|
PROFESIONALISME
DAN DISIPLIN PRAJURIT TNI AD:
SUATU TINJAUAN DAN ANALISA
Oleh
: Letkol Inf Ahmad Supriadi
Perkembangan
lingkungan saat ini telah menciptakan suatu tantangan yang
harus dihadapi oleh prajurit TNI AD. Hal ini telah membawa
implikasi berupa tuntutan dan tantangan bagi prajurit TNI
AD untuk meningkatkan profesionalisme dan disiplin prajurit
sehingga memiliki tingkat kesiapan yang tinggi serta mampu
dihadapkan pada tantangan tugas yang semakin kompleks.
I. Pendahuluan
Timbulnya berbagai kekerasan dan kerusakan (chaos) di era
reformasi yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia merupakan
akibat dari akumulasi tuntutan dan perbedaan kepentingan politik
dari kelompok masyarakat. Hal ini menimbulkan suatu konsekuensi
terhadap TNI ke dalam suatu posisi yang sangat tidak mengun
tungkan. Salah satu hal mengapa TNI khususnya TNI AD telah
menjadi sasaran utama dari ketidakpuasan dan antipati serta
hujatan dan fitnah dari masyarakat adalah bias dari terjadinya
penyimpangan peran sosial politik selama Orde Baru. Demikian
juga, dampak dari pembangunan nasional dan perkembangan internasional
telah menimbulkan berbagai masalah dan tantangan, serta pengaruh
terhadap masyarakat berupa tuntutan terhadap peningkatan
kualitas profesionalisme di lingkungan TNI AD. Hal ini
merupakan satu konsekuensi dari adanya berbagai perubahan
di bidang politik, ekonomi dan sosial budaya. Di sisi lain,
peran TNI khususnya TNI AD dalam bidang sosial politik di
era Orde Baru telah membawa dampak adanya penyimpangan dari
arti profesionalisme TNI yang pada dasarnya telah merusak
dan membatasi profesionalisme keprajuritan 1). Demikian
juga adanya sikap arogansi pada diri prajurit TNI telah menciptakan
suatu dimensi ketidaksimpatian masyarakat terhadap
TNI khususnya TNI AD. Hal-hal tersebut telah menciptakan
terjadinya penurunan profesionalisme dan disiplin prajurit
TNI AD.
Degradasi
profesionalisme dan disiplin prajurit TNI AD tidak terlepas
dari suatu proses pembinaan di lingkungan TNI AD. Pada hakekatnya
proses pembinaan yang merupakan bagian integral dari sistem
pembinaan TNI AD, dilakukan untuk mewujudkan prajurit TNI
AD sebagai prajurit profesional yang dilandasi oleh jati diri
kejiwaan prajurit, kondisi kesehatan dan fisik yang handal
dalam menyelenggarakan fungsi TNI AD sesuai perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Proses pembinaan tersebut
dilakukan secara terus-menerus, bertahap, bertingkat dan berlanjut
dalam suatu siklus pendidikan, latihan dan penugasan yang
dilakukan oleh unsur-unsur Pimpinan dan staf di jajaran satuan
TNI AD.
Pembinaan
ini diarahkan untuk mencapai suatu tingkat kesiapan satuan
TNI AD yang tinggi untuk melaksanakan tugas 2). Namun sebenarnya
upaya ini telah dilakukan melalui suatu siklus yang dimulai
dari Penyediaan tenaga (Recruitment), pendidikan (Education),
diorganisir (Organized), dilengkapi (Equipped), dilatih (Trained)
dan ditugaskan (Duty) di satuan-satuan TNI AD. Untuk mendukung
upaya pembinaan tersebut juga telah disiapkan semua piranti
lunak yang diperlukan.
Melihat
kenyataan di lapangan, timbul suatu pertanyaan apakah prajurit
TNI AD sudah mencapai tingkat profesionalisme yang diharapkan
dengan dilandasi tingkat disiplin dan kejuangan yang tinggi
? Apakah pembinaan TNI AD telah mencapai sasarannya ? Sehubungan
dengan hal tersebut, pimpinan TNI AD memang telah memberikan
perhatiannya terhadap kondisi profesionalisme yang dilandasi
oleh disiplin dan kejuangan tinggi dari prajurit TNI AD dewasa
ini. Oleh karena demikian, penulis akan membahas permasalahan
tersebut melalui tinjauan dan analisa dengan judul : Profesionalisme
dan Disiplin Prajurit TNI AD.
