembali mendapat
kepercayaan PBB sebagai anggota yang tergabung dalam UNIMOG (United
Nations Iran-Irak Military Observer Group) terdiri dari 350 Perwira
dari 24 negara. Dibentuk KONGA IX-1, KONGA IX-2 dan KONGA IX-3 yang
bertugas di sepanjang garis perbatasan Irak-Iran, KONGA IX-1 dipimpin
Letkol Inf. Endriartono Sutarto (sekarang Panglima TNI). KONGA IX-2
oleh Letkol Inf. Fachrul Razi (terakhir Letjen TNI, Kasum TNI) dan
KONGA IX-3 di bawah pimpinan Letkol Inf. Johny Lumintang (terakhir
Letjen TNI, Sekjen Dep. Pertahanan RI). Ini adalah data-data yang
penulis himpun sebagai pengetahuan di Hankam/TNI sejak 1972.
KONGA X bertugas di Namibia (Afrika) tahun 1989-1990 dipimpin oleh
Kol Mar Amin Sumartono sedangkan KONGA XI-1, KONGA XI-2, KONGA XI-3,
KONGA XI-4 dan KONGA XI-5 bertugas di perbatasan Kuwait Irak 1992-1995
dalam tugas UN Irak-Kuwait Observation Mission, masing-masing dipimpin
oleh Letkol Inf. Albert Inkiriwang, Mayor CZI Toto Punto Djatmoko,
Mayor Kav. Bambang Sriyono, Mayor Inf Mohammad Mubin dan Mayor CPL
Mulyono Esa.
Selanjutnya muncul KONGA XII-A dipimpin Letkol Erwin Sudjono dan
KONGA XII-B (jumlah anggota 850 orang) dipimpin oleh Letkol Inf
Ryamizard Ryacudu (sekarang Kepala Staf TNI AD). Dengan demikian,
berarti dua petinggi TNI sekarang, yaitu Jenderal TNI Endriartono
Sutarto dan Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu sudah pernah memimpin
pasukan perdamaian PBB. KONGA XII ini bertugas di Kampuchea.
Sesudah itu, muncul KONGA XII-C, KONGA XII-D, masing-masing dipimpin
Letkol Inf Darmawi Chaidir dan Letkol Inf. Asril hamzah Tanjung.
KONGA XII-D ini terdiri dari Pengamat Militer Tahap I, Pengamat
Militer Tahap 2, Pengamat Militer Tahap 3, Pengamat Militer Tahap
4, Pengamat Militer Tahap 5 dan Pemantau Polisi Sipil Tahap 1, Tahap
2, Tahap 3, Tahap 4.
KONGA XIII ditugaskan ke Somalia, korban pemberontakan dan perang
saudara. Beribu-ribu rakyat sekarang akibat kelaparan dan kebengisan.
PBB campur tangan pada tahun 1992. KONGA XIII terdiri dari hanya
5 perwira ditugaskan dalam UNOSOM (United Nations Operation in Somalia)
di bawah pimpinan Mayor Mar. Wingky Soeindarwanto. Ada juga empat
orang yang ditugaskan di dalam staf UNOSOM di bawah pimpinan Letkol
Art. Bibit Santoso, kemudian digantikan oleh 4 orang di bawah pimpinan
Mayor CZI Budiman.
Kemudian diganti oleh 3 pejabat di bawah pimpinan Letkol Art. Nehimia
Tode. KONGA XIV-1, KONGA XIV-2, KONGA XIV-3 bertugas di Bosnia Herzegovina
1993-1994. KONGA XIV-A, KONGA XIV-B, KONGA XIV-C bertugas di Bosnia
Herzegovina sebagai petugas kesehatan, KONGA XIV-C adalah Batalyon
Zeni. Demikian buku "ABRI dan PBB" terbitan Departemen
Hankam (1995).
Selanjutnya KONGA XV petugas di Georgia (pegunungan Kaukasus, memisahkan
diri setelah adanya reformasi dan kehancuran Komunisme di Uni Soviet)
tahun 1994. KONGA XVI bertugas di Mozambik, bekas jajahan Portugal
di Afrika Selatan. Kontingen Indonesia terdiri dari 15 orang di
bawah pimpinan Mayor Pol. Drs. Kuswandi bertugas sebagai pemantau
Polisi Sipil dan kendalikan oleh pengamat PBB di Mozambik.
Pasukan itu bertugas 17 Juni 1994-28 Desember 1994. KONGA XVII di
bawah pimpinan Brigjen TNI Asmardi Arbi, kemudian Brigjen TNI Kivlan
Zein, bertugas di Filipina sebagai pengawas genjatan senjata setelah
adanya perundingan antara MNLF pimpinan Nur Misuari dengan pemerintah
Filipina tahun1994-1995.
KONFLIK KONGO
Dalam
tahun 1878, Henry Stanley mendapat tugas dari Raja Belgia, Leopold
II segera menyadari potensialnya negeri itu yang kaya dengan sumber
alam. Konferensi Berlin 1884-1885 mengakui Raja Belgia itu sebagai
pemimpin Congo Free State (negara merdeka Kongo). Secara resmi,
aneksasi dilakukan Belgia pada tanggal 28 Nopember 1907. Negeri
itu menjadi negara merdeka dan berdaulat pada 30 Juni 1960.
