KEDOKTERAN MILITER KEMBALIKAN JATI DIRI RSPAD
SEBAGAI RUMAH SAKIT PRAJURIT


Pengantar Redaksi :
Seiring dengan tugas-tugas TNI AD yang demikian dinamis, ditambah penanganan daerah konflik yang memerlukan kesiagaan setiap prajurit yang bertugas operasi, baik di garis belakang maupun langsung terjun di medan tempur demi menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konsekuensi logis dari penugasan itu adalah adanya korban yang jatuh yakni prajurit korban pertempuran langsung maupun korban yang lain, yang justru mengakibatkan cacat dari prajurit bahkan resiko kehilangan nyawa.

Untuk itulah redaksi menampilkan Instalasi Kedokteran Militer RSPAD Gatot Soebroto yang menangani langsung korban tempur berikut segala resiko yang bakal menimpa prajurit melalui wawancara redaksi (sebelum bergeser ke jabatan baru) dengan Ka RSPAD Gatot Soebroto Brigjen TNI Dr. Buddy H.W. Utoyo seperti dirangkai dalam bentuk tanya jawab berikut ini :

Yudhagama : Latar belakang apa yang menyebabkan Instalasi Kedokteran Militer RSPAD didirikan?
Ka RSPAD : Peran Kesehatan TNI AD dalam rangka penggunaan kekuatan TNI AD lebih dikenal hanya pada satuan kesehatan lapangan yang “bergerak” secara langsung mendukung dan berada bersama satuan induknya, peran Rumkit TNI AD dalam rangka penggunaan kekuatan/operasi militer kurang dikenal dan kurang menonjol, korban tempur yang dikirim ke Rumkit TNI AD sering “hilang” karena hanya dianggap sebagai kasus medis biasa disamakan dengan kasus kecelakaan pada umumnya misalnya kecelakaan lalulintas, dalam suatu mandala operasi Rumkit TNI yang berada pada lini-lini daerah operasi yang didesain dalam satu rantai evakuasi harus dipandang sebagai bagian dari Satuan Kesehatan Lapangan yang “stationer” sehingga korban tempur yang dievakuasikan ke Rumkit TNI AD tetap berada dalam satu kelompok dengan pananganan khusus dan tetap berstatus “prajurit dalam satuan operasi” statusnya belum dikembalikan kepada Pembina Kekuatan. Inilah yang melatarbelakangi mengapa Unit Dokmil RSPAD dibentuk.
Sebenarnya Unit Kedokteran Militer bukan kegiatan baru, pada dasarnya semua Rumkit TNI AD adalah “Unit Kedokteran Militer” karena RS TNI AD didirikan untuk kepentingan TNI AD, hal ini ditunjukan mengapa dislokasi Rumkit TNI AD digelar sesuai dengan dislokasi pasukan di seluruh Kodam dan Lembaga Pendidikan TNI AD, hilangnya peran ini karena Rumkit hanya dipandang sebagai pelayanan kesehatan umum seperrti Rumah Sakit Umum, jadi kurang tepat bila dikatakan baru didirikan, lebih tepat dikatakan Unit Kedokteran Militer RSPAD adalah “kembalinya jati diri RSPAD” sebagai bagian dari pelaksanaan Tugas Pokok Kesehatan TNI AD dalam rangka mendukung Tugas Pokok TNI AD.

Yudhagama : Bidang spesialisasi apa saja yang ada dan sejauh mana manfaat keberadaannya bagi prajurit?
Ka RSPAD : Pada prinsipnya semua bidang spesialisasi kedokteran yang berhubungan langsung dengan kasus-kasus cedera tempur dan cedera latihan digunakan untuk penanganan korban tempur dan cedera latihan, misalnya trauma pada kepala akan ditangani oleh dokter ahli bedah syaraf, trauma pada mata akan ditangani oleh dokter ahli mata, dari penelitian kasus-kasus korban tempur ditemukan 60 % adalah trauma muskulo skeletal (trauma lengan, kaki dan tulang punggung) sehingga dokter ahli bedah orthopedik, bedah syaraf dan ahli rehabilitasi medik lebih dominan dalam penanganan korban tempur, 70 % terkena gangguan stress pasca trauma (War Neurosis) maka dokter ahli jiwa juga menjadi dominan. Manfaatnya keberadaan Unit Dokmil bagi prajurit tentu saja pertama, penanganannya menjadi paripurna karena ditangani oleh dokter ahli yang kompeten di bidangnya, kedua perhatian dan perlakuan khusus menyebabkan perlu dilakukan penelitian sebab-sebab terjadinya korban tempur dan latihan sebagai bahan masukan ke pimpinan TNI AD, perhatian khusus juga membuat kita selalu berfikir apa yang terbaik untuk mereka.