Tulisan
ini akan difokuskan terhadap suatu tinjauan secara umum dan
analisa dari beberapa hal-hal penting yang berhubungan dengan
masalah profesionalisme dan disiplin prajurit TNI AD yang
timbul secara realita dan aktual di lapangan. Kita ingin mengenali
berbagai tantangan dan permasalahan yang bersifat internal
dan eksternal.
II. Latar
Belakang Pemikiran
Secara keseluruhan pemikiran utama tentang profesionalisme
dan disiplin prajurit TNI AD akan lebih diwarnai oleh segi
penglihatan yang meliputi tiga dimensi waktu, yaitu : masa
lampau, sekarang dan masa depan, dengan pengertian bahwa masa
sekarang sebagai akibat masa lalu dan akan menentukan masa
mendatang. Berbagai evaluasi dan koreksi tentang hasil dari
proses pembinan TNI AD sampai saat ini telah disampaikan.
Namun, apakah pembinaan yang dilakukan mampu mencapai tuntutan
yang diharapkan guna menghadapi perkembangan di masa depan
yang semakin kompleks. Dengan menganggap belum tercapainya
kondisi profesionalisme dan disiplin yang diharapkan sesuai
hasil evaluasi yang dibuat selama ini tentang kecenderungan
menurunnya kondisi tersebut, kiranya dapat dilihat secara
wajar. Hal ini lebih dimungkinkan adanya perbedaan dalam
melihat terhadap permasalahan sebagai akibat
dari perkembangan lingkungan yang terus berkembang
menyesuaikan dengan globalisasi dunia di segala bidang kehidupan
manusia. Kita menyadari bahwa perubahan lingkungan akan terus
berkembang seiring dengan adanya tuntutan jaman. Upaya pembinaan
TNI AD harus bersifat konsepsional dan terarah pada penciptaan
prajurit yang profesional guna menghadapi tantangan tugas
di masa mendatang. Dengan melihat pesatnya perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, akan semakin jelas bahwa tuntutan
dari pengaruh lingkungan harus menjadi suatu pertimbangan
pokok dalam upaya membentuk prajurit TNI AD yang modern dan
profesional yang berjiwa Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.
Melihat
kenyataan di lapangan dan dari hasil evaluasi pelaksanaan
tugas dan latihan di jajaran satuan TNI AD, bahwa degradasi
profesionalisme dan disiplin prajurit TNI AD sebagai akibat
dari terjadinya penyimpangan dari norma-norma dasar keprajuritan
(Basic norms). Akibat dari adanya deviasi ini, maka perlu
dikembalikan kepada nilai-nilai dasar keprajuritan
yang menjadi norma-norma dasar bagi prajurit TNI untuk bersikap,
berucap dan bertindak sebagai prajurit TNI yang profesional.
Kembali ke norma dasar (back to basics) haruslah menjadi pangkal
tolak dalam membina dan membangun kekuatan TNI AD. Kegiatan
satuan, gerakan atau manuver besar, tidak akan punya arti
apa-apa, manakala kemahiran, ketrampilan teknis serta
mutu disiplin dan semangat pengabdian individu prajurit berada
pada keadaan buruk atau tidak memadai 3). Hal ini juga sejalan
dengan Paradigma Baru Peran TNI yang telah me-Redefinisi,
Reposisi, dan Reaktualisasi perannya untuk menjawab berbagai
tantangan dan tuntutan tugas mendatang dengan sasaran TNI
(prajurit) yang profesional dan dicita-citakan.
Persepsi
Sebagai landasan pemikiran. perlu menyamakan persepsi tentang
pengertian dari terminologi norma dasar (basic norms) agar
ada kesamaan perspektif dalam pembahasan tulisan ini. Pengertian
basics pada hakekatnya mengandung dua aspek, yaitu fisik dan
non fisik.
