KODAM TRIKORA,
BERLARI MENGGAPAI PROFESIONALISME

Oleh : G.T. Situmorang *

Ketika larut dalam peringatan hari ulang tahun ke-52 Kodam XVII/Trikora, hari ini, Senin, 2 Agustus, di benak saya terlintas sesuatu yang tak pernah terlihat. Angin, itulah yang terlintas di benak saya.
Pastilah angin, yaitu udara yang bergerak, berhembus melintasi barisan prajurit termasuk Pangdam XVII/Trikora yang bertindak sebagai inspektur upacara militer, yang sebenarnya dilaksanakan setiap 1 Agustus kalau tidak bertepatan dengan hari libur umum.

Tanggapan orang tentang angin pastilah berbeda-beda. Kalau ada yang mengatakan memberi kesegaran, tak patut disanggah. Tetapi bila orang lain menutup jendela rumahnya rapat-rapat agar seisi rumah tidak menderita karena masuk angin, itu juga tidak dapat disalahkan.
Pada lain sisi, apakah pandangan kita bila melihat orang berusaha mendapatkan angin di ruangan rumahnya dengan sejenis perkakas, yang untuk itu ia harus membayar rekening listrik?
Angin, ya … angin. Dengan hembusan anginlah sejumlah orang dapat menikmati indahnya liukan layangan di angkasa raya, yang akan semakin indah bila cuacanya cerah dan langit yang membentang di atasnya terlihat biru.

Di lapangan berumput hijau, terlihat prajurit berbaris rapi dengan seragam upacara militer, gagah menunjukkan kebanggaannya kepada inspektur upacara dan para undangan.
Dengan cepat, ada semacam olah pikir yang menghubungkan saya dengan celah sempit, antara angin dan prajurit tadi.

Apakah arti seorang prajurit, bila hidupnya hanya selintas seperti angin yang berhembus selintas? Apakah arti sebuah satuan, misalnya batalyon, yang karyanya tidak pernah kelihatan, seperti layaknya wujud angin yang tak seorangpun tahu?

Untuk apakah darma bakti prajurit kalau tak menyentuh rakyat, seperti tiupan angin, yang meskipun keras tapi tidak sanggup memberikan rasa segar atau menerbangkan layangan ke angkasa? Selanjutnya, apakah prajurit itu tahu dari mana ia berasal, untuk apa dan ke mana ia akan kembali?
Akankah prajurit, mitra kerjanya dan rakyat bisa menjawab dengan baik, atau sama sekali tidak bisa memberi keterangan, sama seperti kita tidak tahu angin itu datang dari mana dan akan pergi ke mana?
Pada hari ulang tahun ini, selayaknyalah setiap personel, khususnya prajurit Kodam XVII/Trikora menghayati pertanyaan di atas, memikirkan jawaban dan mengambil sikap terbaik.

Sebab, sesungguhnya perumpamaan, pertanyaan dan ajakan tidak akan berguna kalau tidak dicermati dan ditindaklanjuti dengan baik. Sebaliknya, mitra kerja dan rakyat sebagai ibu yang melahirkan prajurit TNI akan bingung mengambil sikap, apabila Sang Serdadu tidak mengenal dirinya dan tak bisa berbuat seperti apa seharusnya.

Prajurit Kodam XVII/Trikora, lihatlah upaya pimpinan mengingatkan seperti apa sebenarnya jatidiri prajurit TNI yang sejati. Tengoklah komandan serta pimpinan yang tak kenal lelah memacu kemampuan profesional keprajuritan.

Agar tidak seperti angin yang hembusannya hanya sesaat, Pangdam XVII/Trikora Mayjen TNI Nurdin Zainal, MM selaku pimpinan tertinggi tidak pernah bosan mengingatkan prajuritnya. Ia tak ingin prajurit organik maupun penugasan hanya memiliki karir yang pendek karena terserang virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) penyebab penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) yang mematikan itu.

Sangat beralasan, tingkat penyebaran virus yang mengerikan ini di tanah Papua memang sangat mengkhawatirkan. Berbagai sumber menyebutkan penyebarannya di Papua jauh lebih tinggi dibandingkan provinsi lainnya.

Untuk memastikan prajurit yang menggunakan gambar burung Cenderawasih di baju dinasnya sebagai lambang Kodam XVII/Trikora, Kasdam Brigjen TNI Getson Manurung tak pernah kehabisan energi turun langsung mengasah kemampuan olah keprajuritan. Bukan hanya menyangkut kemampuan administrasi, tetapi juga kemampuan teknis keprajuritan.