Setelah terbunuhnya Perdana Menteri Patrice Lumumba pada Pebruari
1961, jabatannya diambil alih oleh Antonine Gizenga. Ia mendirikan
pemerintahan di kota Stanleyville, tetapi pada tanggal 15 Agustus
1961, pihak PBB mengakui pemerintahan yang didirikan Cyrille Adoula.
Jadi negara Katanga yang diproklamirkan oleh Gizenga akhirnya diserang
oleh Pasukan PBB terdiri dari Pasukan Irlandia dan Ethiopia. Tanggal
15 Januari 1962 Gizenga menyerahkan diri, dan dipecat dari jabatannya.
Kemelut berjalan terus, golongan Gizenga mendirikan Republik Rakyat
Kongo pada tanggal 7 September 1964 pemerintahannya bercorak Komunis.
Pasukan pemerintah dibantu pasukan Belgia menguasai Stanleyville
24 Nopember 1964, dan benteng-benteng terakhirnya April 1965. Pasukan
itu didrop dari pesawat-pesawat Angkatan Udara Amerika serikat,
catatan sejarah menunjukkan.
Setelah "kemajuan" itu Jenderal Joseph D. Mobutu mengadakan
kup terhadap Presiden Kasavubu. Saat itu, Mobutu adalah Kepala Staf
Angkatan Darat. Ia membatalkan rencana pemilihan umum 1966. Akhirnya,
parlemen mengakui rezim baru. Tanpa diketahui tanpa alasan apa sang
presiden mengganti namanya menjadi Mobutu Sese Seko dan negaranya
menjadi "Republik Demokratik Kongo" dari"Republik
Zaire"pada tahun 1971.
Kehancuran ekonomi dan korupsi meningkat pada tahun 1980-an. Pada
tahun 1990, presiden Mobutu mencabut larangan system multi partai,
sebagai taktik untuk terus berkuasa di negara itu, karena adanya
tekanan dunia internasional.
PRESIDEN KABILA
TEWAS
Tahun 1994,
kondisi makin jelek, karena masuknya ribuan pengungsi dari pemberontakan
di Rwanda. Kaum Hutu berkelahi dengan suku Tutsis (mayoritas), dan
akhirnya pasukan pemerintah campur tangan. Suku Hutu di kamp-kamp
pengungsi melarikan diri ke Rwanda, ada yang berpencar ke Kongo.
Ratusan ribu menjadi korban. Sumber-sumber Barat menyebutkan 350.000
suku Hutu tewas.
Keadaan bertambah buruk dengan pemberontakan yang diadakan oleh
Jenderal Laurent Kabila (mantan anggota Marxist dan musuh lama Mobutu).
Pada tahun 1996, Presiden Mobutu selama 4 bulan berada di Eropa
Barat untuk berobat. Tanpa kehadiran Mobutu, pasukan pemerintah
"kehilangan" gairah bertempur dengan pemberontak. Sebagai
factor buruk muncul bantuan dari Rwanda dan Uganda melawan pasukan
pemerintah Mobutu. Tanggal 17 Mei 1996 pasukan pemberontak masuk
ke ibu kota Kishasa, setelah gagalnya negosiasi Mobutu dengan Kabila.
Presiden Mobutu melarikan diri ke luar negeri.
Republik Zaire kembali pada nama "Republik Demokratik Kongo".
Mobutu meninggal di pengasingan di Rabbat, Maroko tanggal 7 September
1996. Laurent Kabila menjadi Presiden, tetapi anehnya pemberontakan
masih berjalan. Pasukan pemberontak mendapat bantuan dari Rwanda
dan Uganda. Pasukan pemerintah dibantu oleh Angola, Namibia dan
Zimbabwe. Jenderal Laurent Kabila tanggal 16 Januari 2001, ditembak
oleh salah seorang pengawal pribadinya. Putranya, Joseph Kabila
menjadi Presiden tanggal 26 Januari 2001. tetapi kemelut masih berjalan
hingga kini.
Negosiasi sedang berjalan sekarang, dan ada kesepakatan untuk mengadakan
Pemilihan Umum dalam jangka waktu 2 tahun. Syukur Alhamdulillah,
pasukan kita yaitu KONGA XX-A yang akan bertugas selama 1 tahun
dan berjumlah 175 prajurit (dari Kompi Zeni) akan bertugas dalam
bidang konstruksi, pembangunan perumahan, pelabuhan dan lain-lain.
Mereka akan bergabung dengan pasukan Kanada. Kita berdoa semoga
Allah SWT senantiasa melindungi prajurit-prajurit kita dalam tugas
mulianya. Penulis dan dramator Inggris George Bernard Shaw pernah
mengatakan apa yang penulis kutip pada awal tulisan ini. Ada dua
tragedi dalam kehidupan manusia. Satu adalah untuk tidak memperoleh
keinginan hati. Yang lainnya adalah justeru mendapatkan apa yang
diingini. Mari kita ambil hikmahnya.
(Penulis adalah wartawan senior, pengamat masalah Polkam dan Internasional)
|