Aspek
fisik berarti norma dasar keprajuritan seperti diatur dalam
KUHPM, KUHDM, TUM dan Permildas maupun ketrampilan teknis
dasar yang harus dikuasai oleh Prajurit yang diatur dalam
Bujuklap dan Juknik Ketrampilan. Pengertian lain dalam kaitannya
dengan organisasi diartikan sebagai kemampuan dasar manajemen
dalam proses pembinaan yang telah ditetapkan dalam system
pembinaan TNI AD. Selanjutnya aspek non fisik mempunyai arti
yang bersifat melekat yang menyangkut naluri kemiliteran dan
nilai-nilai kejuangan TNI yang terkandung dalam Sapta Marga,
Sumpah Prajurit, dan 8 Wajib TNI.
Perlunya
Back to Basics
Dengan menganggap perlunya melakukan upaya untuk kembali ke
pada norma dasar keprajuritan (back to basics), hal ini memberikan
suatu pengertian adanya suatu penyimpangan (deviasi)
dari norma dan aturan dasar yang semestinya dilakukan oleh
prajurit TNI. Penyimpangan ini dapat saja terjadi di lingkungan
TNI AD, baik yang bersumber secara internal maupun sebagai
akibat dari adanya pengaruh dari luar secara eksternal. Untuk
dapat mengatasi adanya penyimpangan yang bersifat internal
perlu dilakukan suatu analisa terhadap keseluruhan proses
pembinaan di lingkungan TNI AD. Namun bila penyimpangan
internal itu terjadi di lingkungan masyarakat, maka masalahnya
akan menjadi lebih kompleks sehingga memerlukan upaya-upaya
yang bersifat lintas sektoral. Oleh karena itu, dalam melihat
suatu penyimpangan yang terjadi, sebaiknya ditanggapi secara
wajar dan proporsional sebagai bentuk tantangan kepemimpinan
dan manajemen. Kita lihat pada faktor uatama dalam suatu proses
kepemimpinan, yaitu : pemimpin, yang dipimpin, komunikasi
dan lingkungan. Dari titik tolak pemahaman ini, maka dalam
membahas isu tentang back to basics, kita melihat dari berbagai
faktor yang pada dasarnya meliputi aspek prajurit dan lingkungan.
Berbagai
penilaian dan evaluasi tentang gejala menurunnya tingkat profesionalisme
dan disiplin prajurit TNI AD selalu timbul dan menjadi topik
utama dalam setiap pembicaraan dan diskusi di semua tingkat
satuan TNI AD. Hal ini sebenarnya telah menunjukkan bahwa
isu tersebut menjadi hal yang menarik sekaligus merupakan
suatu tantangan untuk dibahas dan dijawab sebagai kepedulian
kita dalam meningkatkan profesionalisme prajurit dengan melakukan
upaya pembinaan terus menerus sesuai dengan tuntutan dan perkembangan
lingkungan.
Mencermati
perkembangan yang terjadi, kita dituntut untuk ikut berperan
secara aktif sebagai suatu tanggung jawab moral terhadap peningkatan
profesionalisme prajurit. Tuntutan terhadap profesionalisme
prajurit ini sebenarnya sebagai akibat dari pembangunan nasional
secara keseluruhan. Sesuai dengan fungsinya, prajurit TNI
AD dituntut kemampuannya dalam melaksanakan tugas-tugas
yang diemban. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
juga menuntut prajurit untuk mampu melakukan adaptasi serta
peningkatan kemampuan profesionalismenya.
III. Permasalahan
Yang Dihadapi
Melihat berbagai permasalahan atau adanya penyimpangan-penyimpangan
yang selalu dihadapi oleh setiap organisasi termasuk di dalamnya
TNI AD, bila diamati secara mendalam pada dasarnya meliputi
hal-hal yang berkaitan dengan aspek profesionalisme, disiplin
dan nilai-nilai kejuangan atau aspek yang bersifat fisik dan
non fisik. Mulai dari hal-hal yang bersifat teknis (mikro)
sampai pada masalah-masalah lain yang bersifat makro, termasuk
di bidang organisasi dan manajemen.