Nadi Kodam ini terus berdenyut tidak berhenti meski rembulan tertidur dalam dekapan malam. Sama seperti petugas piket yang selalu ada bagaimanapun kondisi cuaca pada setiap saat. Harus ada keyakinan, prajurit TNI terjaga setiap saat melindungi rakyat, bangsa dan negara dari ancaman musuh.
Dalam keadaan bagaimanapun, kehadiran prajurit Kodam XVII/Trikora harus dapat dirasakan rakyat. Tidak boleh seperti angin yang berhembus tapi tidak memberikan kesegaran.

Jaminan ini tidak bisa diberikan tanpa latihan yang sungguh. Tak ada pilihan, kecuali harus melaksanakan latihan terus-menerus secara terukur dan sesuai dengan program.
Kalimat "harus latihan" memang tak bisa tak ada dalam kamus prajurit TNI. Selain karena latihan itu kesejahteraan prajurit, juga karena prajurit tidak bisa mengingkari gaji dan fasilitasnya, meskipun masih jauh dari memadai, berasal dari rakyat.

Prajurit Ksatria Pelindung Rakyat hendaknya tidak membiarkan ibu yang melahirkannya, yaitu rakyat, melewati hari-harinya dengan air mata karena tak pernah serius latihan.
Apakah air mata rakyat harus tumpah lagi menyaksikan senjata organik hilang dirampas separatis? Haruskah rakyat terus bersedih karena serdadu yang katanya terus latihan tapi tak kunjung profesional? Atau ibu kandung itu berjalan dengan tertunduk malu dan kehilangan harapan, sebab separatis bergerak bebas kian kemari mengancam keutuhan negara?

Katakan "tidak!". Bersama-sama kita katakan "tidak!". Cukuplah sudah air mata. Prajurit Kodam XVII/Trikora harus sehat, kuat, profesional dan dapat diandalkan. Untuk bisa mengatakan "tidak", latihan yang sudah disebutkan di atas adalah hal yang bisa ditawar.
Hanya dengan disiplin latihan inilah prajurit tidak dipandang hanya dari pakaian dinas yang dikenakannya. Sebab, pakaian dinas itu - pada satu sisi - sebenarnya hanya identitas yang kasat mata. Identitas yang sebenarnya terletak pada kemampuan keprajuritan menurut kepangkatan dan jabatan yang disandangnya.

Tentang hal ini, Pimpinan Kodam Trikora mengatakan, kemampuan prajurit tidak sama dengan kemampuan rekannya di kalangan sipil. Maka, penampilannya jangan kesipil-sipilan.
Mata prajurit perlu terbuka melihat ada kalangan sipil yang justru ingin tampak kemiliter-militeran, yang antara lain menimbulkan dampak yang negatif. Yang tentara perlu tampil sebagaimana layaknya penampilan tentara, dan jika tidak memiliki kemampuan seperti itu, sesungguhnya ia bukanlah tentara yang diharapkan bangsa ini.

Tetapi tentu saja TNI membutuhkan peran nyata anak kandung lainnya dari negara ini. Peran yang tidak hanya sekedar bicara. Semua anak bangsa bersatu padu melawan separatis yang mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jangan sampai nanti kita menyesal karena ada atau banyak anak bangsa yang tidak mau bertindak, padahal bahaya yang mengancam negara nyata di depan mata tetapi tidak mau bertindak.

Peran semua anak bangsa menurut tingkat kepedulian dan kewenangan sangat diperlukan dan seharusnya tidak ada seorang pun di antara kita yang rela jika pembiaran lambang, aksi-aksi berbau separatisme di negara kesatuan terus berlangsung.

Maka, dalam suasana bahagia yang dibawa hari ulang tahun, apa yang dipesankan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu untuk "baik-baik dengan rakyat" sungguh tepat. Komunikasi yang baik antara anggota Kodam XVII/Trikora dan semua personel TNI dengan rakyat perlu ditingkatkan, agar semua pihak berperan positif melawan separatis.

Memang sudah tugas TNI untuk mempertahankan keutuhan wilayah negara. Tetapi ia tidak bisa sendirian. Hanya dengan dukungan penuh dari rakyatlah setiap jengkal wilayah ini tetap dalam pemerintahan RI yang berdaulat. Dan, itu hanya bisa terwujud bila TNI dan rakyat tetap manunggal.
Ini adalah keharusan. Tidak seperti angin yang tak seorangpun tahu di mana ia bermarkas dan di mana ia akan beristirahat. Dalam upaya berlari menggapai profesionalisme dan mempersembahkan darma bakti, Ksatria Pelindung Rakyat harus tahu betul ia berasal dari rakyat, bekerja bersama dan untuk rakyat, nantinya akan kembali kepada rakyat dan selanjutnya ia adalah rakyat.

Selamat berulang tahun!

* Penulis adalah Kapendam XVII/Trikora




Copyright ©2003 Dispenad, Jakarta-Indonesia. All rights reserved.
Webmaster: Dispenad.

Jalan Veteran Nomor 5 Jakarta Pusat