Yudhagama : Apakah melibatkan pihak luar dalam pengelolaan Unit Dokmil ini?
Ka RSPAD : Kegiatan dan pengelolaan serta management Unit Dokmil adalah kegiatan rutin yang tidak melibatkan pihak luar, secara struktur unit ini dipimpin oleh kepla Unit Kedokteran Militer yang langsung dikendalikan oleh Ka RSPAD dibantu Staf terkait.

Yudhagama : Sejauh ini apa saja yang telah dilakukan Unit Dokmil bagi para korban tempur?
Ka RSPAD : Pada awal dibentuknya Unit ini korban tempur dikelompokan pada satu lantai di lantai 6 perawatan bedah dan ditangani oleh para dokter spesialis dan perawat sesuai bidangnya, dengan semangat dan keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi para korban tempur didukung dengan evaluasi dan penelitian maka unit ini berkembang terus seiring dengan kemajuan teknologi kedokteran, sampai dengan saat ini Unit Dokmil telah memberikan kepada para korban tempur sebagai berikut :

- Rehabilitasi ruang dan alat peralatan perawatan yang lebih memadai.
- Perhatian khusus dari pimpinan dan staf RSPAD berupa kunjungan pada
kesempatan pertama pasien masuk, pemberian paket simpati, kunjungan/visite
besar (lengkap dengan seluruh dokter spesialis) setiap 2 minggu sekali.
- Kunjungan periodik dari Bintal RSPAD dan Disbintalad.
- Tindakan spesialistik yang paripurna sesuai bidangnya dari para dokter spesialis.
- Alih teknologi kedokteran dari dokter spesialis Luar Negeri.
- Kunjungan para pimpinan/komandan satuan sampai dengan Kasad menjadi lebih
terfokus.

Yudhagama : Dukungan, baik peralatan maupun dana didapat dari mana saja dan apakah telah dapat memenuhi kebutuhan Unit Dokmil ini?
Ka RSPAD : Sementara ini dukungan dan dana serta peralatan disiapkan dan diadakan dari program dan anggaran rutin pembinaan kesehatan/pembinaan kekuatan TNI AD (Rutin Bantuan Kesehatan dan Dana Pemeliharaan Kesehatan) disamping dukungan khusus dari Kasad dan Yayasan kartika Eka Paksi serta hasil Yanmasum, sampai dengan kebutuhan yang optimal cukup memadai namun untuk memberikan yang terbaik seiring dengan kemajuan teknologi kedokteran perlu dukungan yang cukup besar, khususnya bidang spesialisasi bedah orthopedi dan rehabilitasi medik. Dilihat dari status prajurit masih dalam rangka penggunaan kekuatan seyogianya dukungan peralatan, dana perawatan, ULP, BPD evakuasi disiapkan oleh pengguna kekuatan dalam hal ini Puskes TNI/Mabes TNI.

Yudhagama : Bagaimana dengan SDM yang mengawakinya?
Ka RSPAD : Sampai dengan saat ini SDM yang mengawaki baik kuantitas maupun kualitas cukup memadai, namun kembali lagi dihadapkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran dalam penanganan korban tempur, saya tidak akan pernah puas, RSPAD akan terus berupaya dalam segala aspeknya untuk berbuat yang terbaik untuk korban tempur maka dengan peningkatan teknologi kedokteran kualitas SDM tentu harus ditingkatkan.

Yudhagama : Adakah kerja sama dengan pihak luar, kalau ada dalam bentuk apa dan manfaat apa yang dapat dipetik?
Ka RSPAD : Kerja sama dengan pihak luar yang secara langsung menangani korban tempur adalah dalam rangka alih teknologi kedokteran bidang spesialisasi bedah orthopedik yaitu dengan dokter-dokter ahli bedah orthopedik dari negara Turki, dengan penerapan metode “Circular Fixation Ilizarof”, teknik dan metode ini banyak dipakai pada korban tempur prajurit Negara Rusia, metode ini sangat bermanfaat bagi korban tempur karena tulang yang patah atau hancur dapat diluruskan atau dipanjangkan kembali seperti sedia kala dan selama penggunaan fiksasi ini pergerakan lengan atau tungkai lebih leluasa dari pada metoda fiksasi yang lama.