Tuntutan
agar prajurit TNI AD memiliki profesionalisme sesuai bidang
tugasnya dengan dilandasi tingkat disiplin yang tinggi adalah
merupakan suatu keharusan dan tidak ada toleransi lain. Bila
kita lihat berbagai pelanggaran dan kesalahan prosedur yang
dilakukan oleh prajurit dalam melaksanakan tugas-tugas keamanan
dalam negeri akhir-akhir ini adalah diakibatkan dari kurangnya
profesionalisme dan disiplin prajurit TNI AD terhadap tugasnya.
Di sisi
lain ada beberapa hal yang dapat kita katakan sebagai suatu
penyimpangan dari suatu norma-norma dasar keprajuritan yang
dapat diamati terjadi di lapangan, misalnya adanya prajurit
yang tidak menghormat atasannya, berpakaian dan bertingkah
laku yang tidak sesuai dengan norma atau ketentuan, kurang
menguasai ketrampilan prajurit yang bersifat teknis, kurang
memahami akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai prajurit,
dan sebagainya. Demikian juga melihat beberapa kasus yang
terjadi di tanah air yang melibatkan prajurit TNI AD, seperti
kasus Trisakti, Semanggi, Aceh, Dili, Ambon dan beberapa kasus
yang terjadi di tempat lain, menunjukkan adanya kelemahan
dalam menangani tugas-tugas keamanan, dalam arti kurang mampu
melaksanakan tugas-tugasnya secara profesional. Namun demikian,
patut disadari bahwa semua permasalahan yang dihadapi TNI
AD pada dasarnya tidak berdiri sendiri, akan tetapi merupakan
suatu akumulasi dari proses pembinaan yang menyangkut bidang-bidang
lain seperti politik, ekonomi dan sosial budaya.
Kepemimpinan
Gejala penurunan tingkat profesionalisme dan disiplin
prajurit yang terjadi tidak terlepas dari tanggung jawab dan
efektifitas kepemimpinan dalam arti luas. Indikasi yang dapat
kita lihat di lapangan seperti : menurunnya semangat dan kepercayaan
diri, kinerja kepemimpinan, kejenuhan, ketidakpuasan, adanya
gaya kepemimpinan yang kurang memahami kemampuan
diri, bawahan maupun lingkungannya. Aspek lain adalah
adanya pencerminan gaya kepemimpinan yang kurang
efektif bila dilihat dari segi strategi kepemimpinan, yaitu
kurangnya kemampuan memainkan tiga keahlian : manajemen
yang baik, bekerja dengan orang lain secara efektif dan mempunyai
visi ke depan
Manajemen
Secara
objektif sebenarnya manajemen TNI AD dalam hal profesionalisme
dan disiplin, secara makro dapat dikatakan sudah memadai.
Penyiapan piranti lunak telah dan sedang diupayakan secara
maksimal melalui validasi buku-buku petunjuk dan piranti lunak
lainnya di lingkungan TNI AD 6). Namun perlu disadari bahwa
secara umum masih banyak terjadi penyimpangan sebagai akibat
dari kurangnya kemampuan dan kualitas pemimpin dan pendidik
dalam melaksanakan manajemen operasional. Penyimpangan
itulah yang perlu dibenahi kembali dalam konteks back to basics.
Upaya penyempurnaan-penyempurnaan di segala aspek pembinaan
yang dilakukan harus diarahkan untuk menciptakan inovasi dan
iklim yang sesuai dengan perkembangan keadaan dan tantangan
tugas di masa datang.
Penyediaan
Tenaga
Dalam proses penyediaan tenaga (recruitment), masih terdapat
hal-hal yang meragukan tentang motivasi dan latar belakang
calon prajurit. Hal ini didasari oleh beberapa indikasi adanya
suatu kecenderungan motivasi calon kurang dilandasi suatu
keinginan kuat dengan kebanggaan untuk menjadi prajurit TNI
AD, bukan sekedar mencari lapangan kerja. Karena itu proses
seleksi akan menentukan untuk mendapatkan kualitas masukan
yang baik dan potensial (raw input quality) sehingga akan
menunjang proses pendidikan dengan output sebagai prajurit
TNI AD yang profesional. Hakekatnya, kualitas awal calon prajurit
memang sangat menentukan dalam upaya perolehan hasil didik
yang baik. Karena itu, persyaratan perlu ditinjau kembali
dengan pertimbangan bila dihadapkan pada perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi saat ini dan yang akan datang.
IV. Faktor
Berpengaruh
Perkembangan dewasa ini, khususnya pada era reformasi, jaman
telah berubah. Perkembangan lingkungan di bidang politik,
ekonomi, sosial budaya, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi menunjukkan suatu kenyataan bahwa tuntutan dan
tantangan semakin kompleks. Gejala kekhawatiran
tentang adanya erosi dan degradasi profesionalisme dan disiplin
prajurit, sudah sewajarnya dilihat sebagai akibat logis dari
adanya perkembangan khususnya di bidang teknologi militer
secara global 7). Kualitas dan bentuk profesionalisme TNI
AD juga semakin kompleks. Namun, juga harus diakui bahwa pengaruh
lingkungan masyarakat terutama tuntutan kebutuhan sosial ekonomi,
ikut mempengaruhi corak dan sifat kejuangan yang berbeda dengan
masa-masa sebelumnya. Kiranya sangat bijaksana bila kita melihat
masalah ini dari perspektif masa kini, khususnya dalam upaya
memelihara nilai-nilai kejuangan, disiplin dan profesionalisme
keprajuritan yang memang diperlukan baik masa kini dan masa
mendatang .
Perkembangan
Lingkungan Strategis.
Perkembangan lingkungan secara global ditandai dengan meningkatnya
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah mempercepat
proses globalisasi. Hal ini telah mempengaruhi pola hidup
dan tuntutan kualitas sumber daya manusia (SDM) untuk dapat
mengikuti perkembangan tersebut.
1. Internasional
a. Globalisasi
dunia telah membawa dampak perubahan pada corak dan pola hidup
dan kepentingan masyarakat dunia sebagai akibat dari
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan tersebut
pada gilirannya akan berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan
masyarakat Indonesia dengan segala konsekuensinya.
b. Demokrasi
dan Hak Asasi Manusia (HAM). Perkembangan masyarakat
dunia secara global telah membawa negara-negara Barat ke arah
perubahan yang lebih demokratis dan transparan. Amerika Serikat
yang menganggap dirinya sebagai negara demokrasi dan pahlawan
penegak HAM, telah memainkan perannya dalam percaturan
dunia dengan banyaknya ikut campur masalah-masalah negara
lain termasuk di dalamnya masalah demokrasi dan penegakan
HAM. Hal ini telah membawa konsekuensi terhadap negara-negara
berkembang, termasuk Indonesia yang mau tidak mau ikut bermain
sesuai dengan peran yang sedang dimainkan oleh Amerika Serikat
sebagai negara adi kuasa.
2. Nasional.
a. Perubahan
global yang dramatis telah mendorong bangsa Indonesia untuk
melakukan reformasi secara menyeluruh di segala aspek kehidupan
dengan ditandai adanya berbagai tuntutan seperti demokratisasi,
HAM, Hukum dan termasuk di dalamnya tuntutan terhadap TNI,
khususnya TNI AD untuk melakukan reformasi internal. Akhir-akhir
ini, TNI AD telah menjadi sasaran kritikan dan hujatan oleh
sebagian kelompok masyarakat tertentu yang menganggap
bahwa TNI AD telah banyak melanggar HAM dan tidak demokratis.
b. Tuntutan
kebutuhan dan aspirasi masyarakat semakin berkembang dan meningkat
sehingga menimbulkan berbagai masalah dan tantangan bagi Pemerintah
dalam skala politik dan ekonomi secara luas. Kondisi seperti
ini telah menciptakan suatu tantangan kepada TNI AD sebagai
bagian integral TNI untuk mampu mengatasi kerawanan-kerawanan
yang mengarah kepada instabilitas nasional dan disintegrasi
politik. Oleh karena demikian, prajurit TNI AD dituntut untuk
lebih meningkatkan kepekaan dan kemampuan sesuai bidang
tugas yang diemban demi kepentingan bangsa dan negara.