Yudhagama : Dapatkah dijelaskan pemilihan masing-masing katagori korban tempur dan bentuk pelayanan perawatannya yang diberikan kepada mereka?
Ka RSPAD : Prinsipnya mereka yang cedera karena melaksanakan surat perintah Panglima TNI dalam melaksanakan operasi atau tugas-tugas khusus, dikatagorikan sebagai korban tempur, mereka yang cedera dalam melaksanakan pendidikan dan latihan militer dengan surat perintah Kasad atau latihan dalam satuan dengan surat perintah komandan Satuan dikatagorikan sebagai korban cedera latihan yang seluruhnya ditampung di Unit Dokmil RSPAD. Bila dilihat dari sebab terjadinya korban di daerah operasi yang dievakuasikan ke RSPAD dapat dibedakan sebagai berikut :
Ø Korban tempur akibat kontak langsung dengan pihak lawan di daerah tempur depan.
Ø Korban tempur akibat kontak tidak langsung di daerah tempur depan misalnya akibat ranjau.
Ø Korban tempur akibat kecelakaan di daerah tempur depan atau di daerah tempur belakang.
Ø Korban tempur akibat kelainan atau keteledoran baik di daerah tempur depan maupun di daerah tempur belakang.

Dari kelima proses kejadian sebenarnya hanya point pertama yang merupakan risiko murni pertempuran sisanya lebih diakibatkan karena kuranya kewaspadaan atau kelalaian, korban cukup banyak saat patroli atau saat istirahat. Sesuai dengan amanat Kasad korban tempur bukan karena kehebatan pihak lawan namun karena kurangnya Pengetahuan Dasar Kemiliteran. Namun semua korban bagi RSPAD tetap dikelompokan sebagai korban tempur karena motivasi mereka yang sama membela kedaulatan negara.

Yudhagama : Apakah ada upaya untuk mengembangkan unit Dokmil ini ke Rumah Sakit selain RSPAD.
Ka RSPAD : Sesuai dengan petunjuk Dirkesad, Unit Dokmil mutlak harus ada di seluruh Rumkit TNI AD mulai Rumkit TK. IV sampai dengan Rumkit TK. I yang besarnya disesuaikan dengan tingkat Rumkitnya. Dengan kewajiban penanganan korban tempur dan latihan militer, serta evaluasi dan monitoring terhadap korban tempur yang telah direhabilitasi dan dikembalikan dari RSPAD ke daerah. Khusus RSPAD melaksanakan supervisi ke Unit Dokmil di Rumkit-rumkit TNI AD.

Yudhagama : Bagaimana harapan dan obsesi dokter ke depan tentang keberadaan Unit Dokmil ini di RSPAD.
Ka RSPAD : Unit Dokmil dengan segala pendukungnya adalah fokus dari kegiatan di RSPAD dan Rumkit TNI AD dengan harapan kegiatan spesialisasinya maupun pendukung medisnya menjadi unggulan RSPAD khususnya dan Rumkit TNI AD umumnya, unggulan ini membedakan RS TNI AD dengan Rumah Sakit lain, dan diharapkan citra dan jati diri Rumkit TNI AD berkembang dari unit ini. Selanjutnya diharapkan unit ini menjadi lahan penelitian bagi kasus korban tempur dan kecelakaan latihan militer sebagai bagian dari Military Health dan Kesehatan Matra Darat.

Yudhagama : Mungkin ada pesan khusus atau himbauan untuk para prajurit dengan adanya Unit Dokmil ini.
Ka RSPAD : Salah satu keberadaan Kesehatan TNI AD adalah untuk meningkatkan moril prajurit yang berdampak pada moril Satuan tempur agar daya tempur tetap tinggi dan terpelihara, maka himbauan saya untuk prajurit di daerah operasi agar jangan khawatir sekali lagi jangan khawatir baik bagi prajurit dan keluarganya, RSPAD dan seluruh Rumkit jajaran TNI AD akan senantiasa memprioritaskan serta mengutamakan seandainya anda harus menjadi korban dari suatu tugas yang suci, membela kedaulatan bangsa dan negara. Selanjutnya agar tetap waspada, pelihara dan pegang teguh pengetahuan dasar kemiliteran dalam setiap gerak langkah di daerah operasi agar korban menjadi seminimal mungkin. (YO)


Copyright ©2003 Dispenad, Jakarta-Indonesia. All rights reserved.
Webmaster: Dispenad.

Jalan Veteran Nomor 5 Jakarta Pusat