V. Peningkatan
Profesionalisme Dan Disiplin
Peningkatan profesionalisme dan disiplin prajurit TNI AD pada
memerlukan suatu upaya yang terpadu dan prinsipnya berkesinam-
bungan antara satu unsur dengan unsur lain yang terkait untuk
mencapai sasaran yang diinginkan yaitu prajurit yang profesional
yang dilandasi disiplin tinggi sesuai dengan tuntutan perubahan
lingkungan.Profesionalisme dan disiplin yang merupakan
dua hal penting yang terkait harus dimiliki prajurit TNI AD
dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan apa yang telah tercantum
dalam Ketetapan MPR Nomor VII / 2000 . Kita sadari bahwa proses
pencapaian sasaran selalu mengalami berbagai hambatan. Untuk
mengatasi hal tersebut, maka diperlukan berbagai pemecahan
mulai proses penyediaan tenaga (Diaga), Pendidikan, Latihan,
sampai dengan proses pembinaan di satuan lingkungan TNI AD.
Upaya
yang Dilaksanakan.
1. Aspek
Profesionalisme. Profesionalisme berasal dari kata dasar profesi
yang berarti suatu pekerjaan tertentu yang menuntut suatu
keahlian tertentu dan kualifikasi tertentu melalui jenjang
pendidikan dan pelatihan tertentu sehingga mampu melakukan
jenis pekerjaan tertentu dan oleh karena demikian dibayar
dengan pendapatan tertentu pula. Dengan demikian, profesionalisme
memerlukan adanya suatu kualifikasi (keahlian) yang diperoleh
dari hasil pendidikan dan latihan.
Profesionalisme
memerlukan disiplin, di mana dengan disiplin segala keharusan,
tuntutan dan larangan dapat dipenuhi. Disiplin dan profesionalisme
adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, di mana
antara satu dengan yang lainnya saling mendukung. Di sisi
lain bahwa profesionalisme juga menuntut adanya suatu keahlian
tertentu (Expertise), tanggung jawab (Responsibility) dan
kerjasama (Corporateness) 10). Oleh karena demikian, dapat
kita lihat bahwa peningkatan profesionalisme prajurit dapat
diperoleh dan ditingkatkan melalui suatu pendidikan dan latihan
baik yang bersifat formal maupun informal di lingkungan satuan
TNI AD maupun lembaga pendidikan yang efektif dan efisien
dengan didasari disiplin yang tinggi.
Pembinaan
dan peningkatan profesionalisme prajurit harus dilakukan secara
berkesinambungan melalui suatu sistem dan pola yang beku sesuai
kebutuhan dan tuntutan tugas yang berkembang masa kini (era
reformasi) dan harus dihindari cara-cara yang berorientasi
kepada selera individu (pimpinan). Hal tersebut perlu ditempatkan
dan dikembalikan kepada sendi-sendi yang mendasari tentang
keprajuritan. beberapa langkah yang perlu dipedomani di samping
aspek-aspek lain (secara makro) dalam pembinaan dan peningkatan
profesionalisme prajurit antara lain :
a. Penyediaan
Tenaga (recruitment process). Proses penjaringan personel
yang terarah dan konsisten pada aturan di mana proses seleksi
menjadi sangat penting dan menentukan untuk memperoleh masukan
yang lebih baik dan dan akan sangat berpengaruh terhadap kualitas
hasil pembinaan TNI AD. Oleh karena itu, upaya perbaikan
manajemen operasional dalam proses tersebut harus dilakukan
dengan sebaik-baiknya dengan meninjau kembali kegiatan
administratif proses seleksi pendidikan pembentukan. Stadarisasi
dan persyaratan harus diarahkan pada upaya untuk menjaring
calon yang lebih baik dan dapat dipertanggung jawabkan
di lapangan. Mengingat perkembangan teknologi
yang menuntut sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas, bahwa
perlu dipertimbangkan penjaringan calon prajurit
(raw input) yang berpendidikan memadai dan potensi untuk dikembangkan
serta melihat aspek psikologi dan kategori kepribadiannya
yang dewasa.
b. Pemanfaatan
dan penguasaan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta sarana informasi lain yang dapat digunakan
dalam mendukung peningkatan profesionalisme prajurit.
Dengan kata lain bahwa profesionalisme prajurit akan meningkat
karena interaksi kondisi lingkungan yang kondusif dengan adanya
niat dan motivasi prajurit untuk lebih maju.
c. Unsur
pimpinan satuan TNI AD sebagai pengguna hasil didik dan latihan
di lembaga pendidikan untuk melanjutkan dan meningkatkan ketrampilan
prajurit melalui pendidikan dan latihan dalam satuan baik
terprogram maupun sesuai kebutuhan.
d. Lembaga-lembaga
pendidikan dan latihan yang merupakan sumber dan wadah untuk
membentuk dan mengembangkan serta melatih dasar-dasar ketrampilan
prajurit sesuai bidang perlu ditata kembali agar dapat menciptakan
out put hasil didik yang profesional dengan pemenuhan sarana
dan prasarana yang diperlukan secara efektif dan efisien.
Proses pendidikan dan latihan ini merupakan suatu tahapan
dalam siklus pembinaan TNI AD untuk menyiapkan prajurit yang
profesional di bidangnya untuk dihadapkan pada lapangan
penugasan. Oleh karena demikian, fungsi dan peran
guru/pelatih menjadi sangat penting harus diambil dan prajurit
yang terpilih dan profesional.
e. Untuk
dapat berbicara di lingkungan global sesuai dengan perkembangan
dunia, perlu bagi prajurit TNI AD untuk diberikan kesempatan
yang lebih luas untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya
melalui pendidikan dan latihan di luar TNI AD baik di dalam
maupun di luar negeri.
f. Penggunaan
personel melalui sistem TOA (Tour Of Area) dan TOD (Tour Of
Duty) yang tepat dan memadai. Sistem ini merupakan sistem
penugasan bagi personel militer, yang merupakan variasi dari
bidang penugasan atau alih tugas. Hal ini diharapkan prajurit
akan memperoleh suatu wawasan dan cakrawala pandang yang luas
serta mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan
ketrampilan keprajuritan sesuai dengan bidang dan lapangan
penugasan
2. Aspek
Disiplin. Disiplin (discipline) yang merupakan suatu ketaatan
dan kepatuhan terhadap suatu norma, hukum ataupun ketentuan-ketentuan
lain yang berlaku harus dilakukan atas dasar kesadaran untuk
melakukan sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawabnya
sebagai prajurit TNI AD. Dengan kata lain bahwa prajurit harus
mampu mengendalikan diri 11) untuk selalu melaksanakan semua
aturan yang berlaku tanpa ada paksaan dan harus tetap berpedoman
pada sendi-sendi Sapta Marga dan Sumpah Prajurit 12).
Namun
demikian, dalam upaya untuk mendapatkan prajurit yang berdisiplin
tinggi perlu suatu dorongan baik dari individu prajurit (internal)
maupun dari luar (eksternal). Dorongan kuat dari dalam timbul
dari adanya suatu kesadaran individu yang kuat tentang disiplin
itu sendiri. Hal ini memerlukan suatu peran pimpinan (power)
dalam suatu lingkungan tertentu dalam menciptakan kondisi
yang menuntut adanya kesadaran dari prajurit melakukan perbuatan
sesuai aturan yang berlaku. Sehingga diri prajurit akan mendapatkan
out put rasa aman dan nyaman dalam melaksanakan tugasnya.
Sedangkan dorongan kuat dari luar timbul sebagai akibat dari
pengaruh luar baik dari unsur pimpinan maupun lingkungan.
Untuk
menghindari adanya konflik-konflik internal dan eksternal
sebagai akibat dari adanya disiplin kaku (mati), perlu adanya
suatu kemampuan dalam kepemimpinan dari unsur pimpinan untuk
menciptakan kondisi rasa aman dan nyaman dari prajurit
untuk melaksanakan tugasnya atas dasar keyakinan akan kebenaran
sesuai aturan yang berlaku dengan memberikan toleransi, ruang
gerak, inovasi dan kreasi dari prajurit, sehingga akan tercipta
suatu disiplin yang luwes (fleksibel). Ada beberapa langkah-langkah
lain yang dapat ditempuh secara teratur dan berkesinambungan
sesuai dengan norma-norma dasar keprajuritan antara lain :
a. Penanaman
kesadaran prajurit akan pentingnya disiplin dalam kehidupan
keprajuritan dan kemasyarakatan yang mensyaratkan prajurit
akan selalu menjadi contoh dan teladan bagi lingkungan masyarakat.
b. Pemberian
pemahaman (sosialisasi) aturan-aturan yang berkaitan
dengan disiplin keprajuritan yang berlaku terhadap prajurit
dan keluarga dengan dibarengi adanya suatu penghargaan dan
hukuman (reward and punishment).
3. Aspek
Kepemimpinan. Peningkatan kualitas kepemimpinan memiliki peran
yang penting dan menentukan karena berfungsi sebagai titik
sentral dalam upaya pembinaan. Oleh karena demikian, maka
upaya dapat diarahkan dengan cara meningkatkan pemahaman bagi
seluruh pelaku manajemen di lingkungan TNI AD. Dalam mendukung
efektifitas fungsi dan peran komando, maka pembinaan prajurit
harus dikembangkan berdasarkan golongan baik Perwira, Bintara
maupun Tamtama untuk meningkatkan fungsi dan peran masing-masing,
yaitu melalui : rumusan fungsi yang jelas, tugas dan tanggung
jawab serta kewenangannya serta mengembangkan
pendidikan yang bersifat pengembangan umum dalam
system pendidikan sesuai golongan. Karena itu, pola karir
prajurit TNI AD harus mengarah pada pembentukan profesionalisme.
4. Aspek
Kesejahteraan. Aspek ini mempunyai pengaruh langsung terhadap
upaya peningkatan profesionalisme, disiplin serta motivasi
dan kejuangan prajurit. Perhatian dan tindakan yang sungguh-sungguh
dalam memecahkan masalah kesejahteraan akan menentukan
pencapaian upaya tersebut. Aspek kesejahteraan prajurit pada
dasarnya menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan
kehidupan prajurit dan keluarga. Oleh karena itu, dapat dikembangkan
cara-cara untuk meningkatkan aspek kesejahteraan melalui upaya-upaya
perbaikan dan pemenuhan akan kebutuhan mendasar prajurit,
penyediaan sarana dan prasarana umum serta perbaikan lain
yang mendukung langsung moril dan kesejahteraan prajurit sesuai
dengan kemampuan.
VI. Penutup
1. Kesimpulan
a. Gerakan
back to basics merupakan langkah awal dalam upaya pencapaian
tujuan pembinaan TNI AD dalam penciptaan prajurit yang profesional
dengan dilandasi disiplin yang tinggi. Hal ini dimaksudkan
untuk mengembalikan jati diri prajurit profesional dengan
dilandasi disiplin yang tinggi sebagai akibat dari adanya
degradasi dan deviasi yang terjadi serta akibat dari pengaruh
perubahan lingkungan.
b. Perkembangan
lingkungan saat ini telah menciptakan suatu tantangan yang
harus dihadapi oleh prajurit TNI AD. Hal ini telah membawa
implikasi berupa tuntutan dan tantangan bagi prajurit TNI
AD untuk meningkatkan profesionalisme dan disiplin prajurit
sehingga memiliki tingkat kesiapan yang tinggi serta mampu
dihadapkan pada tantangan tugas yang semakin kompleks.
c. Pembinaan
TNI AD lebih diarahkan kepada pencapaian profesionalisme secara
individu maupun organisasi, yang dimulai dari proses penyediaan
tenaga (recruitment) sampai dengan proses pembinaan (diaga,
pendidikan, penggunaan dan pemisahan)
2. Saran
Untuk
mencapai profesionalisme prajurit TNI AD dengan dilandasi
disiplin yang tinggi, maka perlu :
a. Penataan Doktrin yang tepat.
b. Penyiapan SDM.
c. Penataan Organisasi Militer yang disesuaikan dengan Tupok.
|